Kembali ke masa sekarang, di kamar kos ukuran 3x3m ini, setelah jauh tenggelam dalam lamunan masa lalu di kampus, aku mengepalkan tangan, lalu menatap tulang pada buku jari-jariku, bekasnya masih meninggalkan warna hitam kusam seakan abadi sebagai cerita yang selalu terkenang selama masih terlukis di tulang buku jariku. Kami menyebutnya sebagai ‘cincin taruna’. Dulu, saat dikampus, senior kami bilang, itu adalah kenang-kenangan dari mereka. Kebanggaan bagi seorang taruna. Kulit kapalan pada buku jari yang mereka sebut cincin taruna didapatkan dari hasil hukuman push-up kepal di atas aspal kasar. Bertahun-tahun menjalaninya, membuat jaringan kulit beradaptasi menjadi lebih tebal lalu menghitam. Sejak malam penyambutan itu, rupanya menjadi sebuah kebiasaan para senior maupun pengasuh untuk menghukum kami dengan cara demikian.
***
Aku kembali teringat Jono. seorang rekan dengan perawakan agak gempal dan wajah yang bertabur jerawat yang setiap hari pasti selalu ada saja yang pecah. Kami menjadi saksi bahwa betapa beratnya tanggung jawab dia selama tiga bulan masa orientasi. Porsi hukuman lebih dari kami, jam tidur paling terlambat, semua kesusahan tertuju padanya.
Aku melihatnya sebagai anak yang lumayan cari perhatian. Dari hari pertama, selalu saja dia yang sibuk ingin tampil menunjukkan kebolehannya. Mengajukan dirinya sendiri untuk memimpin kegiatan makan, hingga memimpin yel-yel disela jam istirahat setelah melakukan kegiatan. Karena itu, dia seringkali kelihatan berbesar kepala dan bersikap sok ngatur, nada bicara kadang meninggi seakan posisinya di atas dan lebih senior dari pada kami. Di tambah lagi Komandan Subarun mempercayakan Jono untuk menjadi Komandan Batalion catar untuk sementara waktu sampai waktu pelantikan tiba yang kian membuatnya kadang terlihat pongah.
***
Usai apel pertama bersama para senior, rekan-rekan sering membahas keinginan mereka untuk menjadi Pejabat Batalion. Bagi mereka, tali komando tampak begitu gagah saat dipadukan dengan pakaian dinas. Di sisi lain, aku menilai Jono sudah pasti akan mendapatkan posisi Pejabat Resimen setelah pelantikan nanti. Begitulah penilaian pribadiku, sebab meski ditempa dengan keras oleh senior, kami tetap saja sering ‘petantang-petenteng’ dalam urusan dinas dalam. Sulit memang memilih siapa yang paling cocok dijadikan pemimpin. Tak layak bila seorang yang gemar cengengesan menyandang tali kur, bisa-bisa hilang semua wibawa taruna.
Hari pertama orientasi, kami mulai diperkenalkan dengan kehidupan kampus oleh beberapa senior tingkat dua. Salah satunya bernama Nakon, Komandan Batalion tingkat dua. Tubuhnya tinggi, besar, dan hitam legam. Ia selalu menjaga garis bibirnya agar tidak pernah tersenyum di depan kami.
Dari sekian banyak aturan kampus yang diajarkan dalam orientasi, ada beberapa hal yang benar-benar harus diterapkan demi keselamatan kami sendiri. Pertama, catar tidak boleh tersenyum. Kedua, tidak boleh ‘cepu’ (mengadu). Ketiga, jika tingkat tiga dan tingkat empat meminta bantuan, dahulukan tingkat empat, begitu pun untuk urutan tingkat di bawahnya. Terakhir dan yang paling utama: jangan sesekali berbuat masalah dengan tingkat empat dan tingkat tiga. Sebab, masalah yang dibuat tingkat satu adalah ‘dosa’ yang harus dibayar oleh tingkat dua selaku senior langsung tepat di atas kami.
***
Bel apel malam berbunyi.
Semua angkatan berbaris untuk mendengarkan arahan apel malam yang disampaikan Subarun. Masing-masing Komandan Batalion maju ke depan melaporkan jumlah pasukan Batalion yang dibantu Danton untuk memeriksa jumlah pasukan. Semuanya lengkap beserta dengan jumlah senior yang melaksanakan piket jaga pos.
Sebelum meninggalkan lapangan merah, entah sebab apa, tiba-tiba tingkat empat dihukum push-up. Suara hitungan mereka kompak, keras, dan menggema hingga menggetarkan kaca gedung utama. Hitungan itu lebih mirip teriakan yang berbalut kekesalan karena dihukum. Dalam bingkai pemandangan itu, tingkat tiga dan tingkat dua tertunduk serendah mungkin hingga wajah mereka tenggelam oleh dada. Lantas, kami para catar masih memandangnya lamat-lamat.
Setelah apel malam usai, mulai dari tingkat empat, disusul tingkat tiga dan dua meninggalkan lapangan apel menuju asrama dengan bernyanyi lagu apel malam. Suara yang senada dan seirama serta kaki yang bergerak serentak memberikan energi setelah lelah menjalani aktivitas.
Malam hari sebelum chaos
Sekitar pukul 01.00 dini hari, aku terbangun dari tidur sebab rasa ingin buang air kecil. Ketika berjalan di lorong toilet barak, aku mendapati seseorang sedang menangis tersedu-sedan. Saat kudekati, ternyata ia adalah Jono, sang Komandan Batalion sementara di angkatan kami.
“Ada apa, Jon?” tanyaku sambil memegangi punggungnya.
“Tidak kuat aku, Wan,” jawabnya parau.
“Kenapa? Belum satu bulan kok sudah bilang tidak tahan.”
“Lupakan jadi ASN. Keselamatanku jauh lebih berharga. Mau kabur saja aku, mungkin besok malam.”
“Udara dan jelaga kota ini sepertinya sudah merusak otakmu. Kau mau kabur lewat mana? Kampus kita dikelilingi rawa dan hutan gambut. Senior tidak lebih menyeramkan dari buaya atau ular piton!” Aku kesal sebab ia malah makin kencang merengek.
“Tapi, Kak Nakon lebih menyeramkan dari buaya dan ular. Kau tahu? Selepas apel tadi dadaku rasanya hampir remuk dipukul tangannya yang sebesar gelondongan kayu itu. Dan nanti, pukul 02.00 dini hari aku harus membangunkan kalian semua. Malam ini akan panjang. Aku tidak bisa tidur memikirkannya.”
Jantungku mulai berdebar. Aku makin cemas mendengar kesaksian yang meluncur dari mulut Jono. Tangisannya itu bukannya membuatku turut prihatin, melainkan ikut ketakutan akan hal apa yang akan terjadi sebentar lagi. Lengan Kak Nakon besar dan berotot, bentuknya mirip palu gada dewa Ganesha dengan bisep keras dan berurat. Siapa pun pasti akan terpental jika dihantam olehnya.
Mengetahui hal itu lebih awal, aku berinisiatif membantu Jono membangunkan rekan-rekan yang masih tertidur pulas. Kami membangunkan mereka dari setiap ruangan dan setiap ranjang.
Tak lama berselang, setelah semuanya bangun dan berkumpul di lorong selasar asrama yang hanya diterangi lampu kuning ukuran lima watt—yang membuat suasana terasa sepia serta mencekam—rombongan senior datang dari lantai satu dengan wajah gahar tanpa menunjukkan sisi keramahan sedikit pun. Mereka tampak sengaja tidak tidur hanya untuk menunggu saat ini.
Yang pertama kali mereka cari adalah Jono dan Tigor. Lalu, mereka berdua berdiri di tengah dan menghadap ke arah senior tingkat dua itu.
“Belum kering mulutku. Padahal semalam sudah bilang, jangan ada yang senyum-senyum di barisan, terutama taruni! Kami tidak butuh senyuman kalian. Lalu, kalian memang tidak memiliki adab sama sekali ketika melihat senior dihukum. Kami semua menunduk ketika tingkat empat sedang dihukum, dan kalian malah mendongak, melihatnya dengan tatapan polos. Ada pula yang cengar-cengir di belakang sana!” bentak Kak Nakon.
“Dengar! Ini untuk terakhir kalinya. Jika ada salah satu angkatan kalian yang bermasalah, maka Jono yang akan menanggung kesalahannya lebih parah. Biar kalian pikir-pikir lagi kalau mau bikin gerakan tambahan!” pungkas Kak Nakon. “Kunci perut!”
Perintah Kak Nakon itu menjadi tanda bagi Jono agar segera mengeraskan otot perutnya.
“BUGHH!”
Lengan besar itu mendarat tepat di ulu hati Jono. Ia masih bisa berdiri menahan pukulan tersebut. Lalu, senior yang lain turut menimpali dengan pukulan demi pukulan yang menghujam Jono dan Tigor. Perut, rahang, bahkan kaki pun tak lepas dari serangan brutal mereka. Setelah cukup lama menjadi samsak hidup, Jono dan Tigor akhirnya tersungkur dan melipat tangan di atas perut mereka. Yang demikian membuat amarah senior mereda.
Tidak ada yang bisa kami lakukan malam itu. Pemandangan yang membuat kami bergidik ngeri serta suasana gelap dan suram menambah suasana nyaris seperti pembantaian G30S/PKI.
“Sekarang giliran kalian! Masuk ke barak masing-masing!”
Kami bergegas menaiki tangga dan meninggalkan Jono serta Tigor yang masih terkapar di lantai. Di ruangan itu, kami berbaris melingkar membuat tiga lapis barisan dan secara bergantian menunggu giliran eksekusi.
Dari ujung sana, mereka bergantian menghujamkan pukulan ke ulu hati. Ada juga yang menghantam wajah kami dengan tamparan. Ada pula yang tidak ingin repot membuat tangannya sakit dengan menggunakan gantungan baju yang rasanya dua kali lebih pedas bak terkena satu ember rendaman cabai rawit. Begitulah kami menjalani malam mencekam itu. Terlintas sejenak di pikiran; Barangkali kami akan cacat atau malaikat maut sudah bersiap mengambil kami malam itu.
Namun, ketika malam suram itu terjadi, bukan berarti semuanya terasa mencekam. Masih ada sisi humor yang sebagian dari kami dapatkan. Melihat wajah cemas dan pucat pasi rekan-rekan malam itu—percayalah, esok harinya selalu saja ada bahan candaan. Contohnya, ketika Fay tanpa sengaja mengeluarkan bunyi “ngik” saat perutnya dipukul. Seseorang membahasnya saat waktu senggang olahraga sore, “Tadi malam, pas Fay dipukul, tikus dalam perutnya sampai ikut berbunyi ngik!”
Lelucon itu pun disambar dengan ledakan tawa kami semua. Aneh, bukan? Mengapa demikian itu lucu bagi kami? Entahlah sulit untuk dijelaskan. Namun, begitulah adanya. Pendidikan di sini membuat kami mampu menjadikan kesengsaraan sebagai lelucon. Bahkan hingga lulus pun, hal itu akan tetap menjadi kisah lucu, walaupun sebenarnya itu adalah kisah yang mengerikan.
Malam itu, secara bergantian kami mendapatkan “salam olahraga” dari senior. Posisiku terletak paling awal di barisan depan. Nafsu dan tenaga mereka masih segar-segarnya untuk menjadikan kami samsak hidup dengan menghujam perut dan menampar wajah hingga penglihatan kami kabur dan telinga berdenging selama beberapa detik.
Sebelum meninggalkan barak, Kak Nakon memberikan secarik kertas yang berisi nama seluruh senior tingkat empat hingga tingkat dua untuk kami hafali. “Dengar, ini ada catatan nama-nama senior dari tingkat empat sampai tingkat dua. Kalian hafali! Kalau sampai salah satu dari kalian tidak hafal saat ditanya senior, malamnya kita ‘main’ lagi!”
Catatan itu diberikan kepada Tigor yang masih gamang terkulai di atas lantai. Saat itu juga, kami tidak tidur demi menyalin nama-nama tersebut ke dalam buku saku untuk kami hafalkan setiap saat. Bahkan, di sela waktu belajar di kelas pun kami semua sibuk komat-kamit bak merapalkan mantra dengan mata mendelik ke atas berupaya memasukan semua nama-nama senior yang bahkan wajahnyapun tidak kami ketahui.
Setelah melaksanakan apel pagi, rata-rata mata kami lebam karena kurang tidur. Pagi itu, Subarun dibantu beberapa senior menyampaikan materi baris-berbaris. Kami belajar di bawah terik matahari sekitar tiga jam lamanya. Matahari menunjukkan keperkasaannya dengan membakar kulit kepala kami yang plontos tanpa ampun. Seperti biasa, Fay yang melekat erat dengan kebiasaan mengeluhnya, tampak menularkan kebiasaan itu kepada Peni.
“Aih, Subarun ini memang gaada otak. Dia pikir kita ini ikan asin, Apa?” Gerutu Fay.
“Asli, Boi. Sudah tua mending urus bonsai saja. Tak usah panas-panasan begini. ” Balas Peni.
“Tahan dulu ngeluh, kalau dia dengar, merayap lagi nanti kita. Mending jadi ikan asin daripada jadi biawak siang bedengkang begini” Sahutku.
Kami bertiga memang suka mengeluh. Kebiasaan mengeluh bagi kami tak khayal lama-lama bisa menjadi hobi. Seperti kata Buya Hamka, “Air berkumpul dengan air dan minyak berkumpul dengan minyak, begitupun manusia, berkumpul dengan watak dan tabiat yang sama.”
Kami berasal dari daerah yang berbeda, dengan logat dan bahasa daerah yang berbeda pula. Fay dengan logat Melayu Palembang yang khas—nada bicaranya selalu meninggi di akhir kata. Kalau dia mengeluh dengan cara dan logatnya yang kental, keresahannya itu mampu kami rasakan pula. Seakan logat Melayu Palembang memang diciptakan Tuhan untuk berkeluh kesah. Begitu juga Peni, nada bicaranya mendayu khas logat orang Melayu Kepulauan Riau dan Belitung. Bercakap dengan Peni serasa bercakap dengan Atok Dalang dalam serial kartun Upin & Ipin.
Di tengah latihan, akhirnya Subarun si tentara memberi arahan untuk beristirahat dengan syarat: tetap duduk di tengah lapangan dalam barisan rapi sambil mendengarkan ocehannya. Terdengar sia-sia, mengingat pagi menjelang siang itu terasa begitu menyengat, ditambah lagi sisa kabut dari kebakaran hutan gambut di pinggiran kota.
Makin ke sini, kami sadar jika Komandan Subarun memang hobi bicara. Ia tahan berdiri dua jam penuh tanpa bergerak sedikit pun untuk memberikan ocehan yang pembahasannya sering kali berputar tentang itu-itu saja. Niat betul memang dia membuat kami dongkol serta menguji kesabaran kami. Namun, terkadang kebiasaannya yang sering berlama-lama mengoceh di lapangan apel ini memberikan manfaat tersendiri bagi kami—terutama yang masih junior. Sering kali saat apel pagi, kami terselamatkan dari senior yang telah bersiap memberikan ‘salam olahraga’ di barak sebelum kami melaksanakan makan pagi.
Ocehan Subarun hanya lewat begitu saja di telingaku. Mataku justru terpaku pada barisan belakang, di mana beberapa catir tampak asyik dengan kesibukan yang ganjil. Jemari mereka lincah mengelupasi jaringan kulit kepala para catar yang mati terpanggang matahari. Serpihan jaringan putih yang terangkat itu menyisakan pola abstrak—mirip retakan cangkang kura-kura di atas kulit kepala yang memerah.
Bagi mereka, aktivitas itu seolah candu, semacam kepuasan saat berhasil memencet jerawat matang di ujung hidung. Ada binar riang saat kepingan kulit itu berhasil mereka kupas.
“Boi, lihat nah. Jorok sekali.” celetuk Peni sambil mengernyitkan dahi.
Fay hanya melempar senyum getir. “Bilang saja kau iri, Pen.”
“Aih, mana ada hal menjijikkan begitu bikin iri!” sergah Peni cepat, meski matanya tetap tak lepas memperhatikan.
Aku terkekeh pelan. “Jangan salah, kawan. Momen kecil sesederhana itu bisa jadi gerbang awal perjalanan cinta seseorang.”
“Betul, betul.” sahut yang lain menimpali. “Mungkin suatu saat mereka akan bercerita pada anaknya: Begitulah, Nak, Ayah dan Ibu pertama kali bertemu.”
“Ahaiiiii!” tawa kami pecah seketika, memecah ketegangan di bawah langit lapangan merah yang masih membara. Tak lama, lengkingan bel apel siang memutus tawa kami.
Langkah kami kemudian diarahkan menuju auditorium untuk berteduh sembari mengantre giliran makan. Udara sejuk ruangan itu akibat AC 10 PK menyambut kulit kami yang kepanasan. Interiornya menyerupai bioskop; deretan kursi yang tersusun rapi meninggi, menghadap panggung utama di dasar ruangan. Kami pun melepas lelah di sana, saling melempar cerita. Namun, di tengah obrolan ringan itu, tiba-tiba....
“Perhatian rekan-rekan calon taruni, siapa yang tadi pagi sekitar pukul 04.45 ketahuan senior tingkat tiga meminjam gawai dari security yang sedang berjaga di pos jaga?” Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Jono yang muncul dari pintu belakang auditorium. Wajah sebelah kirinya bengkak dengan kedua mata yang bengap. Ruangan tersebut hening seketika, tidak ada yang menjawab.
“Ya, saya tahu, mustahil kalian akan mengaku. Saya mohon, jangan melakukan gerakan tambahan yang dapat merugikan kita semua. Setiap kesalahan catir, catar juga turut menanggung hukuman dari senior. Sedangkan jika kami yang bermasalah, kalian tidak ikut menanggungnya. Saya ingatkan kepada seluruh rekan angkatan, setiap tindakan harus disertai izin terlebih dahulu. Perlu jadi perhatian tambahan sekadar untuk mengingatkan, selama tingkat satu kita tidak boleh ke kantin. Jika ingin ke gedung utama, harus melewati jalan aspal, tidak diperbolehkan bagi kita melewati selasar yang merupakan jalan pintas ke gedung utama. Dan satu lagi, tolong jangan ada yang senyum-senyum dalam barisan, terutama calon taruni. Capek kami para taruna menanggung dosa kalian.”