Udara di dalam aula itu mendadak mati. Suara gesekan kursi kayu yang didorong Zahra terdengar nyaring, memutus perdebatan panas yang baru saja terjadi. Zahra berdiri tegak, dagunya terangkat seolah menantang para lelaki yang duduk berderet di bagian sisi kanan aula.
“Aku mencalonkan diri sebagai Komandan Batalion Angkatan 40.”
Suasana makin hening ketika seorang wanita berambut pixie cut itu berdiri dan lantang mencalonkan diri sebagai ratu angkatan. Para taruna yang lain hanya tolah-toleh seraya berharap ada lagi seseorang yang ingin mengajukan diri selain Zahra. Namun sepertinya semua orang enggan untuk mencalonkan diri mengingat Jono yang kabur saban waktu membuat kami para lelaki berpikir berkali-kali.
“Tidak ada catar yang berani maju nih?” Zahra memecah keheningan dengan nada meremehkan. Ia menyilangkan tangan di dada, matanya menyapu barisan taruna laki-laki. “Ayolah, Kawan, mana para lelaki yang setiap hari mengeluh paling menderita itu? Hilang nyalikah?”
“Aku tidak setuju batalion kita dipimpin wanita.” sebuah suara berat meletup dari barisan paling belakang. Karyo berdiri dengan wajah kaku.
“Kenapa tidak kau saja yang maju, Kar?’ Fay menyambar cepat, membuat perhatian beralih padanya.
Karyo mendengus, telinganya memerah. “Aku menyangkal bukan berarti aku siap. Bagaimanapun juga, komandan batalion harus laki-laki, Di mana letak wibawa angkatan kita kalau dipimpin perempuan?”
“Kalau tidak mau mencalon lebih baik diam!” Fay memburu, suaranya naik satu oktav. “Pemilihan komandan batalion tidak bisa dipaksa.Jika memang tidak siap lebih baik tidak usah mencalonkan diri sejak awal.” Sambung Fay.
“Stop!” Suara Komandan Subarun menggelegar, menghentikan perdebatan yang mulai memanas. Beliau berdiri, menatap tajam barisan taruna laki-laki dengan tatapan merendahkan. “tidak malu kalian sama taruni? Nyali kalian tidak lebih besar dari taruni. Apa perlu kita tambah satu bulan lagi masa orientasi? Ruangan itu mendadak riuh. Saling tunjuk terjadi di barisan lelaki, bisik-bisik panik memenuhi udara, namun tak satu pun ada yang bangkit. Tiba-tiba, kursi di antara aku dan Fay berderit keras. Peni berdiri tegak.
“Izin, Komandan! Saya siap mencalonkan diri!”
Aku dan Fay tersentak. Kami saling lirik dengan tatapan heran, seolah sedang bertanya lewat batin: Anak ini kerasukan setan apa?
Detik berikutnya, aula itu pecah oleh tepuk tangan dan sorak-sorai. Sorot mata para calon taruna laki-laki yang tadinya redup kini berbinar. Seolah telah menemukan juru selamat angkatan empat puluh.
Zahra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. Ia mengangkat kedua bahunya dengan santai tatapannya melunak. “Baiklah. Kalau begitu, mulai besok Peni yang akan dilantik menjadi Komandan Batalion.”
“Apa maksudmu, Zahra?” Peni mengerutkan kening. “Kenapa kau tiba-tiba kau mundur?”
Zahra tidak langsung menjawab. Ia mengibaskan rambut pendeknya lalu duduk kembali dengan gerakan yang sangat tenang. “Hmm..Tidak perlu kujelaskan. Taruna memang paling tidak bisa disentil egonya.” Lalu ia menyilangkan kedua kakinya dengan anggun bak seorang ratu yang telah berhasil memenangkan sebuah perang di medan pertempuran.
Peni tertegun. Ia perlahan merosot ke kursinya, menatap kosong ke arah depan seolah baru saja menyadari bahwa ia baru saja melompat masuk ke dalam jebakan ego yang dipasang Zahra dengan sangat rapi.
Aku dan Fay saling melirik lagi. Kami mengulum bibir untuk menahan tawa yang nyaris membuncah ketika melihat wajah Peni memucat. Aku menyikut lengannya Peni sambil menyodorkan tangan.
“Selamat Bapak Komandan Batalion Angkatan 40.” bisikku menggoda. Peni tidak membalas, Ia sandarkan punggungnya pada kursi dengan tatapan kosong dan tersirat raut penyesalan pada mukanya.