Pagi yang harusnya menyuguhkan kabut tipis yang berdansa ria di antara deretan pohon jati di area ruang makan, seketika berubah tegang menjadi suasana tarian perang. Kami lari tunggang-langgang dalam barisan pleton, berusaha menyamakan derap langkah dengan menghitung tempo dari suara sepatu PDH yang menapak serentak.
Sambil berlari dengan kepala tertunduk, kami mencuri pandang menyaksikan para senior tingkat dua, tiga, dan empat yang sedang berjejer tengkurap di atas aspal lembap sisa gerimis semalam. Entah kesalahan apa yang mereka perbuat hingga harus menerima hukuman se-pagi ini dari pengasuh. Padahal mereka baru saja mandi pagi; pakaian PDH sudah disetrika rapi, lencana atribut berkilat setelah di-brasso, dan aroma parfum yang harusnya menyeruak harum terpaksa mereka relakan menguap bersama keringat yang membanjiri badan.
“Taruna tingkat satu, silakan hitung jumlah pasukan, lalu masuk ruang makan terlebih dahulu!” perintah Komandan Rustam.
Peni, yang menjabat sebagai Komandan Batalion, segera memerintahkan para komandan pleton untuk melaporkan jumlah pasukan masing-masing.
“Lapor! Batalion satu jumlah sembilan puluh sembilan, keterangan: lengkap. Laporan selesai!” pungkas Peni dengan nada tegas.
“Silakan masuk, duduk sesuai dengan nama yang tertera di meja makan,” perintah Komandan Rustam.
Setelah kami berpencar menduduki kursi masing-masing, barulah aku sadar bahwa satu meja terdiri dari delapan orang, di mana setiap angkatan mengisi dua kursi. Di mejaku, ada Hayana—satu-satunya teman angkatanku yang duduk bersamaku.
Menurutku, Hayana adalah gadis yang manis sebelum masuk ke kampus ini. Namun saat ini, ia harus merelakan kecantikannya memudar akibat kegiatan kampus yang tingkatannya hanya selapis di bawah penyiksaan. Semua taruni tingkat satu berkulit kusam dan kecokelatan karena dilarang menggunakan kosmetik maupun skincare. Wajar saja jika saat ini mereka tidak jauh berbeda dengan gelandangan di perempatan lampu merah yang jika berkeringat berubah warna menjadi cokelat metalik.
Tapi aku yakin, tidak perlu waktu lama bagi Hayana untuk menjadi incaran taruna Angkatan 40. Suatu saat, ketika mereka sudah diperbolehkan berdandan, sosok yang kusam ini perlahan akan berubah menjadi wanita dengan kecantikan yang khas. Aku bisa membayangkan laci mejanya di kelas nanti akan dipenuhi surat cinta dan cokelat dari para penggemar. Bagaimanapun juga, tahi lalat tepat di tengah keningnya itu seolah sengaja diciptakan Tuhan untuk menghipnotis siapa pun yang berani menatap wajahnya lamat-lamat.
Beberapa kali aku sempat melihatnya di barisan, namun ini kali pertama aku bisa berada sedekat ini. Aku tidak menaruh rasa apa pun padanya; aku hanya ingin mengakui bahwa ia adalah wanita dengan paras yang manis. Bukankah wanita yang manis tidak harus selalu dimiliki? Kadang, seorang pria cukup mengamati dan mengaguminya dari jauh.
Aku dan beberapa pria di dunia ini sepakat pada filosofi Reog Ponorogo: ketika merak bertengger di atas pohon, selalu ada singa yang menunggu di bawah. Ada baiknya sejak awal aku menarik diri demi menghindari singa yang sudah berjaga di bawah sana. Lagipula, taruna dan taruni adalah dua kerajaan berbeda dalam satu wilayah; selalu ada perselisihan setiap hari akibat ulah masing-masing. Stigma ibarat kucing dan anjing sudah terbentuk sejak awal kami menginjakkan kaki di kampus ini.
Pertemuan itu berlangsung tanpa dialog; hanya saling melirik dan menoleh ke segala arah untuk memastikan semua orang sudah mendapatkan tempat duduk. Bisa dibilang, aku pura-pura sibuk memperhatikan lingkungan sekitar hanya untuk menutupi rasa canggung yang menyerang.
Dari arah pintu masuk, para senior telah menyelesaikan hukuman dari Komandan Rustam. Mereka masuk sambil menepuk-nepuk baju dan celana, berusaha menyingkirkan pasir serta kerikil kecil yang menyelinap di seragam mereka. Sesekali aku melirik ke arah pintu, mencari senior yang akan duduk satu meja dengan kami. Aku hafal nama-nama mereka dari tingkat dua hingga empat, sebab kami telah berkali-kali menulis puluhan rangkap daftar nama tersebut hingga setebal novel Harry Potter. Masalahnya adalah kami hanya hafal nama, bukan wajah.
Makanan telah tersaji di balik tudung. Sebagai junior, tangan kami harus paling aktif melayani; mulai dari membuka tudung saji, mengelap piring yang masih basah, hingga menggeser lauk-pauk dari senior ke senior lainnya. Ini adalah kali pertama kami makan bersama para senior, sehingga setiap gerakan terasa gugup dan kaku.
Saat aku mengangkat piring berisi delapan irisan semangka, salah satu irisan itu meluncur tanpa sengaja dan mendarat tepat di atas piring seorang senior taruni tingkat dua, semangka itu ikut bertengger pada nasi dan lauknya. Sekujur tubuhku mendadak dingin, bulir keringat mulai membasahi dahi dan leher.
Hayana yang menyaksikan kecerobohanku pun ikut tegang. Tangannya yang masih menggenggam teko air mineral gemetar, hingga tanpa sengaja ia menumpahkan air ke celana taruna tingkat empat di sebelahnya.
“Dek, santai saja. Tidak usah buru-buru,” tegur senior tingkat empat yang celananya sudah terlanjur basah kuyup itu.
Berkali-kali kami meminta maaf. Aku tidak menyangka dua kecerobohan fatal bisa terjadi dalam satu waktu. Pikiranku sudah melompat jauh ke masa depan, membayangkan nasib sial yang akan menimpa kami setelah ini.
Sesuai dugaan, selepas makan, seorang taruna tingkat dua yang tadi satu meja denganku menghampiri saat aku sedang mengantre keluar.
“Kau harus minta maaf secara pribadi pada taruni angkatanku itu!”
“Siap, Kak. Izin maaf atas kesalahan saya dan rekan angkatan saya.” jawabku sambil menundukkan kepala.
“Dengar, kalau sampai kejadian tadi membuatku dihukum oleh tingkat tiga, ‘main’ kita malam ini!” pungkas senior tersebut sambil mengambil nametag di seragamku. Ia berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak dan berbalik. “Suruh taruni angkatanmu tadi menghadapku di kelas Batang Hari pukul tiga sore nanti Baru kukembalikan nametag ini!”
Ia pun berlalu meninggalkan ruang makan. Tubuhku kaku, rasanya bagaikan ditiup angin dingin pegunungan Himalaya. Mustahil untuk meminta Hayana mendatangi senior itu sendirian. Bagaimana mungkin aku meminta tolong kepada orang yang bahkan belum pernah kuajak bicara? Pertemuan perdana kami justru harus diawali dengan permintaan tolong untuk mengambilkan nametag pada senior tingkat dua. Ini seperti menjerumuskan Hayana ke dalam kandang macan. Namun, apa lagi yang bisa kulakukan? Ini adalah satu-satunya nametag yang kupunya. Akan jadi masalah jika pengasuh melihatku tidak mengenakan atribut lengkap.
Kerumunan di ruang makan membuatku kesulitan mencari Hayana. Akhirnya, aku memutuskan untuk menunggunya di pintu keluar. Setelah beberapa saat, sosok yang kucari muncul; ia sedang berjalan bersama kedua temannya.
“Hayana, boleh minta waktumu sebentar? Ada yang ingin kubicarakan,” panggilku.
“Tentu, ada apa?”
Aku mengajaknya menjauh sedikit, berbincang di bawah deretan pohon jati dekat ruang makan agar tidak terlalu mencolok.
“Hayana, aku minta maaf sebelumnya. Tadi kamu disuruh menghadap Kak Opan di kelas Batang Hari jam 15.00. Sekaligus... kamu nanti dititipi nametag-ku yang ia ambil.”
“Gila! Mana bisa begitu. Lagipula, yang bermasalah dengan tingkat dua kan kamu.” protesnya cepat.
“Tapi kesalahanmu tadi juga fatal, kamu menumpahkan air ke baju tingkat empat!” balas kutegaskan.
“Lah... tetap saja, aku tidak punya masalah langsung dengan tingkat dua!”
“Hayana, tolonglah. Selain risiko dihukum pengasuh karena tidak pakai atribut lengkap, nanti malam aku juga terancam ‘dihajar’ Kak Opan kalau masalah ini tidak selesai.”
Hayana tampak berpikir sejenak. “Begini saja, aku bawa dua nametag di kelas. Sementara waktu, kamu pakai punyaku saja. Semoga saja pengasuh tidak sadar kalau namamu berubah jadi nama perempuan,” katanya sambil menelengkan kepala, seakan yakin betul sarannya adalah ide yang sangat brilian.
“Hmm... baiklah kalau begitu. Nanti aku ambil ke kelasmu. Tapi ingat, kalau sampai ketahuan pengasuh, kita tanggung risikonya sama-sama, ya.”
Pelajaran sistem Permesinan Kapal baru saja selesai, namun udara menjelang siang itu terasa berat oleh kantuk. Di beberapa sudut kelas, kepala-kepala mulai terkulai di atas meja, melanjutkan “ritual” tidur yang tak pernah tuntas di barak. Bagi kami, deru udara pendingin ruangan kelas adalah lagu pengantar tidur paling nyaman dan aman, jauh dari bayang-bayang bajing loncat yang kerap mengusik di waktu dini hari.
Tiba-tiba, daun pintu berderit. Sesosok gadis berdiri di ambang pintu, matanya menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya terkunci padaku. Ia melambaikan tangan. Itu Hayana. Selembar benda kecil berbentuk persegi di genggamannya tampak mengilap—nametag miliknya.
Langkahku menghampirinya seketika disambut riuh sorakan yang meledak dari bangku-bangku belakang. Siulan nakal dan suara-suara sumbang menirukan penghuni kebun binatang memenuhi langit-langit kelas.
“Cieee... Kiw, kiw!”
“Hari ini tukar nametag, besok lusa sudah tukar cincin di pelaminan!” seloroh Peni dari bangku paling ujung, memancing tawa yang makin pecah.
Darah merambat naik ke wajah Hayana, mengubah pipinya semerah warna mawar. Ia menggigit bibir bawah, jemarinya yang memegang nametag tampak gemetar kecil saat menyerahkannya padaku. Ia hanya tersenyum simpul—jenis senyuman yang dipaksakan untuk menutupi rasa malu.
“Kembalikan kalau milikmu sudah ada,” bisiknya nyaris tak terdengar, lalu ia berputar cepat dan berlari kecil meninggalkan pintu kelas.
Peni dan Fay langsung menyergapku begitu aku kembali ke kursi. Mereka tak membiarkanku bernapas sebelum seluruh kronologi insiden makan pagi tadi meluncur dari mulutku. Tentang semangka yang ‘terjun bebas’ ke piring senior, hingga air di teko yang membasahi celana taruna tingkat empat akibat ulah Hayana.
“Gila,” Fay terkekeh sambil menyandarkan punggung. “Tapi pilihanmu benar. Lebih baik berurusan dengan senior daripada izin bermalammu ditahan pengasuh. Paling-paling cuma ‘digebuk’ sekali, lalu urusan beres.”
Namun, bayangan instruksi Kak Opan untuk menghadap di kelas Batang Hari jam 15.00 terus berdenyut di kepalaku. Aku membayangkan Hayana yang mungil berdiri di sana seperti seekor kelinci yang lugu melompat masuk ke dalam sangkar ular yang sedang lapar.
Saat ritual makan siang sebentar lagi dimulai, suasana di meja makan terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Hayana duduk mematung, pandangannya lurus ke bawah. Tak ada kata yang keluar. Aku sendiri berusaha mengalihkan kegelisahan dengan menatap barisan piring di meja panjang di ujung sana—tempat para komandan batalion tiap angkatan duduk berjajar. Peni di paling ujung kiri kemudian berurutan sesuai tingkat ke sebelah kanan.
Aku kembali menatap piringku. Belajar dari semangka yang meluncur pagi tadi, kali ini aku menggenggam peralatan makan dengan jemari yang terkunci rapat. Tiap gerakan tanganku terasa kaku layaknya robot. Makan satu meja bersama senior membuat suara denting sendok yang beradu dengan piring pun terasa seperti alarm bahaya yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan pun. Tidak ada istilah makan dengan tenang. Tidak ada pula ada istilah piring senior habis terlebih dahulu dari piring junior. Jika itu sampai terjadi, maka bersiaplah untuk menghabiskan dua hingga tiga teko berisi air bersama rekan angkatan se-meja. Para senior akan dengan senang hati menuangkan air untuk juniornya hingga isi teko tersebut tandas tak bersisa. Setelah ritual makan itu usai, selanjutnya menyisakan para junior sial yang merasakan perut begah nan sesak tertahan oleh seragam PDH yang ketat. Alhasil, mereka akan segera mengantre di toilet ruang makan untuk memuntahkan kembali isi perut yang sudah terlalu penuh.
Di sela makan siang, taruna tingkat empat yang duduk tepat di hadapanku mendadak menghentikan kunyahannya. Ia menatap dadaku lamat-lamat, lalu beralih ke mataku.
“Siapa namamu, Dek?” tanyanya datar.
“Mohon izin, Kak. Taruna Muda, nama Wawan, nomor pokok taruna 11 02 19,” jawabku lugas, meski jantungku mulai berdentum tidak karuan.
“Lalu, kenapa di nametag-mu tertulis Hayana Sundari?”
Seketika udara di ruang makan terasa membeku. Hawa dingin merambat di tengkukku. Aku terpaku, otakku berputar liar mencari dalih yang masuk akal. Di bawah meja, ujung sepatu Kak Opan berkali-kali menghantam kakiku—sebuah sandi tanpa suara yang mengancam: “Awas kalau kau mengadu. Mati kau malam ini.”
“Izin, Kak. Tadi di kelas patah karena bersenggolan dengan teman. Ini milik Hayana, saya pinjam sementara agar tidak terlihat mencolok oleh pengasuh.” sahutku cepat. Aku tahu alasan itu terdengar konyol, tapi itu jauh lebih aman daripada menyeret nama senior sendiri.
Untungnya, tingkat empat itu hanya mendengus dan tidak ambil pusing. Aku bisa melihat air muka Kak Opan kembali cerah; doktrin “melindungi senior” yang mereka tanamkan terbukti ampuh menyelamatkannya. Aku pun merasa sedikit lega, meski tahu posisi ini masih sangat rawan.
Selepas makan siang, Kak Opan kembali menghampiriku. “Bagus. Itu baru namanya taruna, bisa melindungi senior. Tapi hukuman tetap hukuman, ya. Suruh taruni angkatanmu itu menghadap sore nanti untuk ambil nametag-mu.”
“Siap, Kak!” jawabku patuh, meski batin ini mengeluh. Masalah ini seolah tak ada habisnya.
Begitu para senior raib dari ruangan, aku segera memburu Hayana sebelum ia menghilang di balik kerumunan. “Hayana, tolong. Bantu aku sekali ini saja,” pintaku tertahan.
“Kenapa tidak bikin baru saja sih, Wan? Lagian, sebentar lagikan kita ada pesiar,” balasnya ketus.
“Ini bukan cuma soal nametag! Kenapa kamu belum paham juga,sih! Kamu bermasalah dengan tingkat empat, dan Kak Opan yang menanggung ulahmu tadi. Itulah sebabnya dia ingin kamu menghadap!” suaraku meninggi.
Hayana berhenti melangkah, matanya menatapku tajam. “Akalmu ditaruh di mana, Wan? Aku ini perempuan. Kamu menyuruhku menghadap sendirian di kelas senior laki-laki hanya untuk masalah sepele ini? Dengar, ini bukan soal takut, tapi soal harga diri sebagai perempuan!”
Napasnya memburu saat ia melanjutkan, “Kalian para taruna selalu merasa paling sengsara. Kalian pikir cuma kalian yang dihukum saat dini hari? Kamu tidak tahu, kan, banyak taruni yang berjalan pincang karena kami dipaksa squat jump bersama-sama di barak sampai suara tilawah masjid terdengar?”
Aku terbungkam. Lidahku kelu menghadapi kenyataan yang baru saja ia hantamkan ke mukaku. Rasa malu perlahan merayap di dadaku. Di sekitar kami, beberapa orang mulai menoleh, memperhatikan kami yang tengah bersitegang di tengah selasar.
Aku segera membalikkan badan, melangkah cepat meninggalkan Hayana dan pasang mata yang mulai mengerumuni. Kakiku terus melangkah menjauh, berusaha melarikan diri dari rasa malu yang mendadak terasa begitu menyesakkan.
Sesampainya di kelas, kata-kata Hayana terus berdenyut di kepalaku. Selama ini, aku dan rekan-rekan taruna seolah buta. Kami terlalu sibuk meratapi nasib sendiri hingga lupa bahwa para taruni juga memikul beban yang sama beratnya. Aku baru menyadari betapa egoisnya kami yang merasa paling tersiksa oleh hukuman, tanpa tahu sisi kelam kerajaan taruni mungkin lebih gelap dan menyakitkan dari pada kami.
Rasa tidak enak hati mulai menggerogoti pikiranku. Aku merasa perlu menebus kekasaran sikapku tadi. Aku berniat membelikannya cokelat sebagai permohonan maaf yang tulus kepada Hayana. Bagiku saat ini, urusan nametag yang masih disandera Kak Opan bisa dikesampingkan dulu; memulihkan harga diri jauh lebih penting.
***
Lembayung senja turun, menandakan waktu makan malam segera dimulai. Hingga perjamuan usai, bangku di depanku tetap kosong; Hayana tidak tampak di ruang makan. Begitu melangkah keluar, aku segera memburu sahabat Hayana Miki dan Astrid untuk mencari tahu keberadaannya.
“Tadi sore dia jatuh saat joging. Dahinya robek, harus dijahit empat jahitan,” ujar Miki pendek.