Tahun kedua telah tiba. Kami mulai merasakan rindu yang ganjil akan sosok yang bahkan belum pernah kami temui sebelumnya: junior. Kehadiran mereka adalah sesuatu yang kami tunggu-tunggu, barangkali bisa menjadi penawar stres di tengah tekanan ini.
Kata senior, kehidupan di kampus ini layaknya memukul paku pada kayu. Tingkat empat adalah tangan yang memegang palu, tingkat tiga adalah palunya, tingkat dua adalah pakunya, dan tingkat satu—posisi kami saat ini—adalah kayunya. Miris sekali melihat diri sendiri berada di kasta terbawah dari filosofi budaya yang mengerikan ini, di mana tidak ada tempat untuk melampiaskan tekanan yang menyesakkan dada.
Sebentar lagi kami akan naik tingkat, menempati posisi sebagai "paku" dalam hierarki sureal ini. Kabar bahwa junior akan tiba dalam dua minggu membuat semangat kami membuncah. Saking antusiasnya, kami bahkan rela menerima pukulan senior dengan lapang dada, asalkan hari-hari menuju kenaikan tingkat itu segera berlalu.
Sejak tragedi ‘Pesiar Berdarah’ mereda, aku belum sempat menceritakan betapa mengenaskannya kondisi Bintang. Sebagai orang yang dipaksa menjadi ‘tumbal pembuka’ pada malam jahanam itu, dia terkulai tak berdaya. Di ulu hatinya, muncul bengkak sebesar buah salak yang mencuat mengerikan—tepat di tengah dada dengan warna merah menyala, mirip lampu peringatan Ultraman yang hampir kehabisan energi. Selama tiga hari penuh, Bintang hanya bisa terbaring di barak. Kakinya pun tak luput dari serangan brutal, membuatnya lumpuh sementara karena rasa sakit yang hebat setiap kali ia mencoba melangkah.
Pemandangan Bintang yang hancur itulah yang membakar sumbuku malam itu. Itulah alasan mengapa aku begitu naik pitam melihat Hayana duduk tenang di meja piket serambi. Sindiran tajam yang kulontarkan sebenarnya adalah luapan emosi yang tak tertahan, namun tanggapannya yang sedingin es seolah tak ada darah yang tumpah karena ulahnya—benar-benar menyulut api di dadaku.
Kini, setiap kali kami bersinggungan di jalan, kami serentak membuang muka. Di ruang makan pun suasana terasa kaku dan membeku. Sesekali, ekor mata kami tak sengaja saling melirik, namun jika tatapan itu beradu, kami segera melempar pandangan ke arah lain.
Nametag baru yang kupesan di Pasar Cinde setidaknya membuatku aman dari radar pengasuh. Namun, nametag milik Hayana masih tersimpan di laci lemariku. Ada niat untuk mengembalikannya, tapi egoku menahan kuat. Bicara padanya sekarang terasa seperti menelan duri. Hayana pun tampaknya tak punya gairah untuk memintanya kembali. Akan kupertimbangkan lagi kapan benda itu harus kembali ke pemiliknya. Mungkin nanti, saat hari kelulusan tiba, akan kukembalikan benda itu sebagai cendera mata pahit—pengingat abadi bahwa dialah sumber dari segala prahara ini.
Waktu terus berjalan, dan Peni masih berjuang dengan ketuliannya. Kabar baiknya, ia sempat memeriksakan diri ke dokter spesialis THT. Gendang telinganya pecah, namun dokter bilang itu bisa sembuh dalam hitungan bulan. Saat ini, pendengarannya mulai berangsur membaik.
Suatu malam, sekitar pukul 01.00, kami bertiga menjalankan rutinitas seperti biasa: menggosok atribut lencana dengan brasso di lorong toilet. Fay membawa atribut tambahan, milik seorang senior tingkat dua bernama Kak Mambu—tentu saja itu bukan nama aslinya, melainkan nama ‘balai’. Di sini, semua senior tingkat dua hanya boleh kami panggil dengan nama balai mereka. Berbeda dengan tingkat tiga dan empat; meski kami tahu nama balainya, kami harus memanggil nama asli mereka sebagai bentuk penghormatan.
Saat ini kami belum memiliki nama balai. Gelar itu baru akan disematkan seiring kedatangan para junior. Fay tampak sangat bersemangat; ia begitu telaten menggosok atribut milik senior tingkat dua, Kak Mambu hingga benar-benar mengilap, bahkan sisi belakangnya pun tak luput dari brasso. Berbeda jauh dengan atributnya sendiri yang hanya di-brasso ala kadarnya, sekadar lolos pengecekan pengasuh.