SHOGANAI

L DARMA
Chapter #9

CINTA TAK BISA DIPAKSA

Hari demi hari bergulir. Para junior perlahan mulai menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan baru yang asing, perlahan merengkuh kenyataan bahwa kehadiran mereka hanyalah satu mata rantai dalam estafet tradisi yang panjang. Mereka dipaksa berdamai dengan sebuah pilihan dilematis: menyerah di tengah jalan atau terus melangkah menerjang badai demi menggapai mimpi.

Di luar sana, Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Lapangan kerja menjadi barang mewah yang sulit digapai. Janji akan masa depan yang mapan setelah lulus menjadi satu-satunya pelampung yang menjaga agar tidak tenggelam. Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Mereka harus membaja di tengah realitas kampus semi-militer yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah kejutan batin yang pernah menghantam setiap angkatan sebelum mereka. Tak ada yang benar-benar siap saat pertama kali menginjakkan kaki di sini.

Sadar akan posisi baru sebagai senior, beberapa rekanku mulai menunjukkan taringnya. Mereka mulai menduplikasi tindakan-tindakan keras yang dulu pernah kami telan mentah-mentah saat masih tingkat satu. Namun, ada sebuah anomali yang terasa nyata, rekan-rekan taruna biasa ‘Tarbi’ justru bertindak jauh lebih beringas.

Ada kemarahan yang meluap-luap dalam setiap tindakan mereka. Hal ini sangat kontras dengan para taruna bertali komando. Meskipun tetap ambil bagian dalam hal ini, yang memegang jabatan cenderung lebih tahu porsi. Mereka lebih paham bagaimana rasanya dihajar hingga ke tulang, karena setiap kali ada kesalahan kolektif, merekalah yang harus berdiri paling depan untuk menerima porsi hukuman yang jauh lebih berat dari senior. Rasa sakit itulah yang mendewasakan cara mereka bertindak, sebuah empati yang lahir dari luka yang lebih dalam.

Aku kagum dengan sosok Peni, dia yang paling banyak beban tanggungannya justru tidak pernah sekalipun menyentuh junior. Tugasnya hanya menyampaikan secara lisan apa yang harusnya dilakukan junior kepada senior. Meski ada beberapa kesalahan, nantinya yang akan menindak junior adalah para staf bertali yang lain seperti poltar. 

Polisi Taruna (Poltar) tingkat dua adalah jabatan yang paling disegani, bahkan ditakuti oleh seluruh taruna tingkat satu. Dari generasi ke generasi, posisi ini selalu diisi oleh mereka yang bertangan dingin dan berwajah garang, karena tugas utama mereka adalah menjaga tertibnya napas ketarunaan.

Salah satunya adalah Wayan, rekan kami asal Bali. Posturnya menjulang, wajahnya sangar, dan lengannya berotot kawat. Setiap kali melakukan penindakan, ia seolah hanya perlu mengeluarkan seperempat tenaganya. Melihat tangannya yang seukuran kayu balok ganjal kendaraan saja sudah cukup membuat siapa pun tahu akibatnya. Para junior yang melihatnya dari kejauhan biasanya lebih memilih memutar jalan sejauh mungkin ketimbang harus berpapasan dengan sifat usilnya yang sering membuat mereka keteteran.

Suatu malam, pukul dua dini hari, Fay membangunkanku dari tidur nyenyak. Ia mengajakku ke seberang barak tingkat satu untuk memberi pelajaran pada seorang junior yang nekat menolak perintah senior tingkat empat tadi siang.

“Bukan urusanku. Lebih baik aku tidur,” jawabku pendek sambil kembali menarik selimut.

Aku bukannya ingin sok suci atau paling baik. Namun, keputusanku untuk tidak memukuli junior adalah bentuk penghormatanku kepada Peni. Aku merasa malu jika aku, yang bebannya tak seberapa ini justru lebih reaktif dibandingkan Peni yang menanggung beban lebih berat.

Sebagai tarbi, tindakan kami yang terkadang melampaui batas sering kali membuat para pejabat bertali komando resah. Sebab, jika terjadi sesuatu pada junior, orang pertama yang akan diseret untuk dimintai keterangan adalah mereka yang memegang jabatan. Itulah yang mendasari prinsipku: selagi sahabatku, sang komandan batalion tidak turun tangan, maka aku merasa tak layak untuk mengambil tindakan sendiri.

Lihat selengkapnya