SHOGANAI

L DARMA
Chapter #10

OH TERNYATA

Malam itu, aula besar di Banyu Asin disulap menjadi bioskop dadakan. Pengasuh membatalkan jadwal pesiar minggu ini, menggantinya dengan sesi menonton bersama sebagai pelipur lara. Lampu-lampu sengaja dipadamkan, menyisakan keremangan yang pekat demi membangun atmosfer film Danur yang sedang diputar.

Di tengah keriuhan jeritan penonton lainnya, aku duduk kaku di samping Kak Opan. Jemariku tak henti bekerja, memijat lengannya dengan ritme yang dipaksakan hingga film usai. Di lingkungan kampus kami, pemandangan ini memang lumrah tapi biasanya hanya dilakukan oleh tingkat satu kepada senior tingkat empat. Aku, seorang tingkat dua melakukan pengabdian rendah ini kepada tingkat tiga adalah sebuah anomali yang memalukan. Aku merasa wibawaku luruh berkeping-keping jika ada mata junior tingkat satu yang menangkap basah momen ini.

Sambil terus memijat, mataku sibuk berpatroli, menyisir setiap sudut ruangan yang remang untuk memastikan tak ada pengasuh yang mendekat. Namun, saat bola mataku bergerak ke arah barisan lain, jantungku seolah berhenti berdetak. Di balik bayang-bayang, tatapanku terkunci tepat pada mata Hayana.

Jalur perlintasan di tengah aula membelah barisan taruna dan taruni menjadi dua kubu yang terpisah. Hayana duduk tepat di tepian jalur itu, membuatnya begitu mudah tertangkap mataku. Ternyata, sedari tadi ia memperhatikanku. Sorot matanya mengisyaratkan heran dan rasa prihatin. Mungkin ia tak menyangka ketika melihatku demikian rendah dihadapan Kak Opan. Begitu mata kami beradu, sontak kami membuang muka karena rasa canggung.

Film horor itu masih terpampang di layar, sementara Kak Opan akhirnya tumbang dalam kantuknya. Deru napasnya yang teratur menandakan ia sudah terlelap pulas. Aku menghentikan pijatanku, membiarkan jemariku yang mulai kaku dan pegal beristirahat sejenak di kegelapan.

Begitu lampu aula menyala dan film usai, kami dipaksa kembali ke dunia nyata. Tubuh-tubuh lelah ini berbaris rapi sebelum dibubarkan ke barak. Di tengah keheningan barisan, sebuah suara bergetar muncul dari balik punggungku. Seorang taruna tingkat satu berdiri gemetar, menyodorkan sebatang Silverqueen.

“Izin, Kak. Titipan dari Kakak Taruni tingkat dua.” ucapnya lirih.

Aku mengernyit, ku tatap cokelat itu lamat-lamat. “Dari siapa?”

“Izin, maaf Kak. Saya lupa melihat namanya... di dalam tadi sangat gelap.” jawabnya dengan suara yang makin menciut. Ketakutan jelas membayang di wajahnya, di kampus ini, melupakan nama senior adalah dosa besar yang biasanya ditebus dengan tradisi kasih sayang di tengah malam buta.

Aku menghela napas, lalu menyambar cokelat itu tanpa berniat menginterogasinya lebih jauh. Bagiku, tak peduli siapa pengirimnya atau apa maksud di baliknya. Di tengah tekanan seperti ini, makanan adalah nikmat yang tak perlu dipertanyakan. Sesederhana itu.

Dalam banyak film bergenre romansa, cepat atau lambat orang yang memberikan coklat secara misterius,  akan terungkap. Lagipula cluenya sudah dapat satu, yakni teman angkatanku sendiri yang pastinya mustahil itu dari taruna.

Cokelat malam itu rupanya hanyalah pembuka. Di hari-hari berikutnya, batangan kakao terbungkus aluminium foil itu terus berdatangan melalui kurir junior yang berbeda-beda. Awalnya, aku masa bodoh. Logikaku menolak percaya ada seseorang yang menaruh hati padaku.

Aku hanyalah taruna biasa dengan wajah yang tak akan diingat dalam sekali lirik. Aku bukan taruna populer yang fotonya berseliweran di media sosial, bukan pula pejabat bertali komando yang disegani. Namun, ketika rutinitas itu bertahan hingga seminggu penuh, rasa penasaranku mulai terusik. Ini bukan lagi sekadar kebetulan. Mungkin anonim ini ingin bermain kucing-kucingan ala-ala detektif.

Sore itu, jadwal olahraga umum memberi kami sedikit ruang untuk bernapas. Aku dan Fay berjalan santai mengelilingi kampus, membiarkan mata kami dimanjakan oleh semburat merah matahari yang tenggelam di cakrawala. Cahayanya memantul keemasan di atas permukaan sungai, tepat di pertemuan dua sungai yang membatasi sisi selatan kampus kami.

Di tengah ketenangan itu, seorang junior berlari terengah-engah ke arah kami. Langkahnya terhenti tepat di depanku, napasnya memburu. Dari saku celana training-nya, ia keluarkan sebatang cokelat yang tampak sedikit hangat karena suhu tubuhnya, lalu menyodorkannya dengan tangan gemetar.

“Izin Kak, Saya mendapat titipan dari seorang kakak taruni barusan. “

“Kau orang yang ke enam, sekarang, katakan siapa!” Aku menatap tajam junior itu.

“Izin kak, saya minta maaf, saya benaran lupa nama kakaknya.”

Fay berbisik padaku, “Wan kayaknya, Adek ini benar tidak tahu, karena kemungkinan coklat ini berasal dari tingkat dua.”

Aku baru sadar akan ucapan Fay barusan, Sebab kami dulu saat tingkat satupun tidak ada yang kenal dengan nama taruni tingkat dua. Kami hanya wajib mengingat seluruh nama taruna dan taruni tingkat tiga dan tingkat empat saja. “Ah aturan aneh, ini membuat kami kesulitan sendiri.” Gumamku dalam hati. Mungkin aku harus lebih bersabar lagi untuk mendapatkan jawaban dari semua ini.

Malam telah tiba. Usai salat Isya, kami diberi kebebasan untuk sekadar melepas penat di kantin atau menuju kelas untuk belajar mandiri. Aku dan beberapa rekan memilih untuk menekuni buku, mengingat minggu depan ujian tengah semester sudah membayangi. Namun, baru sekitar tiga puluh menit ketenangan itu berlangsung, bel apel memecah keheningan. Kami bergegas membentuk barisan di atas aspal, bersiap menuju lapangan apel.

Sebelum kaki ini menginjak lapangan, Peni tiba-tiba menarik lenganku, membawaku keluar dari barisan. Ia menyeretku menjauh dari kerumunan, berhenti tepat di bawah bayang-bayang pohon jati yang rimbun.

“Barusan Kak Opan menembak Hayana di kelas, Wan,” bisik Peni dengan wajah mengkerut tegang.

“Terus? Apa tanggapan Hayana?” tanyaku cepat, jantungku mulai berdegup tak beraturan.

“Ini jawabannya pasti bikin kamu kecewa.”

“Maksudnya, Pen?”

“Kak Opan ditolak mentah-mentah.”

“Astaga... yang benar?” Aku terhenyak.

“Iya, tadi aku tidak sengaja menguping saat lewat di depan kelasnya.”

“Selesai sudah hidupku...” pungkasku lirih. Rasa kecewa dan cemas seketika bergumul di dadaku. Penolakan itu berarti masa pengabdianku kepada Kak Opan akan semakin panjang dan menyiksa. Dunianya mungkin hancur karena cinta, tapi duniaku menyempit karena amarahnya yang pasti akan dilampiaskan padaku.

Gema nyanyian pengiring barisan perlahan memudar seiring langkah kami yang tiba di depan barak. Namun, pemandangan di ambang pintu seketika membunuh sisa semangat yang kumiliki. Kak Opan sudah berdiri tegak di sana, menungguku dengan tatapan tajam yang sulit diartikan—sebuah pertanda bahwa perang baru saja dimulai.

Aku sudah menduga hal gila seperti ini akan terjadi, tapi kali ini aku tidak sendirian. Sena, teman satu angkatanku, berdiri di sampingku dengan wajah yang tak kalah masam. Tanpa banyak bicara, kami diperintahkan pergi menuju lorong toiletselasar barak kanan bawah. Sebuah tempat yang suasananya selalu terasa lebih dingin dari barak lainnya. Barak tersebut bernama black mamba barak dengan posisi paling dekat dengan serambi senior tingkat dua.

Aku berbisik pada Sena dalam langkah lunglai menuju lorongselasar toilet. “"Kenapa kamu di panggil, Sen?”"

Sena menghela napas panjang sebelum menjawab. Ternyata, ia baru saja menyaksikan babak final penolakan Hayana terhadap Kak Opan di dalam kelas. Sialnya, begitu Hayana berlalu setelah melontarkan kata-kata penolakan, Sena tak sengaja menunjukkan seringai tipis  ‘cengar-cengir’ spontan hal itu tertangkap oleh mata Kak Opan yang sedang meradang.

Mendengar pengakuannya, rasa takutku mendadak bercampur rasa geli yang getir. Ternyata, ada orang yang nasibnya jauh lebih konyol dariku malam ini.

Tak lama, Kak Opan muncul dengan gurat wajah yang keruh. Aura permusuhan menguar darinya bahkan sebelum ia membuka mulut.

“Bangsat kalian!” geramnya.

Tanpa peringatan, lututnya menghantam telak ulu hatiku. Seluruh pasokan udara di paru-paruku seolah terenggut paksa dalam sekejap. Aku jatuh tersungkur, memeluk perut yang terasa seperti dihujam palu godam. Dengan sisa tenaga, aku mencoba bangkit meski pandanganku mulai goyang. Aku menggelengkan kepala pelan, berjuang agar kesadaranku tidak hanyut dalam kegelapan. Namun, sebuah tendangan susulan mendarat keras di paha kananku. Bunyinya tumpul, menyisakan rasa kebas yang menjalar ke seluruh saraf hingga kakiku tak lagi sanggup menopang beban tubuh. Aku luruh tak berdaya di atas lantai.

Melihatku terkapar, cukup untuk mendinginkan kepalanya sejenak. Ia menganggap penderitaanku sebagai pemanasan yang memuaskan. Target berikutnya adalah Sena. Kak Opan mengayunkan kaki, meluncurkan tendangan serupa ke arah kaki Sena. Namun, Sena tetap berdiri tegak. Tak ada erangan, tak sedikitpun goyah. Serangan itu seolah membentur tiang beton, tak memberikan dampak berarti bagi Sena. Merasa serangannya tak mempan, Kak Opan beralih serangan dengan melayangkan tamparan keras yang menghantam pipi Sena. Namun, Sena tetap bergeming, seolah lehernya terbuat dari baja. Merasa dilecehkan, Kak Opan menghimpun seluruh sisa amarahnya dan menghujamkan pukulan telak ke arah ulu hati Sena.

Tapi kali ini keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat.

Kretakkk!

Suara itu terdengar jelas di sunyinya koridorselasar, bunyi tulang yang bergeser dari posisinya. Bukan Sena yang tumbang, melainkan Kak Opan telah kalah pada pertarungan itu. Ia sedikit meringis sambil memegangi tangannya. Sena tetap berdiri, sementara itu, Kak Opan, tanpa sepatah kata pun bergegas keluar meninggalkan kami dalam kegelapan selasar.

Sena menoleh padaku, lalu tawa getir pecah dari bibirnya. Sebuah tawa seolah ia baru saja memenangkan sebuah pertarungan.

Konon, berasal dari cerita para senior, tiap angkatan pasti ada saja salah satu taruna  membawa ajian kebal dari tempat asalnya. Aku tak heran sebab Sena adalah temanku yang berasal dari Banyuwangi yang katanya memiliki ilmu kebal.

Sena membantuku berdiri, memapah langkahku yang berat dan limbung menuju barak atas. Dengan bantuan teman-teman yang lain, aku dibaringkan di tempat tidur. Tubuhku terasa remuk, setiap inci ototku dipaksa melewati batas ketahanan.

Aku terbaring dengan seragam PDH yang belum sempat dilucuti. Rasa kantuk yang dipicu oleh rasa sakit yang hebat menyerang kesadaranku. Dalam keremangan barak, aku membiarkan mataku terpejam, hanya bisa pasrah dan berharap bahwa saat terbangun nanti semua kegilaan ini segera berlalu.

***

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Kak Opan kini telah naik ke tingkat empat, begitu juga aku—kini resmi menyandang status tingkat tiga. Khusus bagi prodi Teknologi Nautika dan Studi Nautika, awal semester ini adalah masa-masa krusial. Kami digempur dengan berbagai ujian praktik sebelum benar-benar dilepas untuk praktik layar di atas kapal.

Lihat selengkapnya