Hari kesembilan puluh menjadi tawanan perusahaan pelayaran. Saat ini aku duduk sendirian di lorong kamar ABK sambil menyantap makanan yang—kalau dilihat dari kondisinya lebih mirip pakan bebek. Aku tidak melebih-lebihkan atau berniat menjelek-jelekkan. Faktanya, di atas piring ini hanya ada setangkup kecil nasi dingin yang agak keras karena sisa semalam. Dengan lauk lima ekor teri kering, tujuh butir kacang tanah sangrai, dan secuil sambal tomat. Kalau sedang sial, kami bahkan tidak kebagian sambal sama sekali.
Menu sarapan hanya punya dua pilihan. Versi satunya lagi—sebagai ganti teri dan kacang—adalah dua potong tempe atau tahu yang diiris setipis karton. Saat itu wabah COVID-19 sedang maraknya dan perusahaan memangkas anggaran makan ABK demi penghematan. Ketika pemerintah memberlakukan lockdown, perusahaan pelayaran pun ikut sekarat. Jumlah penumpang merosot drastis dan hanya didominasi sopir truk logistik lintas Sumatra dan Jawa.
Imbas nyatanya adalah, apa yang tengah kualami sekarang, sarapan dengan nasi keras dan lauk yang kucing pun mungkin tidak sudi memakannya. Namun, mau tidak mau, piring ini harus bersih. Aku butuh tenaga untuk bertarung membuka baut mesin kapal yang besarnya seukuran jempol orang dewasa.
Tidak ada kata libur untuk orang kapal. Jika kapal tidak beroperasi hari itu, kami akan berlabuh jangkar di luar alur pelayaran. Saat itulah ‘pesta’ dimulai: ABK mesin melakukan overhaul pada mesin utama, sementara orang dek sibuk melakukan chipping—memukuli lantai dan dinding baja kapal sampai karatnya rontok agar bisa dicat ulang.
Suara denting palu yang menghantam lempengan logam sudah menjadi musik rutin di hari libur, biasanya berkolaborasi dengan alunan musik koplo yang khas sebagai penyemangat mereka. Maklum, rata-rata ABK kapal didominasi orang Jawa yang terkenal sangat ulet dan telaten dalam bekerja. Berikan mereka kopi dan musik koplo, maka pekerjaan seberat apa pun akan beres.
Perusahaan mungkin sangat suka dengan sikap rajin dan uletnya kinerja orang Jawa. Namun, tidak bagiku. Di kapal ini, aku berada di posisi hierarki paling rendah. Tiga bulan sudah aku mengekor mandor mesin; dari pekerjaan ringan sampai yang hampir membuat pinggang patah, semua kulakukan.
Kalaupun semua daftar tugas dari Kepala Kamar Mesin (KKM) sudah tuntas hari itu, selama matahari masih menampakkan diri, pasti ada saja pekerjaan tambahan yang ditemukan mandor untuk segera dikerjakan.
Khusus kami orang mesin, setelah sarapan pagi kami akan turun ke bawah dan baru boleh naik kembali saat azan Magrib tiba. Bahkan, jika ada kerusakan parah, kami bahkan sampai tidak melihat matahari seharian.
Untuk urusan makan dan minum, ada juru masak yang setia mengantarkannya ke kamar mesin di bagian paling bawah kapal. Jika dipikir-pikir, ABK mesin itu bekerja di bawah permukaan air. Terbayang jika terjadi kebocoran, pastilah kami yang lebih duluan tenggelam.
Hari-hari ini sungguh melelahkan. Pekerjaan berat penuh risiko, ditambah makanan yang tidak layak, membuatku sering merenung: kapan hari terakhirku di kapal ini tiba? Atau, apakah hidupku di dunia ini memang bakal berakhir di sini?
Hari pertama aku memperkenalkan diri kepada Kepala Kamar Mesin (KKM), aku langsung disuguhi pertanyaan absurd.
“Det, apa hal pertama yang harus kamu cari di kamar mesin?” tanya beliau.
“Izin, Bas. Mesin induk dan mesin bantu,” jawabku mantap, memeras seluruh teori yang kudapat dari kampus.
“Goblok! Kamu dari kampus mana? Pertanyaan dasar begitu saja salah!”
Tubuhku mendadak dingin. Aku hanya bisa tersenyum canggung untuk menutupi rasa malu, sementara di dalam hati aku merutuk karena nama almamaterku ikut dipertaruhkan. “Besok harus tahu jawabannya! Mulai hari ini sampai tiga bulan ke depan, kamu ikut kerja harian sama Mandor Mesin!” perintahnya mutlak. Aku hanya bisa menyahut, “Siap, Bas!”
Nama mandorku adalah Ainul. Orang kapal biasa memanggilnya Mandor Inul atau lebih sering disapa ‘Dor’ saja. Sosoknya pria paruh baya yang polos dan suka bercanda. Baginya, hidup adalah kerja; dia tidak pernah menjelaskan teori apa pun. Jujur saja, ilmu yang kudapat darinya tidak seberapa, mentok hanya cara mengganti lampu neon dan teknik membuka-tutup baut mesin. Namun, aku sudah menganggap Mandor Inul seperti paman sendiri. Dia tidak pernah marah, bahkan saat aku melakukan kesalahan fatal sekali pun.