“Kamu ini bagaimana toh, Mas? Belum juga setahun sudah minta turun.” ucapnya dengan nada meremehkan, matanya menatapku seolah aku adalah pelari yang menyerah di tengah jalan.
“Saya harus menyelesaikan tugas kampus, Pak. Di atas kapal, waktu saya penuh untuk kerja. Saya tidak punya ruang untuk belajar.” jawabku, mencoba menahan getar di suara agar tetap terdengar tegas.
Dia menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di dada dengan angkuh. “Terus, bagaimana dengan sijil-mu? Kamu pikir segampang itu?”
“Saya bisa minta bantuan senior yang bekerja di otoritas pelabuhan, Pak. Urusan administrasi bisa saya atur sendiri.” balasku cepat. Aku sudah menyiapkan skenario ini di kepala sejak berbulan-bulan lalu.
Wajahnya mengeras. “Tidak bisa begitu lho,Mas! Kalian itu masih tanggung jawab kami selama satu tahun penuh. Aturan tetap aturan.”
Aku menarik napas panjang, mencoba celah terakhir yang kupunya. “Saya pastikan semuanya aman, Pak. Laporan bulanan ke prodi akan terus saya perbarui setiap awal bulan supaya tidak mencurigakan. Intinya, aman.”
“TIDAK BISA!” bentakannya meledak, memutus kalimatku dan membuat suasana di ruangan sempit itu mendadak kaku. Aku tidak membalas lagi. Percuma bicara dengan batu. Aku berbalik, melangkah keluar lalu membanting pintu.
Perasaan kesal dan gundah bercampur aduk, menyesak di dada saat aku berjalan menyusuri lorong kamar ABK yang satu tingkat dengan anjungan. Lampu-lampu neon di langit-langit lorong berkedip suram seolah ikut mengejek kegagalanku. Aku terus berjalan menuju ujung lorong ke dalam kamar sempit yang menjadi saksi bisu hari-hariku yang menjemukan. Di sana, aku hanya bisa terduduk diam, mendengarkan deru mesin kapal yang seakan tertawa karena aku masih terjebak di dalam perutnya.
Saat kapal sandar aku tidak membuang waktu. Aku menyelinap menuju kantor cabang perusahaan, membawa satu misi rahasia: mengakhiri masa praktik ini lebih awal tanpa sepengetahuan kampus. Di kepalaku, rumah adalah satu-satunya tempat agar aku bisa fokus mengejar tumpukan tugas ujian yang terbengkalai. Aku hanya ingin tenang dan jauh dari deru mesin dan pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan kuliahku.
Namun, harapan itu membentur dinding tebal di ruang SDM. Petugas di sana sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Baginya, aku hanyalah ‘anak bawang’ yang terlalu berharga untuk dilepaskan. Bagaimana tidak? Perusahaan mendapatkan tenaga tambahan tanpa perlu mengeluarkan sepeser pun upah, tanpa beban asuransi, dan tanpa jaminan keselamatan. Sulit rasanya bagi mereka melepas seorang budak yang terbungkus rapi dalam label ‘menuntut ilmu’.
Padahal, aku tahu di luar sana masih banyak perusahaan yang memanusiakan cadet, memberi uang makan atau bonus bulanan sebagai tanda terima kasih. Namun di sini, aku justru merasa sedang pelan-pelan dicekik secara lahir dan batin.
Penderitaan itu paling terasa saat jam makan tiba. Sajian di atas piring kami lebih buruk daripada pakan kucing rumahan. Bayangkan saja, hanya ada segenggam nasi yang ditemani setengah sendok sambal, tiga biji ikan teri, dan beberapa butir kacang tanah. Kadang, kemewahan ikan teri itu diganti dengan dua potong tahu yang diiris tipis, begitu tipis, hingga rasanya lebih mirip lembaran karton daripada makanan manusia.
Setiap kali jam makan tiba, koki sudah menata kotak-kotak di atas meja dapur. Di atas tutupnya, tertempel label nama setiap kru kapal agar jatah kami tak tertukar. Tugasku biasanya adalah mengumpulkan semua kotak makan untuk kru mesin, lalu membawanya ke lorong kamar. Di sanalah ‘perjamuan’ kami dimulai.
Kami tidak makan di atas meja. Kami hanya duduk bersila di lantai, tepat di lorong, depan pintu kamar masing-masing yang saling berhadapan. Di lorong sempit itu, kami duduk berderet menyantap apa yang lebih pantas disebut pakan daripada hidangan manusia.
Meski apa yang ada di hadapan kami jauh dari kata layak, hal baiknya, tak ada caci maki yang keluar. Alih-alih menyumpah kami justru menertawakan nasib lewat banyolan ringan kepada kotak makan di hadapan kami. Tawa itu menjadi bumbu yang paling terasa untuk menutupi rasa hambar dari nasi yang keras dan lauk seadanya.
Momen terbaik adalah ketika salah satu kru masuk ke kamarnya, lalu keluar membawa ‘harta karun’, entah itu seplastik kerupuk ikan atau sisa abon yang ia simpan rapat-rapat dalam kamarnya. Saat bungkusan itu dibuka dan dibagikan ke piring-piring kami, rasanya seperti mendapat sebuah kemewahan. Setidaknya, taburan abon itu membantu kami menelan nasi yang sulit melewati tenggorokan.
***
Setelah penolakan telak dari kantor cabang, aku hanya bisa merebahkan tubuh di atas kasur keras ini. Pikiranku kalut. Pada dinding kamar, beberapa serangga mirip kecoa hilir-mudik dengan santai. Kadang, aku merasa mata kecil mereka sedang menatapku dengan iba, seolah kasihan melihat manusia yang nasibnya lebih menyedihkan dari mereka.
Kamar sempit yang pengap, bau oli dan solar yang menguar dari wearpack di balik pintu, serta kenyataan bahwa aku bekerja dari pagi hingga malam tanpa bayaran, semuanya menyatu menjadi sesak yang hebat. Bahkan, untuk istirahat pun aku masih diberi ketidaklayakan.
Aku tersentak dan bangkit dari posisi tidurku. Percakapan lama yang tiba-tiba terputar jelas di kepalaku. Suara Mas Hambali Sang juru minyak, kembali bergema di telingaku, lengkap dengan logat Surabaya-nya yang kental.
“Aku ini termasuk beruntung, Lee. Kalau bukan Ainul yang bantu, aku tidak bakal bisa kerja di kapal ini,” ucapnya waktu itu sambil menyeka pelipisnya yang berkeringat. Dia tersenyum getir, mengakui sebuah realitas. “Coba kau perhatikan, hampir semua perwira di sini lulusan kampus mentereng – PIP Semarang, Poltekpel Surabaya, STIP Jakarta. Aku? cuma tamat SMA blas, Lee.”
Mas Hambali mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan di antara deru generator. “Si Ainul itu mertuanya menjabat di SDM Pusat, Lee. Namanya Pak Ketut. Baginya, memasukkan atau mengeluarkan orang dari perusahaan ini semudah membalik telapak tangan. Apalagi kamu yang cuma kadet, Lee.”
Aku termenung sejenak di kegelapan kamar. Mandor Ainul adalah kunci yang selama ini aku cari. Dibandingkan Bas Dalya yang kaku dan galak, Mandor Ainul jauh lebih cair. Ia suka bercanda dan pembawaannya santai. Namun, aku tahu, perihal ini tidak bisa dilakukan dengan gegabah. Aku belum pernah menceritakan niatku padanya dan mungkin permintaanku saat ini akan membebani posisi Mandor Ainul.
Aku harus menyusun strategi. Aku butuh pendekatan yang halus untuk meluluhkan hatinya jika aku ingin segera turun dari ‘Alcatraz’ ini, aku harus memastikan mandor Ainul ada di pihakku.
Sore itu, aroma logam terbakar memenuhi workshop. Aku melihat Mandor Ainul sedang mahsyuk memotong bilah logam. Inilah saatnya. Aku mendekat, membawakan secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul, lalu meletakkannya di atas meja kerja. “Ndor... Ngopi dulu,” ujarku memecah suara bising.
Ia mengangkat topeng lasnya, menyeka keringat di dahi. “Tumben Det. Biasanya ogah-ogahan kalau disuruh bikin kopi,” tanggapnya diiringi senyum mengejek.
“Sesekali berbakti, toh, Dor,” balasku.
“Kamu habis pesiar ke daratkan? Cari cewek, ya?” godanya lagi.
Aku hanya mendengus. “Boro-boro, Dor. Mana ada yang tertarik sama kadet. Sudah kusam, kere lagi.”
“Loh, seragam kampusmukan keren Det, pasti banyak yang klepek-klepek, Hehe” Ia tertawa kecil, lalu menyesap kopi buatanku.
“Sudahlah, Dor. Belum waktunya cari cewek. Ada yang bisa saya bantu sekarang?” tanyaku, mencoba masuk ke mode rajin.
“Ya sudah, Det. Pel lantai kamar mesin saja.”
Langkah pertama berjalan mulus. Aku mengerjakan tugas mengepel itu dengan semangat yang tak biasa—semua demi menarik simpati sang juru kunci agar aku bisa segera keluar dari logam terapung ini. Selesai bekerja, aku naik ke dek atas untuk membersihkan diri dan merendam pakaian yang sudah jenuh dengan bau oli dan solar.
***
Saat mengantre jatah makan malam, aku kembali dihadapkan pada kenyataan pahit. Di dalam kotak makan itu hanya ada sebutir telur rebus yang berenang di kuah bening nan pucat, ditemani lima keping kerupuk.
Hari-hari mendapati makanan seni abstrak begini membuatku berkali-kali harus menahan umpatan kasar. Kami adalah ujung tombak yang memutar roda keuangan perusahaan, namun hanya diberi ‘hadiah’ makan malam yang menyedihkan oleh koki. Sungguh ironis. Perusahaan ini gemar memamerkan penghargaan sebagai armada dengan pelayanan terbaik, sementara orang-orang yang memberikan pelayanan itu sendiri jauh dari kata sejahtera. Aku yakin, ketimpangan ini bukan hanya milik dunia pelayaran, tapi juga merayap di berbagai sektor ketenagakerjaan lain di luar sana.
Tapi, malam ini aku punya rahasia kecil. Sebelum kembali ke kapal tadi, aku menyempatkan diri membeli satu porsi sop kambing. Niat awalnya, sop itu akan menjadi penyelamat selera makanku yang sudah lama mati suri. Aromanya yang gurih mulai mengusik hidung. Membayangkan daging empuk dan kuah hangatnya saja sudah membuatku menelan ludah.
Tapi kemudian aku tersadar, ada yang lebih mendesak daripada sekadar urusan perut yang lapar, urusan rencana pelarianku. Sop kambing ini terlalu berharga jika hanya berakhir di perutku sendiri. Ia harus menjadi bagian strategi untuk meluluhkan hati Mandor Ainul.
Tok...tok...tok
Gagang pintu berderit. Separuh wajah seorang wanita menyembul dari balik celah yang terbuka sempit. Aku tertegun. Enam bulan aku menghuni besi terapung ini, dan seingatku tak satu pun ada crew perempuan di kapal ini.
“Buat Mandor, bilang dari Kadet Wawan,” Ujarku singkat.