SHOGANAI

L DARMA
Chapter #13

MASALAH AKAN BERLALU (LALU LALANG)

Setelah menikmati libur panjang di rumah—walaupun sebenarnya aku sibuk mengerjakan tugas praktik—aku anggap saja itu sebagai masa rehat. Aku tidak perlu lagi menyantap masakan khas kapal, tidak perlu lagi mencium perpaduan aroma solar dan keringat di kamar mesin, dan aku tidak perlu lagi mengenakan wearpack yang mengeras akibat keringat yang terus-menerus basah lalu kering di badan.

Namun, setelah semua tugas kuliah hampir terselesaikan, waktu yang ditunggu sekaligus tidak ditunggu itu pun tiba. Waktunya kembali ke kampus.

Dengan segala kehidupan yang memaksa untuk bertahan hidup, setiap napas yang mengandung resah, dan setiap ketenangan yang justru membuatku bergidik. Selalu timbul tanya: “Masalah apa lagi yang sebentar lagi akan datang?” Di kampus ini, kami skeptis dengan ketenangan, tawa dan suasana tentram. Selalu saja ada masalah yang hadir tepat saat rasa damai itu muncul. Kalaupun bukan kekerasan fisik yang kami dapatkan, hal lain yang menanti adalah hukuman yang lebih mengerikan bagi kami, seperti larangan Izin Bermalam (IB) selama sebulan penuh. Jujur, hukuman seperti itu jauh lebih menjengkelkan ketimbang harus dipukul senior. Pasalnya, selepas dipukul, masalah langsung kelar dan tidak berlarut-larut—serta yang terpenting tidak mengganggu hak kami untuk menikmati liburan 24 jam tanpa aroma kampus.

Izin Bermalam (IB) adalah proklamasi kemerdekaan bagi kami. Dari sekian banyak bunyi bel yang mengatur hidup, hanya satu yang sanggup menerbitkan senyum: nada melengking hari Jumat tanda IB dimulai. Seketika lapangan merah di depan gedung utama penuh oleh barisan manusia yang haus kebebasan. Namun, kemerdekaan ini bukan milik semua Taruna, mereka yang tertahan piket serambi, piket jaga pos, piket bendera, atau para ‘tahanan kampus’ yang sedang menjalani hukuman hanya bisa menelan ludah menatap kami yang meninggalkan kampus untuk izin bermalam..

Pelarian kami dimulai dengan bertaruh nyawa di atas mikrolet bobrok—satu-satunya penguasa jalanan yang menghubungkan kampus dengan terminal pusat kota. Kendaraan itu tampak seperti peninggalan sejarah yang dipaksa bekerja melampaui batas usianya. Setiap kali ban menghantam lubang, seluruh kerangkanya bergetar mengeluarkan bunyi derit yang menyayat telinga. Dengan suspensi yang mati, perjalanan itu terasa seperti menunggang kuda liar ketimbang naik angkutan umum, lengkap dengan dentuman musik funkot ketinggalan zaman yang memekakkan telinga.

Dibutuhkan waktu hampir satu jam untuk kembali melihat peradaban. Kampus kami memang dirancang untuk mengurung manusia. Akses tunggal berupa jalan aspal bergelombang dengan lubang-lubang sedalam kolam yang cukup nyaman bagi ikan lele untuk beranak-pinak. Tepat di depan gerbang, Sungai berwarna cokelat terbentang luas, sementara sisi lainnya dikepung rawa-rawa dengan tumbuhan gambut yang meranggas liar setinggi orang dewasa. Di balik rimbun semak itu, taring buaya dan lilitan ular jauh lebih mengerikan ketimbang kepalan tangan senior. Niat untuk melarikan diri langsung ciut ketika memandangi bentangan alam ini.

Itulah mengapa meski hanya dalam hitungan jam, IB terasa sangat sakral. Ada embusan napas lega yang panjang ketika pandangan kami akhirnya bertemu dengan bentangan sungai, kilang minyak, dan deretan perumahan dinas Pertamina. Di saat itulah pikiran kami melayang jauh—menyusun daftar menu makanan yang selama ini diharamkan oleh kampus.

Namun nyataannya, tidur lebih menjadi pilihan ketimbang menjajal makanan, nongkrong ataupun jalan-jalan di mall. Kami bisa tidur seharian lalu bangun menyisakan dua jam sampai kami harus kembali lagi ke kampus.

Aneh bagaimana aspal yang sama bisa memiliki dua nyawa. Saat berangkat, jalan itu terasa seperti karpet merah menuju kebebasan. Namun ketika pulang, jalan ini berubah menjadi lorong liminal yang muram—bak sebuah ambang menuju eksekusi hukuman gantung.

Di dalam mobil, Aku, Peni, dan Fay hanya bisa saling melempar keluh; gundah yang pekat merayap di antara kami seiring jarum jam yang seolah-olah berpacu lebih cepat. “Kenapa harus pulang secepat ini?” Keluh kami di mikrolet itu.

Perasaan itu terus memuncak hingga moncong kendaraan terhenti di depan gerbang. Di pos depan sudah ada sambutan berupa tatapan tajam pengasuh dan senior yang sudah siap menggeledah barang bawaan kami.

***

Fay dan Peni   sudah dua hari lebih dulu mendekam di kampus. Sementara aku saat ini masih duduk di dalam mobil yang melaju dan membelah jalanan bobrok yang rasanya bak menuju tiang gantungan. Tatapanku kosong—hanyut dalam aliran Sungai terpanjang di pulau Sumatra itu.

Lamunanku pecah saat moncong mobil berhenti di depan gerbang. Prosedur pemeriksaan barang sedang berlangsung. Sengaja aku pulang di penghujung tenggat demi memeras setiap detik kebebasan meski hanya untuk tidur. Sebab, bagiku tidur adalah satu-satunya bentuk balas dendam paling indah dan tenang terhadap dunia yang penuh aturan dan hukuman ini.

Setelah pemeriksaan barang bawaan di gerbang telah usai, aku kembali ke barak yang sudah setahun lalu aku tinggalkan.

“Selamat datang, Bro.” sambut Peni saat aku melangkah masuk.

Di sudut lain Fay menimpali dengan seringai nakal yang khas. “Selamat datang, Mas-mas tukang pijit.”

Belum sempat meletakkan tas, Fay sudah menyambar dengan instruksi. “Segera masukkan bajumu ke lemari. Sore nanti kita langsung bimbingan Kertas Kuliah Wajib dengan Pak Noor.”

Aku mendengus, melempar tas ke kasur dengan gusar. “Baru saja sampai sudah langsung diserbu begini.”

“Entahlah, daftar dosen dan anak bimbingannya sudah keluar. Kebetulan cuma Pak Noor yang gas pol hari ini.” balas Fay.

“Aku satu kelompok dengan siapa?” tanyaku sambil membuka lemari.

“Kita bertiga satu kelompok, ditambah tiga orang lagi dari prodi Nautika.” pungkas Fay,

Melihat Peni dan Fay yang begitu siap dengan tugas akhir mereka, aku sempat merasa optimis. Kami membedah poin-poinnya sepanjang hari, mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum melangkah ke ruang bimbingan.

Namun, sore itu menjadi sejarah yang pahit. Pak Noor membantai kami tanpa ampun. Jarinya lincah mencoret hampir seluruh lembar kertas seolah kerja keras kami seharian tak lebih dari tumpukan kertas tak bermakna. ‘Sampah’ desisnya pelan. “Sekelas anak SMP.” Kami hanya bisa menelan ludah. Padahal kata senior terdahulu, Pak Noor identik dengan tipe dosen yang sabar dan kalem. Namun, sore ini sosok yang ada di depan kami justru sebaliknya—seorang penguji teliti yang tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk pembelaan.

***

“Kita butuh printer sendiri kalau mau bereskan karya tulis ini.” ujar Fay. Matanya masih menatap nanar coretan Pak Noor. Peni mengangguk setuju, sambil merapikan tumpukan kertas yang berantakan. “Patungan saja, mari kita  tentukan berapa perkepala.” Ujarku.

Selama bimbingan itu, terhitung kami telah berganti printer sebanyak lima kali. Di balik iuran yang terus menagih, aku diam-diam memerhatikan Peni. Ada rasa prihatin yang menyesak, sebab aku tahu dia bukan datang dari keluarga yang berkelimpahan.

Ingatanku melayang pada suatu malam, tepat setelah kami menerima ‘salam olahraga’ dari senior. Dengan tubuh yang remuk dan wajah sembab, kami terjaga bukan karena rasa sakit pada sekujur tubuh melainkan karena hanyut dalam percakapan.  Di koridor selasar barak yang remang kami duduk melingkar—membuka lembar demi lembar rahasia tentang hidup kami sebelum terkurung di kampus ini. Di antara napas yang lelah, Peni menitipkan ceritanya.

“Ayahku meninggal dunia akibat tertembak peluru saat usiaku masih tiga tahun. Malam itu terjadi baku tembak di area peti kemas.”  tutur Peni tanpa ekspresi. “Tanteku bilang, beliau dahulu adalah penguasa di Pelabuhan. Seorang preman yang disegani.”

Ia terdiam sejenak, tatapannya lurus ke depan. “Setelah kepergian Ayah, Ibu memutuskan untuk merantau ke Bangka Belitung. Namun, tragisnya, ia hanya mencari nafkah untuk menghidupi dirinya sendiri. Aku dititipkan kepada kakak sepupuku dan dialah yang menanggung seluruh kebutuhanku termasuk biaya kuliahku hingga sekarang.”

Aku hanya tertegun mendengar pengakuan itu. Ada rasa sesak yang menjalar di dada. Peni tumbuh besar dalam asuhan seorang saudara sepupu, bukan saudara kandung, apalagi orang tua sendiri. Sementara itu, ibunya bukan hanya enggan membiayai, tetapi bahkan hampir tidak pernah menunjukkan batang hidungnya.

***

Sudah lima kali mesin pencetak ini menyerah dan lima kali pula kami melakukan kebodohan yang sama. Kami terjebak dalam siklus membeli mesin bekas yang murah, hanya untuk menyaksikannya sekarat dalam hitungan hari. Jika dihitung kembali, total biaya yang kami keluarkan sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk membeli satu unit mesin cetak baru yang berkualitas. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Untuk kesekian kalinya kami harus sokongan. Aku melirik Peni yang duduk terdiam di sudut barak. Hatiku mencelos membayangkan ia harus kembali merogoh saku menyisihkan lembaran terakhir dari uang sakunya yang sudah terbatas hanya demi menambal ketololan kolektif ini.

Sebenarnya, kerusakan printer ini menyisakan kekesalan yang sulit diungkapkan. Kami memegang teguh prinsip jiwa korsa yang ditanamkan sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus ini. Siapa pun rekan angkatan yang datang meminjam untuk urusan bimbingan, pintu kami selalu terbuka untuk mereka. Syaratnya sederhana, jika tinta habis segera diisi kembali. Kami tidak keberatan berbagi beban asalkan jalan perkuliahan kawan-kawan lancar. Namun, sering kali kemurahan itu berakhir dengan mesin yang rusak karena kelalaian rekan-rekan ku sendiri.

Doktrin korsa telah mendarah daging—melampaui sekadar urusan akademik. Di sini, istilah ‘kehilangan barang’ hampir tidak berlaku. Barang pribadi seolah berputar layaknya arus keuangan—berpindah tangan namun tetap dalam lingkaran yang sama. Mulai dari kaos putih polos hingga benda yang paling absurd: celana dalam. Fenomena ini tentu saja hanya berlaku di barak laki-laki.

“Woi! Siapa lagi yang mencuri celana dalamku di jemuran? Jangan sampai aku geledah seluruh barak, ya!”

Bentak Anas menggelegar hampir tiap malam. Dialah sosok paling vokal jika sudah menyangkut urusan jemuran yang raib. Kami hanya menyeringai setiap kali gerundelan tentang celana dalam itu ia dampratkan ke seluruh penghuni asrama. Kami sudah terbiasa dengan ritual harian seperti itu. Ada hukum tak tertulis di sini: jika beruntung, tiga hari kemudian celana dalam itu akan kembali tergantung manis di tali jemuran. Jika tidak, bersiaplah menemukannya tergeletak lesu di semak belukar di belakang pagar kampus.

Perkara celana dalam selalu berhasil memecah lamunan melankolisku. Meski terdengar konyol, memoriku tentang kejadian pagi itu selalu memicu tawa setiap kali melintas di kepala.

Pagi itu, selepas kegiatan olahraga yang menguras peluh, Peni mendatangiku dengan langkah gontai. Wajahnya tampak canggung, bercampur gusar yang tertahan. Ia berdiri di hadapanku sambil menggerutu meratapi lemarinya yang kini melompong tanpa menyisakan selembar pun celana dalam.

“Anak-anak Kampang!!” umpat Peni dengan nada kesal sambil menggelengkan kepala. “Delapan lembar celana dalamku hilang kena curi. Cuma yang ku pakai sekarang ini yang tersisa. Mana sudah basah lagi karena keringat.”

Tawaku seketika menggelegar memenuhi ruangan. Bagi orang luar, mungkin ini adalah hal absurd yang sama sekali tidak lucu. Namun bagiku, ada komedi getir di sini. Saat orang-orang di luar sana meratapi kehilangan uang atau barang berharga, kami di sini justru meratapi celana dalam yang raib.

“Hahaha! Sudahlah Pen. Pakai saja milikku dulu.” ujarku sambil berusaha meredam sisa tawa. “Besok pas izin bermalam beli baru di pasar.”

Peni hanya bisa terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Pinjam dulu ya Wan. Bukannya aku tidak bisa balas mencuri, Takutnya  yang punya sempak kurapan.”

“Ya sudah, ambil saja celana dalamku. Besok pas IB kamu bisa beli baru di pasar.” Pungkasku. Begitulah gambaran jiwa korsa di tempat ini. Ia merasuk hingga ke ranah yang paling pribadi sekalipun.

Hidup di dalam kampus ini berarti hidup dalam keterbatasan. Aturan yang mengikat membuat kami tidak bisa semudah itu melangkah keluar hanya untuk sekadar membeli keperluan pribadi. Instruksi dari pengasuh sudah jelas: jika masih bisa meminjam, maka pinjamlah. Itulah mengapa di sini, meminjamkan barang—mulai dari printer untuk keperluan tugas akhir hingga hal yang paling personal seperti celana dalam pun—menjadi bentuk solidaritas yang lumrah.

Namun, realitas di lapangan sering kali tak seindah teori kebersamaan ini. Alasan itulah yang memaksa kelompok kami sampai lima kali mengganti printer. Tidak semua orang bersedia berbagi. Kami pun tidak bisa menyalahkan siapa pun saat ini. Menjelang sidang akhir, atmosfer kampus berubah menjadi medan tempur yang sangat sibuk.

Kesibukan itu kian mencekik karena kami tetap harus menjalani rutinitas kedisiplinan yang tak kenal kompromi. Hukuman korsa akibat kesalahan sepele sering kali menyita waktu istirahat yang sangat berharga. Aku masih ingat saat angkatan kami harus menjalani hukuman hingga pukul 02.00 dini hari, padahal di saat yang sama tumpukan kertas revisian bimbingan sudah menanti untuk dikerjakan.

Sistem di sini memang berbeda dengan kampus pada umumnya. Kami hanya diberi waktu bimbingan yang sangat singkat—tak lebih dari dua minggu. Kami harus bergerak serempak karena para dosen memiliki jadwal yang padat di luar kampus, sementara kami dilarang keras menginjakkan kaki keluar gerbang untuk menemui mereka. Dalam kondisi yang serba terhimpit antara kegiatan kampus yang padat dan progres bimbingan yang harus terus dikejar, kami akhirnya belajar untuk memaklumi penolakan kelompok lain. Mereka pun sedang berjuang mati-matian agar tidak tertinggal.

Empat hari menjelang sidang, ketenangan menjadi barang mewah yang mustahil kami miliki. Serangkaian bimbingan masih bergulir, sementara draf kertas kerja kami masih dipenuhi coretan dari Pak Noor. Tubuh kami mulai mencapai titik nadir; kurang tidur menjadi kawan akrab. Siang hari kami habis diperas oleh ujian komprehensif dan ujian Track Record Book (TRB)—sebuah ajang pembuktian atas seluruh laporan pekerjaan kami selama di atas kapal. Maka, malam hari adalah satu-satunya celah waktu yang tersisa untuk bergelut dengan kertas kerja wajib dan mesin pencetak yang kerap menunjukkan tanda-tanda ajalnya segera tiba.

Malam itu, Aku dan Fay terpaku di depan layar laptop masing-masing. Di sekeliling kami, rekan-rekan satu barak melakukan hal yang sama. Tak ada lagi tawa atau senda gurau yang biasanya memecah keheningan. Semua orang masuk mode ambisius. Sebenarnya, ada aturan baku dari pengendali yang melarang aktivitas apa pun setelah jam tidur. Namun, sebagai taruna, kami belajar untuk ‘bijak’ dalam menyikapi aturan. Risiko tidak mengikuti sidang tepat waktu bahkan gagal wisuda jauh lebih mengerikan daripada sekadar hukuman fisik dari pengasuh. Jika tertangkap basah, konsekuensinya paling-paling hanya push-up atau lari malam memutari lapangan apel.

Lampu barak telah dipadamkan, menyisakan kegelapan yang hanya ditembus oleh pendar cahaya dari layar monitor. Di tengah kesunyian malam, hanya terdengar deru halus mesin printer dan suara ketukan keyboard yang bersahutan hingga fajar menyingsing. Suasana barak malam itu tak ubahnya ruang kerja korporat yang sedang mengejar tenggat lembur di akhir tahun.

Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Di bawah pendar layar laptop yang menyinari wajahnya, aku bisa melihat raut gusar Fay dengan jelas. Ia berkali-kali mengetuk pelan bagian atas mesin pencetak keempat yang baru saja kami beli, seolah sedang mencoba membangunkan benda mati itu.

“Kenapa, Fay?” tanyaku pelan, memecah kesunyian.

“Macet lagi.” sahutnya pendek. Jari-jarinya bergerak lincah di atas touchpad, matanya terpaku pada layar tanpa berpaling sedikit pun.

“Sabar. Jangan terlalu keras, nanti benar-benar rusak. Kita tidak mungkin membeli printer lagi untuk kesekian kalinya,” ujarku sedikit ketus.

Tak lama kemudian, suara mekanis printer itu kembali berderu pelan. Selembar kertas kerja akhirnya keluar dengan mulus. “Hufftt... Syukurlah,” desis Fay sambil menyeka keringat dingin di dahinya.

“Boi, Peni mana?” tanyaku, tiba-tiba teringat sosoknya.

“Selepas isya tadi, aku melihatnya di depan barak tingkat dua bersama Rio,” jawab Fay sambil memeriksa hasil cetakannya.

“Apa revisinya sudah rampung? Aku belum melihatnya lagi sejak bimbingan dengan Pak Noor siang tadi.”

“Mungkin dia sedang mengerjakan revisi di barak sebelah,” tanggap Fay.

“Beres.... Aku tidur duluan.” tutup Fay sembari merapikan meja kerjanya dan bergegas menuju ranjang.

Tersisa sekitar 30 menit lagi sebelum pengeras suara dari masjid berbunyi. Sempat terbersit keinginan untuk ikut merebahkan diri di atas kasur dan mencuri waktu beberapa menit untuk memejamkan mata. Namun, terlalu tanggung rasanya untuk tidur pada jam segini apalagi besok pagi pukul 09.00 WIB kami sudah ada janji yang untuk melakukan bimbingan dengan Pak Noor. Beberapa rekan yang lain sudah menyelesaikan tugas mereka dan merebahkan badan. Sementara itu, aku masih bergelut dengan revisian sambil menahan kelopak mata yang berat—seakan ada monyet yang bergelayut.

Di sela kantuk itu, tiba-tiba...

Sreeettt...

Di ambang pintu, cahaya lampu selasar membingkai siluet tubuh tegap yang berdiri dengan kaki kokoh terbuka melebar. Meski wajahnya berada di balik bayangan, aku kenal dari cara berdirinya. Tangan terkunci di belakang pinggang dan dada yang membusung angkuh. Itu Komandan Ferdinand.

Ia melangkah menuju meja Apek yang masih bergelut di hadapan pendar cahaya laptop. Di bawah sorot lampu ruangan yang remang, guratan merah bekas kasur masih tercetak jelas di pipi Komandan Ferdinand—tanda bahwa ia baru saja terjaga dari tidurnya.

“Mana Peni?” Suara berat itu keluar tanpa basa-basi.

Apek tersentak, punggungnya menegak sempurna saat ia menyergah, “Siap, izin, Ndan. Saya cari sekarang!” Sergah Apek. Demikian pun Aku bergegas membantu mencari Peni.

Barak kami seketika benderang saat Apek menekan sakelar lampu. Kami mulai menyisir setiap sudut, menyingkap selimut pada tiap-tiap ranjang, namun sosok yang dicari tak kunjung ditemukan. Aku beranjak menuju barak sebelah. Rasa kantukku menguap entah ke mana, berganti dengan desakan insting untuk segera menemukan Peni, meski lidahku kelu untuk bertanya mengapa Komandan mengapa mencarinya se-pagi ini.

Kami didoktrin untuk tidak menunggu perintah hingga benar-benar terlontar. Cukup dengan satu pertanyaan dari atasan, kami harus sudah melesat seolah itu adalah instruksi antara hidup dan mati. Langkah kakiku yang terburu-buru menyusuri lorong barak tidak mampu meredam riuh spekulasi yang menghantam kepala. Mengapa harus se-pagi ini?

Logikaku mencoba mencari pembenaran, barangkali hanya urusan batalion karena Peni masih menjabat sebagai komandan, meski kini tugasnya tidak seaktif dulu. Atau mungkin ada urusan angkatan yang memerlukan tanda tangannya segera. Tapi, di bawah pendar lampu lorong yang kuning pucat, kecemasan makin justru tumbuh subur.

Dada yang sesak membuatku sulit menarik napas panjang. Bayangan tentang pelanggaran aturan, sanksi berat, hingga kejutan pahit sering kali datang tanpa peringatan di kampus ini, demikianlah mulai berkelindan di benak. Di tempat ini, pemanggilan mendadak sebelum matahari terbit sulit untuk membuatku meyakini jika itu kabar baik. Aku merapatkan rahang, berusaha mengusir kemungkinan-kemungkinan buruk yang kian liar menggerogoti ketenangan.

Gema suara senior bertahun-tahun lalu kembali berdenging di telingaku. Doktrin yang ditanamkan sejak hari pertama kami menginjakkan kaki di sini: menjadi pengadu adalah titik terendah dari seorang taruna. “Dari angkatan satu hingga tiga puluh sembilan, tidak ada satu pun pengadu.” Demikian mantra itu diucapkan. Kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan tabir yang menutupi jejak kekerasan dan melindungi sistem yang mulai membusuk dari dalam. Sebuah kode etik tersembunyi yang dipelihara demi menjaga tradisi meski sewaktu-waktu taruhannya adalah nyawa.

 Aku mengguncang bahu Fay yang baru saja hanyut dalam mimpinya.

“Fay, bangun! Bantu cari Peni.” bisikku mendesak.

Fay terduduk kaku. Matanya masih terkatup rapat, sementara sisa air liur masih membekas di sudut bibirnya yang kering. Ia tampak seperti mayat hidup yang dipaksa berdiri.

“Ayo, cepat!” Aku menarik lengannya dengan paksa agar ia segera menjejakkan kaki ke lantai.

“Aiihhh, apa, lah, kau, ini. Gerutunya kesal.

“Komandan Ferdinand yang memerintahkan. Beliau masih berdiri di depan pintu barak.” jawabku pendek.

Seketika gerutuan Fay mati. Matanya yang semula sayup langsung membelalak lebar dan kantuk yang menyelimuti menguap dalam sekejap begitu nama sang komandan disebut.

Ada salah satu statment senior pada saat awal kami baru menginjakkan kaki disini, waktu awal kami di doktrin agar tidak menjadi seorang pengadu, sebab titik terendah dari seorang Taruna adalah jadi seorang pengadu. ‘Dari angkatan satu hingga angkatan 39, tidak ada seorang pun taruna yang mengadu.”  Ya, kata-kata itu yang membuat kami mulai terdoktrin. efek dari kata-kata itu dahsyat, itu bisa menyembunyikan tindak kekerasan yang seringkali memakan korban di kampus ikatan dinas yang lain. Kalimat yang secara tidak langsung sebagai mantra turun-temurun untuk menjaga budaya mengerikan dari sebuah sistem pendidikan yang bobrok.

Aku sedikit khawatir, sebab pemanggilan ini terjadi pada jam yang tidak wajar dan seharian aku juga tidak melihat batang hidung Peni. Sebelum aku turun mencari Peni di barak lain, aku membangunkan Dodo yang barusan saja sudah terlelap. “Do, Bangun. Bantu cari Peni.” Dodo duduk diatas ranjang dengan mata yang masih tertutup dan cairan kental lava yang masih mengalir  dari mulutnya. “Ayo, Cuk, ikut cari.” Aku menarik tangan Dodo agar segera membantu mencari Peni..

“Apa cuk, paling dia tidur di barak sebelah.” Dodo menggerutu, dengan mata sayup yang belum sepenuhnya terbuka.

Lihat selengkapnya