Suara deru marching band rutin terdengar dari arah lapangan merah. Gedung serbaguna yang jarang digunakan, kini hidup dari pagi hingga malam—menjadi tempat melaksanakan gladi resik untuk berbagai penampilan pada wisuda angkatan 40. Di sela waktu tanpa kegiatan pembelajaran, beban di pundak kami meluruh, Taruna tingkat empat bebas melakukan apa yang mereka mau.
Kantin dibuka sepanjang waktu, lapangan olahraga tak pernah sepi, dan barak menjadi tempat tidur paling nyenyak. Bahkan, memanjat pohon kelapa di pekarangan kampus pun ikhwal yang sah untuk dikerjakan. Segalanya legal, asalkan tidak menyentuh larangan baku seperti merokok atau melangkahi gerbang keluar lingkungan kampus tanpa izin. Ini adalah hari-hari paling tenang sebelum kami meninggalkan kampus. Aturan mengikat yang selama ini mencekik sengaja dihapuskan sementara waktu untuk memberi jeda bagi taruna tingkat empat yang baru saja menuntaskan tugas akhir.
Namun, di tengah kebebasan itu kisah cinta justru bermunculan di penghujung waktu. Mereka yang kasmaran dirundung sesal—mengapa tidak sedari awal saja untuk jatuh cinta? Mengapa rasa itu baru mengetuk ketika waktu hampir habis?
Kini, orang-orang yang dimabuk asmara bertebaran di setiap sudut. Selasar, gazebo, hingga taman kampus. Tempat-tempat yang dulu tampak suram dan jadi saksi saat kami menerima hukuman dari pengasuh, kini perlahan bersalin rupa. Sudut-sudut suram itu berubah menjadi tempat paling nyaman untuk sekadar duduk dan berbagi cerita seraya menghabiskan waktu untuk memupuk benih cinta sebelum perpisahan benar-benar tiba.
Aku hanya bisa mematung di balik jendela—menatap kosong ke arah lapangan sembari menunggu kabar yang tak kunjung tiba, kabar jadwal sidang susulanku. Dadaku sesak oleh kecemasan, bayangan harus mengulang satu tahun lagi atau bahkan didepak dari kampus ini terus menghantui. Selama di sini aku sudah terlalu sering melihat bagaimana ketidakpastian bisa mendadak berubah menjadi keputusan yang merugikan.
Pikiran-pikiran itu menyerangku tanpa ampun. Lantas, aku semakin sering meringkuk di atas kasur barak dan menarik selimut tinggi-tinggi tanpa menghiraukan teman-teman lain yang sedang asyik menghabiskan detik terakhir sebelum perpisahan.
Sempat terlintas di benakku untuk menemui Hayana. Namun aku segera menepisnya. Aku belum ujian akhir dan aku malu untuk menunjukkan wajah kegagalan ini di depan Hayana. Dari sekian banyak rekan angkatan hanya aku yang belum sidang. Akhirnya aku memilih untuk tetap bergelung dalam tidur dan sesekali menyelinap ke dalam toilet. Di toilet, aku menyesap dua hingga lima batang rokok Surya sendirian dan membiarkan asapnya memenuhi toilet yang sempit itu.
Ku beli rokok itu dari Mang Ali, tukang pipa yang kerap mondar-mandir membetulkan sistem air ledeng di area kampus. Ia adalah kurir rahasia bagi para taruna. Titip rokok atau makanan dari luar bisa melaluinya dengan syarat menyisihkan komisi sebesar sepuluh persen dari harga barang yang kami beli.
***
Beberapa hari telah ku lewati dengan mengurung diri. Namun malam ini aku memutuskan keluar dari cangkangku. Aku ikut bersama teman-teman menuju gedung serbaguna untuk menyaksikan junior yang sedang melaksanakan gladi bersih. Saat aku berjalan berdua dengan Fay melewati selasar, sosok yang kuhindari itu muncul. Aku bertemu pandang dengan Hayana. Hanya sekelabat sebelum kami membenamkan kepala dan menatap lantai dengan kikuk.
***
Waktu wisuda tinggal tiga hari lagi, namun aku masih belum juga melaksanakan sidang. Kami memang sudah diizinkan menggunakan ponsel dan memberikan undangan digital kepada orang tua. Namun, ketika ponsel sudah berada di tangan, aku berkali-kali mengurungkan niat untuk menghubungi mereka.
Orang tuaku pasti sudah tahu jadwal wisuda dari orang tua wali yang lain. Pikirku, apakah boleh mereka datang sementara aku saja belum sidang? Apa yang harus kukatakan kepada mereka? Bagaimana aku harus memasang wajah di depan mereka? Rasanya hancur jika harus berpura-pura tegar sementara harapan mereka terancam pupus. Aku pun pasti mengecewakan almarhumah nenek yang telah berpulang. Nenek selalu mengutarakan akan harapannya melihatku berhasil menyelesaikan kuliah dan segera bekerja di suatu tempat agar kelak aku bisa membelikannya daster baru. Terkadang seorang nenek meminta kepada cucunya bukan karena tidak memiliki uang. Ada rasa bangga tersendiri bagi seorang nenek jika cucunya sudah bisa cari uang.
Terlalu banyak orang yang kubuat kecewa. Terlalu pedih rasanya jika perjuangan selama empat tahun ini sia-sia begitu saja seolah tak ada lagi usaha yang mampu kulakukan untuk menuntaskan semuanya. Lantas, akhir dari keputusan, untuk sementara waktu aku tidak mengabari orang tua. Aku terus berusaha menemui kepala prodi untuk mencari sedikit harapan dan keberuntungan di sela waktu yang sempit ini.
Sudah lama aku tidak menyentuh ponsel dan untuk saat ini aku memang tidak mau membukanya. Aku hanya terbaring di atas kasur dengan ponsel yang masih tergenggam. Dalam lamunan menatap plafon, sekoyong-konyong panggilan terdengar dari pengeras suara,
“Perhatian! Panggilan untuk Taruna M. Darmawan, segera menuju ruang prodi sekarang!”
Aku tersentak dari tidurku—langsung mengganti baju dengan seragam PDH tanpa sempat menggosok pin dan monogram—membiarkan logam itu menguning lusuh persis seperti besi tua.
“Bagaimana kertas kerjamu, sudah selesai?” tanya Pak Noor.
“Siap, sudah. Silakan diperiksa, Pak” jawabku sambil menyodorkan kertas kerja tersebut.
Dia membolak-balik halaman dengan cepat, tampak tidak terlalu memeriksanya. Kemudian dia langsung menandatanganinya, artinya sekarang aku siap untuk sidang. Aku tertegun sesaat, masih tak percaya setelah jatuh bangun selama ini. Saat terakhir justru Ia menandatanganinya begitu saja tanpa memeriksa secara rinci seperti sebelum-sebelumnya.
“Izin terima kasih Pak. Kapan saya bisa sidang?”
“Setelah wisuda. Kamu bisa melaksanakan wisuda terlebih dahulu dan kemudian melanjutkan sidang. Yang penting, saat sidang nanti kamu bisa menjawab semua pertanyaan yang penguji berikan.”
“Baik, terima kasih, Pak.”
Angin segar merasuk ke paru-paruku. Untuk sejenak sekarang aku bisa berpikir jernih. Aku kembali ke barak dan mengambil ponsel untuk segera mengabarkannya kepada orang tuaku di kampung. Aku tidak peduli lagi pada orang-orang yang melupakanku—bahkan Fay yang sekarang pun acuh kepada kedua orang sahabatnya ini.
Setelah menelepon orang rumah, aku segera menghubungi Peni untuk memenuhi janji memberinya kabar saat aku sudah memegang ponsel. Ketika aku mencoba menghubungi Peni, sudah banyak notifikasi pesan darinya sejak beberapa hari yang lalu. Isinya adalah salam perpisahan serta ucapan terima kasih karena telah menjadi teman yang baik selama di kampus.