SHOGANAI

L DARMA
Chapter #15

KEMBALI KE LINIMASA SEKARANG

Mendekati penghujung cerita, kalian akan tahu apa yang menyebabkan malam-malamku selalu terasa dingin dan pahit. Aku tak pernah absen melamun di kamar kos ini sejak berita ini kuterima. Aku menatap kalender untuk menghitung hari yang aku sendiri pun tidak tahu menghitungnya untuk apa. Aku meratapi hal yang tak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiranku di masa lalu. Saat ini, aku harus memilih: mulai membenci atau berdamai dengan keadaan.

Tempat kerja ku saat ini sangat jauh dari kampung halaman. Aku tak pernah mengira akan bekerja di sini untuk waktu yang tak bisa diprediksi. Sewaktu kecil aku tertarik pada uang seribu rupiah—terpikat pada gambar gunung dan laut serta sampan yang tertambat di antara Pulau Maitara dan Gunung Tidore.

“Kelak, ketika dewasa aku akan melihat tempat ini secara langsung.” ucapku dalam hati puluhan tahun lalu. Lalu, Tuhan anggap itu sebagai doa dan kini semuanya terkabul. Aku baru menyadari keinginan masa kecil itu saat surat penempatanku keluar. Awalnya aku tak tahu Ternate itu ada di belahan Indonesia bagian mana, sampai mesin pencarian menampilkan gambar dari uang seribu rupiah model lama yang melukiskan potret indah gunung Tidore dan pulau Maitara. Aku bergidik ketika menyadari bahwa doa yang mustajab bukan hanya berasal dari impian yang digumamkan berulang-ulang setelah sholat. Bahkan sekelabat kata yang tak sempat terucap mulut adalah bagian dari doa yang suatu saat Tuhan kabulkan.

***

Dua tahun sudah kami di sini. Kami sama-sama mengajukan mutasi agar bisa pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah agar memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga. Dua minggu lalu, Fay pamit kepadaku karena SK mutasinya keluar lebih dulu. Ia pergi meninggalkan pesan perpisahan template melalui grup WhatsApp yang isinya para perantau dari luar kota Ternate: “Semoga kalian lekas menyusul dan segera berkumpul dengan keluarga di rumah.”

Sedih? Tentu saja. Namun, bukan itu bagian tersakitnya.

Selumbari, melalui aplikasi pesan singkat, Fay mengirimkan undangan pernikahan digital. Aku nyaris terperanjat ketika menyadari sahabatku sendiri sebentar lagi akan menikah dengan seseorang yang tidak pernah sempat kumiliki sejak masih di bangku kuliah. Kutatap lamat-lamat foto pre-wedding itu dengan perasaan tak percaya. Selama ini tak pernah ada perbincangan tentang kedekatannya dengan seorang wanita. Begitu pula aku yang tak pernah sekalipun jujur tentang perasaanku terhadap seorang wanita. Wajar jika sekarang dadaku terasa mau pecah. Aku berusaha menolak kenyataan bahwa sebentar lagi Fay akan menikah dengan Hayana.

Malam ini, aku kembali menerima undangan pernikahan yang sama—kali ini langsung dari Hayana. Setelah sekian lama menghilang, ia sekonyong-koyong muncul hanya untuk memberikan kabar buruk untukku. Kehadirannya terasa seperti angin duduk—jarang datang namun sekalinya menyapa bisa membunuh dengan sekejap.

“Maaf jika undangannya hanya via pesan. Semoga kamu bisa hadir atau paling tidak doakan saja semoga hubungan kami langgeng.” tulisnya tepat di bawah gambar undangan digital itu.

“Aamiin, insyaallah,” balasku singkat, meski tangan bergetar.

Pikiranku terlempar ke masa sehari setelah upacara wisuda. Saat itu aku menerima telepon dari teman dekat Hayana, Miki. Kalimatnya masih terngiang jelas:

“Hayana kecewa kepadamu. Kau hilang kabar selama berbulan-bulan lalu tiba-tiba muncul menyatakan perasaan lagi ketika bertemu di kampus. Hayana tidak suka caramu yang bersikap seperti badboy yang menjalin hubungan hanya saat ingin lalu pergi begitu saja saat bosan.”

           Panjang percakapan kami malam itu. Kami membahas hari-hari yang Hayana lewati ketika ia masih menyimpan sedikit rasa terhadapku—ketika cokelat batang itu secara diam-diam ia titipkan padaku melalui junior. Saat itu, ia memang telah menaruh rasa kepadaku. Ia melihat sesuatu yang menarik pada diriku ketika aku memilih diam saat ditindas padahal bukan sebab kesalahan yang ku perbuat sendiri, melainkan bentuk kekesalan senior atas penolakan dari Hayana.

Jarang melihat taruna yang tetap memilih diam ketika taruni menjadi alasan ia mendapat siksaan dari senior. Taruna umumnya akan berkoar-koar di depan taruni, bahkan memaki secara langsung dihadapan taruni. Mereka membuat ultimatum agar para taruni berhenti bersikap bodoh dan melakukan kesalahan yang berujung ‘penebusan dosa’ oleh para taruna. Demikianlah awal dari munculnya perasaan Hayana kepadaku—ketika aku bungkam dan pasrah atas semuanya namun diartikan sebuah sikap ‘sabar’ olehnya.

Lihat selengkapnya