SHOGANAI

L DARMA
Chapter #16

SEBAB AKU PERNAH MENCINTAINYA

Udara kota Palembang malam itu terasa hangat. Sehari sebelum resepsi pernikahan kami para alumni yang dapat menghadiri acara pernikahan berkumpul pada salah satu cafe yang berada di pelantaran jembatan Ampera. Di atas meja yang penuh dengan gelas kopi, tawa kami membuncah pada setiap kisah-kisah masa lalu—Apapun bentuk ceritanya selalu saja berujung lelucon yang memancing tawa bagi kami. Termasuk dari kegelapan dan kisah-kisah muram, semuanya akan jadi ceria jikalau di bawakan di atas meja pertemuan alumni. Pernikahan besok seolah hanya alasan, agenda utamanya adalah membongkar kembali ‘aib’ masa kuliah.

“Wongka, demi Tuhan. Aku masih ingat saat kita semua mandi di kolam ikan sebelum azan subuh!” seru salah satu teman sambil menggebrak meja.

Semua mata tertuju pada Wongka. Pria itu hanya bisa meringis menyembunyikan wajah di balik gelasnya yang sudah kosong. Kami kembali dilempar ke masa tingkat satu, saat Wongka ditemukan pengasuh tengah mendengkur pulas di dalam Rumah Doa dan malam itu kami semua kena getahnya. Kami dihukum menceburkan diri di kolam pada waktu dini hari.

“Bayangkan,” lanjut yang lain di sela tawa yang sesak, “seminggu penuh si bodoh ini harus lari keliling lapangan sehabis apel malam, dengan bantal di atas kepala seperti sedang parade kasur!”

Gelak tawa kami semakin pecah, bahkan sampai ada yang terbatuk-batuk menahan geli. Wongka ikut tertawa meski getir dan malu yang tertinggal pada tarikan bibir yang dipaksa. Dulu, kami mungkin mengumpat habis-habisan padanya, tapi malam ini, memori itu terasa seperti lelucon terbaik yang pernah kami miliki.

Kami bercengkrama hingga waktu pun tidak mampu menggubris. Kepingan kenangan masa-masa di kampus seakan tidak akan ada habisnya untuk kami bahas.

Asap rokok mengepul. Saat satu per satu nama ‘keramat’ itu mulai disebut. Kami tidak memanggilnya Ari. Di meja ini, dia tetaplah Taruna yang bernama ‘Buron’. Nama itu seperti pangkat abadi yang disematkan senior di pundaknya lebih melekat daripada pemberian nama dari orang tuanya sendiri.

“Buron, Louhan, Dalsim., Cimeng..” salah seorang teman mengabsen deretan nama nyeleneh itu sambil terbahak. Ada juga si Butak, Bontet, Pak Ogah, hingga Barong dan Sarimi—koleksi wajah dan kelakuan unik yang diringkas dalam julukan demi mempersatukan kami.

Mata kami beralih pada Buron. Pria itu menyeringai, mungkin teringat bagaimana gelar itu bermula. Dulu, dia adalah penyelamat sekaligus target. Dengan keahlian mengendap di balik tiang jemuran dan insting kucing, Buron menyelinap di balik kegelapan—membawa pesanan tiga slop rokok dan satu kantong kresek besar berisi makanan pesanan senior.

“Ingat saat kamu hampir diciduk pengendali di gerbang belakang, Ron?”

Buron tertawa kecil lalu menyesap kopinya dalam-dalam. “Ya, jelas aku ingat... untung saja malam itu aku berhasil melemparkan barang bukti di balik tembok kampus.”

 “Eitss.... jangan lupakan bagian terbaiknya. Kau masih ingat bukan? saat malam kejadian, apa alasanmu kepada pengendali  saat kamu ketahuan keluyuran jam satu malam?” Potong  Cimeng untuk memancing bagian terbaiknya.“  

 “Aihh... janganlah  diungkit. Malulah.. Aku tahu tak masuk akal alasan ambil duit di ATM tengah malam. Tapi aku benar-benar panik, Wak.”

Lalu kami terpingkal-pingkal mendengar kepolosan Buron. Karena ulah Si Buron, malam itu kami semua di hukum jalan jongkok mengintari kampus dengan kaki telanjang.

Tapi menariknya, akibat kegigihan Buron menjadi kurir bawah tanah itu justru membuatnya akrab dengan para senior. Saat taruna lain gemetar menghadapi para bajing loncat yang gemar menyergap di kegelapan malam, Buron justru melenggang santai masuk ke dalam barak senior dengan kantong kresek besar berisi rokok dan makanan seludupan.

***

“Mari minum. Kita tidak tahu kapan bisa berkumpul lagi, mari rayakan malam ini!” ajak Buron dengan senyum sumringah.

Semua menyambut ajakan itu dengan girang. Di sisi lain, aku terjebak dalam persimpangan. Ada kegelisahan untuk mencari alasan penolakan yang halus, namun jauh di lubuk hati, aku butuh kehadiran mereka saat ini. Aku butuh kehadiran orang lain untuk sekadar menjaga nyala hati yang hampir padam akibat sepi.

Satu per-satu kursi berderit—mereka semua bangkit dengan semangat, meng-iyakan ajakan minum tersebut. Tersisa aku sendiri yang masih terpaku di kursi. Melihat keraguanku, Buron menyodorkan tangannya. “Ayolah kawan, malam ini saja. Setelah itu kita lupakan.”

Dalam diam aku masih menimbang-nimbang. Setidaknya malam ini aku punya teman yang membantu pelarianku, pikirku. Mereka tidak perlu tahu bahwa di balik hangatnya moment pernikahan Hayana dan Fay besok, ada seseorang yang meringkuk kedinginan lalu tenggelam dalam kecewa yang tak mampu diucapkan. Aku akhirnya mengangguk. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku melangkah menuju klub malam.

“Ayo, Wan. Segelas untukmu,” tawar Cimeng.

Kami duduk melingkar di sofa beludru dikelilingi enam botol minuman yang berjejer bak nisan. Cimeng mulai menuangkan isinya satu per-satu membagikan gelas ke setiap tangan yang ada di sana.

“Ayolah... sekali-sekali tidak apa, coba saja dulu.”

Aku menerima gelas dari tangannya—meneguk isinya dengan cepat. Mataku sempat mengamati cara mereka minum, aku pernah dengar kalau alkohol itu pahit. Namun, cairan itu melewati tenggorokanku sebelum lidahku sempat memprotes.

“Widih! Dari cara meneguk sepertinya beliau sudah minum dari SD.” Banyolan Cimeng yang kemudian disambut tawa rekan-rekanku. Aku membalas dengan senyum getir.

Waktu merambat pelan. Kini tersisa satu botol terakhir. Satu per-satu dari kami mulai kehilangan kesadaran, ada yang terkulai di sofa, ada pula yang meracau tidak jelas menumpahkan curahan hati yang tidak diminta oleh siapa pun. Hanya aku dan Cimeng yang tampaknya masih cukup sadar. Aku sengaja tidak minum terlalu banyak, sementara Cimeng terlalu sibuk memastikan tenggorokan orang lain basah ketimbang tenggorokannya sendiri.

“Masih ada satu botol lagi Wan, Mubazir kalau tidak dihabiskan,” tawar Cimeng.

“Sepertinya cukup, Meng.”

Lihat selengkapnya