Shokuzai: The House of Seven Appetites

Thazaprilia
Chapter #1

Bab 1: Tujuh Kursi di Meja Makan

Lantai ruang bawah tanah itu terasa dingin dan lembap. Bau karbol pekat menggantung di udara, beradu dengan aroma karat yang samar namun menusuk. Di bawah pendar lampu bohlam kekuningan yang temaram, sebuah meja jagal baja berdiri kokoh di tengah ruangan.

Isaac berdiri tegak, perlahan menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku dengan presisi yang tenang. Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Di sampingnya, Atlas sibuk menguji ketajaman sebilah pisau panjang. Suara gesekan logam pada batu asahan memecah kesunyian malam yang pekat.

Srek. Srek. Srek.

Di atas meja baja, seorang pria terikat kencang. Mulutnya disumpal kain tebal, menyisakan suara lenguhan tertahan yang bergetar hebat. Matanya membelalak penuh ketakutan, badannya menyentak-nyentak berusaha melepaskan diri dari jeratan tali nilon yang membelit pergelangan tangan dan kakinya hingga memar keunguan.

Atlas berhenti mengasah. Ia mengangkat pisau itu sejajar dengan matanya, membiarkan cahaya bohlam memantul pada mata pisau yang kini berkilau perak sempurna. Ia menoleh ke arah Isaac, lalu mengangguk pelan tanpa sepatah kata pun.

Isaac melangkah mendekat ke sisi kepala pria itu. Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan karet hitam bergerak mencengkeram rahang sang korban dengan cengkeraman besi, memaksa kepala pria itu mendongak tegak. Napas pria itu memburu, keringat dingin membanjiri pelipisnya, membasahi permukaan meja baja.

​Atlas memposisikan dirinya di bagian tengah tubuh. Ujung pisau yang dingin itu ditempelkan tepat di atas kulit panggul sang korban. Pria itu menyentak lebih keras, air mata ketakutan mulai meleleh di sudut matanya, menyadari garis nasibnya telah ditentukan di ruangan kedap suara ini.

​"Potong tepat di sela sendi panggulnya, Atlas," ucap Isaac, suaranya terdengar sangat datar dan tenang, seolah sedang menuntun adiknya memotong selembar kain. "Jangan sampai pisau kakak tua membentur tulang, nanti serat dagingnya rusak sebelum masuk ke wajan Gravion."

Atlas menekan pisau itu perlahan namun keras. Garis merah pekat langsung merekah di atas kulit, sebelum cairan hangat mulai merembes dan mengalir mengikuti parit kecil di pinggiran meja jagal.

​"Tenang, Isaac," sahut Atlas, matanya fokus memperhatikan tiap sentimeter sayatan yang ia buat dengan keahlian yang mengerikan. "Lemaknya bagus, tidak banyak urat. Marava pasti suka bagian paha ini untuk menu sup besok malam."

Jeritan teredam pria itu semakin melengking saat bilah baja sedalam beberapa sentimeter memisahkan jaringan kulit dan ototnya. Bau amis darah yang hangat seketika menyeruak, mengalahkan dominasi wangi karbol di ruangan tersebut.

Dengan gerakan yang luwes, Atlas meneruskan sayatan melingkar di pangkal paha, mengikuti kontur anatomi tubuh dengan presisi seorang penjagal profesional. Gerakannya konstan, tanpa ragu, seolah tubuh di hadapannya hanyalah sebongkah benda mati.

Isaac melepaskan cengkeraman pada rahang korban. Ia melangkah ke ujung meja, meraih sebuah gergaji bedah bergagang besi yang tergeletak rapi di atas nampan antiseptik. Logam bergerigi itu berkilat dingin di bawah lampu.

​"Kulitnya terlalu tebal, Isaac," gumam Atlas, napasnya sedikit memburu saat tenaganya tertahan di bagian persendian yang keras. "Butuh gergaji tulang untuk membelah bagian dadanya."

Isaac mendekat, menyerahkan gergaji itu tanpa sepatah kata pun. Ia lalu mengambil alih posisi Atlas, menekan dada sang korban dengan kedua telapak tangannya yang terbungkus karet hitam untuk mengunci pergerakan. Bobot tubuh Isaac yang kokoh membuat sisa perlawanan pria itu lumpuh total.

Srek. Srek.

Bunyi gesekan gerigi baja yang memotong tulang terdengar ngilu dan basah. Pria di atas meja itu melakukan sentakan terakhir yang amat hebat, matanya mendelik ke atas, menembus langit-langit yang gelap, sebelum akhirnya seluruh tubuhnya melemas dan lumpuh sepenuhnya. Napas terengah dari hidungnya berhenti. Kesadaran pria itu telah hilang, menyisakan aliran cairan pekat yang kini mengalir deras memenuhi wadah penampung di bawah meja.

Dengan tenang, Atlas menyeka peluh di dahinya dengan lengan bajunya, agar cairan itu tidak menetes ke area kerja. "Selesai. Bagian paha dan dada sudah terpisah."

Isaac memeriksa arloji perak di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia mengangguk puas, lalu berjalan menuju sebuah interkom kecil yang tertempel di dinding dekat pintu besi.

Ia menekan tombol merah pada alat itu. "Gravion, Marava. Bahan malam ini sudah siap. Naikkan liftnya."

***

Lihat selengkapnya