Shokuzai: The House of Seven Appetites

Thazaprilia
Chapter #2

Bab 2: Bahasa Kekuasaan

Matahari pagi menembus jendela kaca setinggi langit-langit di salah satu sudut distrik bisnis utama kota. Cahaya itu memantul di atas meja kerja kayu jati yang dipoles mengilat, menghangatkan ruangan yang didominasi aroma kayu cedar dan kopi arabika yang baru diseduh.

Leoric Danarion berdiri di dekat jendela, merapikan letak jam tangan mekanis berlapis emas putih di pergelangan tangannya. Setelan jas abu-abu tua rancangan penjahit ternama melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Sebagai direktur utama Danarion Development, ia adalah wajah dari dinasti keluarganya, muda, dinamis, dan sangat dihormati di kalangan pebisnis properti kelas atas.

Ketukan lembut di pintu membubarkan fokusnya. Sekretaris pribadinya melangkah masuk dengan tablet di tangan.

"Pak Leoric, berkas untuk proyek kondominium di kawasan barat sudah siap. Investor dari Singapura juga sudah menunggu di ruang rapat utama," lapor sekretaris itu.

"Terima kasih, Siska. Beri aku waktu lima menit," jawab Leoric. Suaranya terdengar ramah namun berwibawa, tipe suara yang biasa meyakinkan para konglomerat untuk menginvestasikan miliaran rupiah tanpa ragu.

Setelah sekretaris itu keluar, Leoric berjalan ke mejanya. Ia tidak langsung mengambil berkas proyek, melainkan membuka sebuah laci kecil yang terkunci rapat dan hanya dapat diakses dengan sensor sidik jari. Di dalamnya terletak sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam. Ia membukanya, menatap sebaris nama, alamat, dan rincian kebiasaan hidup beberapa orang asing yang baru pindah ke kota ini, data yang ia kumpulkan dari aplikasi pengajuan sewa apartemen mewah milik perusahaannya.

Jemari Leoric berhenti pada satu nama: seorang warga negara asing muda yang menyewa unit griya tawang tanpa keluarga atau kerabat di negara ini.

"Sempurna," gumamnya pelan. Ia menutup buku itu, mengunci lacinya kembali, lalu melangkah keluar ruang kerja dengan senyum profesional terbaiknya untuk menyambut para investor.

***

Makaio Danarion melangkah menyusuri koridor marmer yang bising oleh langkah kaki orang-orang yang cemas. Jubah hitam advokatnya berkibar pelan seiring langkah kakinya yang lebar dan percaya diri. Di belakangnya, sekelompok wartawan dengan mikrofon dan kamera terus mendesak maju, mencoba mendapatkan pernyataan dari pengacara muda paling bersinar tahun ini.

"Bung Makaio! Bagaimana tanggapan Anda mengenai tuduhan manipulasi pajak yang menjerat klien Anda?" tanya seorang jurnalis dengan setengah berteriak.

Makaio menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mobil sedan hitam yang sudah menunggunya. Ia berbalik, membetulkan letak kacamata berbingkai tipisnya, lalu melemparkan senyum tenang ke arah kamera.

"Keadilan selalu memiliki bahasanya sendiri, rekan-rekan," ujar Makaio dengan nada bicara yang tertata rapi. "Klien kami telah mengikuti semua prosedur hukum dengan kooperatif. Dan hari ini, majelis hakim telah membuktikan bahwa dakwaan jaksa penuntut umum tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Kami menghargai keputusan pengadilan."

Ia membungkuk kecil, lalu masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara. Begitu pintu tertutup, senyum ramah di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi dingin yang datar.

Makaio melonggarkan dasinya sedikit. Sopir pribadinya segera menjalankan mobil menerjang kemacetan kota. Di kursi samping Makaio, terdapat sebuah map dokumen berwarna cokelat. Itu bukan berkas perkara pengadilan, melainkan salinan laporan kepolisian mengenai hilangnya beberapa tunawisma di sekitar area pergudangan pelabuhan bulan lalu.

Makaio membuka lembaran itu dengan ujung jarinya yang bersih, memeriksa paraf dari kepala penyidik yang kebetulan berutang budi besar pada keluarga Danarion. Di bagian pojok kanan atas berkas, stempel merah bertuliskan “DITANGGUHKAN/KURANG BUKTI” telah tertera dengan rapi.

Makaio mengambil pemantik api perak dari saku jasnya, membakar ujung kertas laporan tersebut di dalam asbak mobil, lalu melihatnya perlahan berubah menjadi abu yang tak menyisakan jejak. Baginya, hukum bukanlah dinding pembatas, melainkan tanah liat yang bisa ia bentuk sesuka hati untuk melindungi keluarganya.

***

Saat senja mulai melukis langit dengan warna jingga keunguan, aktivitas di The Obsidian Room, klub malam paling eksklusif di pusat kota, baru saja dimulai. Musik beraliran deep house berdentum lembut melalui sistem suara kelas dunia, menciptakan suasana intim yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki kartu keanggotaan khusus berbiaya ratusan juta rupiah per tahun.

Salvius Danarion berdiri di balik meja bar marmer hitam, memutar-mutar sendok bar panjang di dalam gelas pencampur berisi es batu dan koktail premium. Sebagai pemilik klub ini, Salvius adalah tempat bagi para sosialita, model, dan anak-anak pejabat yang ingin mencari kesenangan tanpa terendus media.

"Minumanmu, Agatha," ujar Salvius, menggeser segelas koktail dengan hiasan kulit jeruk tipis ke arah seorang wanita muda yang duduk di hadapannya.

Wanita itu tersenyum manja, pipinya merona merah akibat pengaruh alkohol. "Kamu selalu tahu cara membuat malamku jadi lebih baik, Salvius. Ngomong-ngomong, ke mana saja kamu minggu lalu? Aku mencarimu di sini."

"Hanya menyelesaikan beberapa urusan keluarga di pinggir kota," jawab Salvius dengan kedipan mata yang membuat wanita itu tertawa kecil.

Sambil melayani obrolan ringan tamu-tamunya, mata Salvius yang tajam bergerak menyapu seluruh ruangan. Di sudut klub yang agak remang, ia memperhatikan seorang pria asing yang duduk sendirian di sofa VIP. Pria itu terus menenggak minuman keras dengan ekspresi frustrasi, sesekali memeriksa ponselnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda panggilan masuk.

Salvius memberi kode kepada kepala pelayan dengan anggukan kepala kecil. Beberapa menit kemudian, pelayan itu mendekat dan berbisik di telinga Salvius.

"Dia turis asing dari Eropa Timur, Bos. Datang sendiri, menginap di motel kelas menengah dekat pelabuhan. Dari catatan pemesanan, dia tidak punya relasi atau teman di kota ini. Sepertinya sedang terlilit masalah keuangan."

Lihat selengkapnya