Laila terduduk di bawah pohon yang melambai dengan manjanya terkena terpaan angin. Menyendiri sembari menikmati aroma khas pantai. Tangan kecilnya dengan lembut memainkan butiran-butiran pasir berwarna putih yang ia rindukan sejak setahun yang lalu, terakhir kalinya ia bertamasya ke pantai. Rumahnya tidak begitu dekat dengan pantai.
Gadis itu mengalihkan pandangannya. Menatap lekat dan memerhatikan Sang Surya. Menikmati hangatnya sinar perpisahan. Senja segera menghilang. Malam segera menjelang. Tidak lama lagi sumber cahaya sekaligus sumber panas terbesar itu kembali ke peraduan. Walau sejatinya, ia hanya berpindah menyinari bagian bumi yang lain.
Semburat jingga di atas birunya air laut begitu menawan. Sang Surya perlahan tenggelam di batas cakrawala. Indah. Mengagumkan. Mahakarya Tuhan yang luar biasa. Itulah alasan Laila begitu mengagumi senja. Ia jatuh cinta pada kehangatannya. Senja itu tidak hanya menyenangkan, tapi juga menenangkan. Senja mengingatkan, bahwa di setiap penantian, pasti akan menemui akhir yang indah. Laila menggenggam buku harian bersampul coklat muda di tangannya. Beranjak dari posisinya. Berjalan menyusuri pantai. Ombak yang bergulung-gulung perlahan mendekatinya. Sesekali menyapu lembut kakinya. Laila begitu menikmati suasana.
Dari kejauhan, Ibu memanggil Laila. Ia lalu melangkah ke arah di mana keluarga kecilnya berkumpul. Terlihat Pak Jamal, lelaki separuh baya yang sudah mulai renta, seorang ayah yang begitu tangguh mengarungi kerasnya kehidupan untuk menghidupi keluarganya. Beliau mungkin lelah atau mungkin sakit. Bahkan, mungkin pernah menangis. Tapi, tidak sekalipun menunjukkan rasa lelah dan sakitnya di hadapan orang terkasih. Ia lebih suka menyimpan lukanya sendiri. Bahu kekar itu legam terbakar oleh teriknya matahari. Tangan-tangannya kasar. Tapi, di sana lah tersimpan sejuta kelembutan. Lalu, di sampingnya ada seorang wanita yang terlihat lebih tua dari usianya. Bu Sukma, ibunya, seorang wanita hebat yang begitu tegar menjalani hidupnya yang tidak sesempurna dahulu, calon penghuni surga yang ridha menerima ketetapan Allah. Mas Alif, pemuda berusia 25 tahun yang tidak berhasil menamatkan pendidikan STM-nya, seorang kakak laki-laki yang menjadi malaikat penjaga bagi Laila. Dan, Fajar, seorang adik laki-laki yang ingin ia jaga apa pun yang terjadi, anak laki-laki yang selalu ceria dan selalu berhasil membuat semua orang tertawa melihat tingkah polosnya.
Keluarga kecil itu duduk beralaskan tikar anyam tipis yang mereka bawa dari rumah. Menyantap bekal yang mereka bawa sembari menikmati sejuknya semilir angin pantai dan senja yang kembali mengingatkan bahwa di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Senja mengajarkan bahwa yang indah juga bisa meninggalkan. Senja juga mengabarkan, bahwa setelah perpisahan, selalu ada keindahan lain yang akan datang memberi ketenangan yaitu malam.
Hari semakin gelap. Matahari mulai menenggelamkan diri. Suara alam makin nyaring terdengar di telinga. Keluarga kecil itu memutuskan untuk segera kembali pulang. Bapak dan Mas Alif bekerja sama menggulung tikar yang dijadikan alas duduk. Sementara itu, Laila dan Fajar merapikan rantang dan termos.
***
Waktu maghrib sudah habis, sebentar lagi masuk waktu Isya’. Mereka masih di perjalanan. Melewati pematang sawah yang tidak terlalu lebar. Bapak dan Mas Alif menuntun sepedanya. Laila menuntun Ibu berjalan pelan-pelan. Sementara, Fajar menenteng tas berisi rantang dan termos, berjalan di depannya. Suara katak terdengar bersahutan diiringi suara jangkrik dan hewan-hewan lainnya.
Dari kejauhan tampak beberapa nyala api. Itu pasti warga yang membawa obor yang hendak berangkat ke masjid untuk sholat Isya’. Beberapa rombongan melewati dan saling melempar senyum. Dua orang paling belakang berhenti, menyapa.
“Dari pantai yah Pak Jamal?” tanya seorang warga saat berpapasan di jalan menuju arah rumahnya.
“Iya ini, Bu. Laila ingin sekali melihat senja katanya. Setahun sekali nggak papa lah nyenengke (menyenangkan) anak.” jawab Bapak sambil mengelus bahu Laila yang berdiri di belakangnya.
“Mari, Bu. Kami pulang dulu.” pamit Bapak diiringi senyum ramah dari ibu dan Laila.
“Harmonis sekali ya hidup mereka. Biarpun miskin tetap bisa mencari cara untuk bahagia.” sahut ibu-ibu lain sesaat keluarga Pak Jamal melangkahkan kaki tapi masih terdengar jelas di telinga Laila yang berjalan di belakang.
“Hus. Jangan keras-keras ngomongnya. Mbok krungu (nanti terdengar).” protes seorang ibu yang baru saja berbincang dengan Pak Jamal.
Malam kembali datang membawa sejumlah kerinduan bagi segelintir orang, termasuk Laila. Bulan menjadi penerang di tengah gelapnya malam. Jutaan bintang yang berkelap-kelip menambah keindahan. Laila menatap langit dengan saksama. Mencari bintang yang paling terang. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan, tentang rindu. Ia hanya bisa diam. Memendamnya dalam hati tanpa mampu mengutarakannya.
Udara dingin di malam hari begitu terasa. Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Laila merapatkan jaketnya. Menutup kembali jendela kamar yang ia buka beberapa menit yang lalu. Laila menengok ibu dan adiknya di kamar sebelah. Membuka pintu dengan perlahan. Berharap tidak menghasilkan suara-takut mengganggu-pikirnya. Mereka sudah terlelap. Ditariknya selimut hingga ke leher. Ia bergegas keluar dan menghampiri ayahnya yang tengah duduk di depan TV kecil yang sudah usang itu, ketinggalan zaman. Bapak menyeruput kopi terakhir di cangkirnya. Laila mendekat, menyentuh lembut bahu ayahnya dari belakang.
“Pak, dereng sare (Pak, belum tidur) ?” tanyanya pelan tepat di samping telinga lelaki paruh baya itu.