Si Anak Tengah

Mar Kumbang
Chapter #2

Semua Hanya Titipan

Hari telah berganti. Ayam jantan sudah berkokok sedari tadi. Mengabarkan kepada setiap insan bahwa pagi kini telah kembali. Membangunkan setiap makhluk dari tidur lelapnya. Tapi, Laila masih belum bergeser dari posisi terakhirnya. Masih terlelap di dalam mimpinya. Hanyut dalam bunga tidur di alam bawah sadar, kebahagiaan yang semu.

Hari ini adalah hari Minggu. Itu tandanya ini adalah hari libur. Tapi, bukan berarti Laila bisa bermalas-malasan. Seperti anak gadis yang lainnya. Laila mempunyai sederet tugas yang harus ia kerjakan. Menyapu, mencuci piring, bahkan mencuci pakaian. Kewajiban seorang anak perempuan. Apalagi kondisi ibunya yang sudah tidak sesehat dahulu. Sejak peristiwa itu, ibunya sering merasakan sakit dan nyeri pada tulang dan sendinya. Jari-jari tangan dan kakinya pun sudah tidak bisa diluruskan lagi. Bengkok. Laila tidak ingin ibunya kelelahan. Tidak tega membiarkan jari-jari yang lemah itu bekerja lebih keras. Tidak tega melihat ibunya merintih kesakitan di tengah malam.

Laila segera bangkit dari pembaringannya. Bergegas mengambil air wudlu dan menunaikan kewajibannya kepada Sang Pemberi Kehidupan. Masih belum terlambat untuk sholat subuh. Beribadah adalah salah satu cara Laila untuk tetap semangat menjalani kehidupan di dunia yang fana dan sementara ini. Beribadah memberikan ketenangan dan membawa kedamaian hati. Ia bisa berkeluh kesah kepada Allah. Ia bisa menyampaikan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Dan hebatnya, manusia bersujud, berbisik pada bumi, namun langit mendengarnya. Segala doa bergema di langit Allah. Diaamiinkan oleh malaikat. Dikabulkan oleh-Nya. Sesuatu yang tidak bisa dicerna dengan logika. Tapi, dapat dipahami dengan iman yang ada di dalam hati. Luar biasa.

Matahari mulai meninggi. Sinarnya yang tadi terasa menghangatkan mulai berubah menjadi terik. Sinar yang tadinya diburu karena mengandung pro vitamin D, kini dihindari karena takut akan UVA dan UVB. Laila yang sedang menjemur pakaian bergegas menyelesaikan bagian terakhir dari sederet pekerjaan rumahnya itu. Lelah. Ia ingin beristirahat. Sembari mengelap keringat di keningnya dengan tangan, ia lantas menghampiri adiknya yang sedang terduduk di teras rumah. Bermain seorang diri dengan mainan yang kakaknya buat tempo hari.

Laila memperhatikan Fajar. Tiba-tiba dengan kesal Fajar membanting mainan mobil-mobilan dari kayu hingga rodanya terlepas. Laila mendekati Fajar. Adiknya seperti diselimuti amarah. Dadanya naik turun penuh dengan emosi yang akan segera memuncah. Laila mengamati sekeliling. Pandangannya mengikuti sorot mata adiknya. Mencoba menelisik apa yang merenggut senyum adik tercintanya itu. Fajar menatap ke arah teman-temannya yang sedang asyik bermain sepeda. Laila mengerti, adiknya mungkin iri pada teman seusianya. Fajar tidak memiliki sepeda. Ayahnya belum mampu membelikannya. Fajar hanya bisa meminjam sepeda Laila jika ingin bersepeda. Terlalu besar baginya. Keluarga ini memang bukan keluarga yang berada. Hidup pas-pasan.

Terlahir dari keluarga yang sederhana membuat anak-anak desa ini harus bersabar dan menunggu apa yang diinginkan bisa terwujud. Ayahnya hanya seorang buruh tani dengan penghasilan tidak menentu. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang hanya berdiam diri di rumah. Tidak berpenghasilan. Sementara Mas Alif, merantau di Jakarta, namun belum mampu mengubah nasib mereka. Bisa sekolah saja, itu sudah cukup.

 “Kenapa, Jar?” Laila bertanya sambil mengusap punggung adiknya agar lebih tenang.

Lihat selengkapnya