Si Bungsu Si Paling Kuat

Rika Kurnia
Chapter #1

Dering yang Selalu

2026

Tenang.

Pagi itu terasa seperti ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat. Seperti udara yang sengaja diperlambat langkahnya agar tidak mengganggu siapa pun.

Aku duduk bersila di atas karpet tipis di dekat tempat tidur. Kain karpet itu sedikit kasar di telapak kakiku, tapi justru itu yang membuatku sadar bahwa aku benar-benar ada di sini. Di ruang kecil ini, di pagi yang belum disentuh oleh hal-hal yang berat.

Gitar tua itu bertengger di pangkuanku. Ujung kayunya menyentuh lengan kiriku, dingin di awal, lalu perlahan ikut menghangat karena suhu tubuhku. Jemariku menggantung di atas senar beberapa detik, seolah ragu untuk memulai.

Lalu kupetik satu nada. Suara itu keluar pelan. Terlalu pelan, bahkan untuk disebut sebagai permulaan. Aku menahannya di sana, membiarkannya menggantung di udara kamar yang masih sunyi.

Belum pas.

Aku menunduk. Rambutku jatuh sedikit menutupi wajah. Buku kecil di depanku terbuka, penuh coretan yang saling menimpa satu sama lain.

Kalau rindu hanya bisa pulang lewat mimpi …

Aku membaca kalimat itu dalam hati. Pelan. Mengunyah setiap kata seperti mencoba merasakan rasanya satu per satu.

Ada yang kurang.

Tanganku bergerak pelan. Ujung pensil menyentuh kertas, lalu mencoret satu kata dengan hati-hati. Anehnya, setiap kali aku mencoret kata, selalu ada perasaan seperti … bersalah.

Seolah kata-kata itu hidup, dan aku baru saja menyuruhnya pergi. Aku menghela napas pelan.

Menulis lagu untukku bukan sekadar menyusun kata. Rasanya seperti mencoba mengingat sesuatu yang samar. Seperti mengejar bayangan yang kadang mendekat, kadang menjauh tanpa alasan.

Kata-kata sering datang seperti burung liar. Hinggap sebentar di kepalaku, membuatku merasa hampir berhasil menangkapnya, lalu terbang begitu saja sebelum sempat kugenggam.

Aku memejamkan mata sebentar. Lalu kupetik gitar lagi. Nada kali ini sedikit berbeda. Lebih bulat. Lebih hangat.

Seperti air yang mengalir di sela batu kecil di sungai. Tidak terburu-buru, tapi tahu ke mana harus pergi.

Bibirku tanpa sadar melengkung tipis. “Lumayan,” gumamku.

Suaraku sendiri terdengar asing di keheningan ini. Tanganku bergeser di badan gitar. Aku merasakan permukaan kayunya tidak lagi halus seperti baru, ada goresan-goresan kecil yang bisa kuraba dengan ujung jari.

Gitar ini tua. Tapi anehnya, setiap kali aku menyentuhnya, rasanya seperti menyentuh sesuatu yang hidup.

Gitar ini milik Ayahku, Iyan. Nama itu muncul begitu saja di kepalaku, seperti seseorang yang tiba-tiba membuka pintu lama tanpa mengetuk.

Aku menelan pelan. Dulu … Ayah sering duduk di teras setiap sore. Cahaya matahari jatuh miring di wajahnya. Jemarinya bergerak santai di atas senar gitar ini. Aku selalu duduk di sampingnya. Tidak banyak bicara. Hanya memperhatikan.

Kadang aku tidak mengerti lagu yang ia mainkan. Tapi aku mengerti satu hal, selama Ayah ada di sana, semuanya terasa aman.

Sekarang … Aku yang duduk di sini. Sendiri. Memegang gitar yang sama. Dan setiap kali aku memetiknya, ada perasaan seperti sedang mencoba menghubungi seseorang yang tidak akan pernah mengangkat telepon.

Dadaku terasa sedikit sesak. Aku menarik napas lebih dalam. Petikan gitar itu terhenti ketika suara langkah kecil terdengar di luar kamar.

“Bunda?”

Aku langsung menoleh.

Selena berdiri di ambang pintu. Rambutnya masih kusut, matanya setengah terbuka, tapi ada sesuatu di wajahnya. Seperti ia membawa kabar kecil yang terlalu lucu untuk disimpan sendiri.

“Masuk saja, Sayang,” kataku. Suaraku terdengar lebih ringan dari yang kurasakan.

Selena melangkah masuk pelan. Kakinya hampir tidak bersuara di lantai. Matanya langsung jatuh ke gitar di pangkuanku.“Bunda lagi bikin lagu, ya?”

“Iya.” Aku mengangguk sedikit, sambil tetap menahan gitar agar tidak bergeser dari pangkuanku.

“Sudah jadi lagunya?”

Aku menggeleng. “Baru sedikit.”

Selena mendekat. Ia menunduk, mencoba membaca tulisan di bukuku. Aku bisa merasakan napas kecilnya di sampingku. “Bunda kok bisa bikin lagu terus?”

Aku tersenyum tipis. Tanganku berhenti memetik gitar. “Mungkin ... karena Bunda kebanyakan mikir. Jadi ada banyak kata-kata yang terlintas di otak Bunda. Makanya perlu dikeluarin biar pikiran otak Bunda gak penuh. Terus, jadi deh beberapa kata untuk lirik lagu,” jelasku yang semoga saja dimengerti Selena.

Selena langsung terkekeh. “Kalau aku kebanyakan mikir malah pusing.”

Aku menoleh ke arahnya. Usianya baru menjelang ke angka 10. Wajar sekali kalau belum banyak hal yang harus ia pikirkan.

Dan tiba-tiba, ada perasaan aneh yang muncul di dadaku. Campuran antara hangat dan … takut. Baru membayangkan usianya akan terus bertambah saja sudah membuat bulu kudukku merinding. Seperti aku belum siap, tapi takdir tak punya tombol jeda. Usia adalah arus menderu yang perlahan membawa putri kecilku menjauh ke tengah samudera kehidupan. Betapa egoisnya aku, yang rindu mengurung tawanya dalam botol kaca agar ia tetap mungil selamanya, padahal dunia sudah tak sabar menantinya mekar

“Berarti jangan kebanyakan mikir dulu,” kataku pelan. Aku menyentuh rambutnya, merapikan sedikit bagian yang berantakan. “Nikmati saja masa kecil kamu.” Tanganku sempat berhenti di sana. Aku menatapnya sedikit lebih lama. “Bunda ingin masa kecilmu terasa seperti balon yang terbang tinggi. Ringan, cantik, dan tidak punya beban berat di dalamnya.”

Selena mengerutkan kening. “Maksud Bunda?”

Aku menarik tanganku perlahan. Aku tersenyum. “Nanti kamu juga ngerti.”

Selena masih terlihat bingung, tapi ia tidak bertanya lagi. Ia duduk di tepi tempat tidur. Kasur sedikit turun karena berat tubuhnya. “Oiya, Bunda. Ayah lagi di dapur.”

Aku mengangkat alis. “Di dapur?”

Lihat selengkapnya