Si Jalu dan Si Putih suka sekali memandang langit senja dengan bertengger di atas batang pohon, seperti pacaran. Padahal mereka berdua cuma ayam kate lokal, bukan ayam drama korea, tapi tingkahnya membuat para jomblo menjadi iri.
Si Jalu bertubuh pendek tapi gemuk gempal dengan berbulu putih gading dan mempunyai jengger panjang. Sedangkan si Putih, bertubuh kecil yang lebih pendek dari Jalu, ukuran badannya pun lebih kecil. Hanya bulunya putih bersih, lebih putih dibandingkan Jalu.
Erin pemiliknya yang baru kelas dua SMP, suka keheranan setiap menyuruh mereka masuk kandang.
"Jalu, Putih, masuk cepetan, sudah mau maghrib." Teriak Erin sambil berkacak pinggang.
"Kok, kok, weee.. Nggak mau, lagi nanggung ini." Jawab Jalu dalam bahasa ayam.
"Petok.. Petok.., ganggu kita aja, mau melihat senja berganti malam." Sahut Putih ikutan mendukung Jalu.
Setelah itu mereka pura-pura tidak melihat Erin, dan asyik kembali menatap senja. Ada-ada aja nih kedua ayam kate. Serasa mereka yang tuannya, dan Erin hewan peliharaannya. Keras kepala, tidak mau patuh.
Erin geleng-geleng kepala.
"Kalian centil banget. Aku aja belum pacaran, tidak boleh sama Bunda. Ini cuma ayam kate aja belagu. Udah mau malam, stop cinta-cintaan. Banyak setan."
"Weee... Kok..kok.. petok." Ledek Jalu dan Putih. Mereka malah melompat kesana kemari, menghindar. Akhirnya Erin mengalah, dan memasukkan mereka ke kandang setelah gelap. Biasanya habis isya, setelah mereka mata mereka berdua rabun. Baru mereka patuh, mau ditangkap, tidak melawan dan bersuara petok-petok.
Ada-ada aja jadi ayam kate.
Pernah Erin lupa memasukkan mereka ke dalam kandang, eh malah bertahan berduaan sampai pagi di atas kandang memandang langit. Malah pakai berpelukan segala, sudah seperti pre-wedding. Aneh banget.
Namun akhir-akhir ini, Putih seperti melarikan diri dari Jalu. Bukan karena tidak cinta lagi, bukan karena membenci. Tapi dia seperti bosan berada hanya di sekitar halaman rumah. Sudah kurang semangat berduaan menatap senja. Inginnya keluar halaman rumah terus, melihat mobil yang lalu-lalang, meneriaki para siswa-siswi yang pergi ke sekolah, menghirup udara kotor jalanan, dan kegiatan lain yang menyenangkan. Hal ini membuat Jalu menjadi gusar. Seperti pagi ini, Putih malah keluar ke jalanan, lewat bawah pagar yang memang ada jaraknya dan pas buat keluar.
"Kok..kok..kok.. Kamu jangan keluar. Nanti diculik sama anak-anak yang mau mengaji.” Jalu memperingatkan.
Rumah Erin memang berada di depan jalanan besar, yang seberangnya ada masjid besar, bernama Al Akhyar. Anak-anak yang ikut kelas mengaji TPA setiap hari Sabtu dan Minggu pagi, selalu mengintip Jalu dan Putih dari balik pagar.
"Kok... Kok.. Aku bosan seperti ayam dalam tempurung. Dunia ini luas, Jalu. Mari kita menikmati dunia luar. Agar tidak kudet. Kok.. kok.."
"Tapi kalau diculik dan dipelihara sama anak lain, belum tentu mereka sebaik Erin merawat kita. Kok.. kok.."
"Akh, siapa sih yang mau culik? Kita ayam kate, telor juga kecil-kecil. Nggak seperti ayam petelur, yang telurnya besar."
Jalu pusing, Putih tetap saja membantah perkataannya.
Seperti Minggu pagi ini, setelah makan pakan campur, yang berisi jagung tumbuk dan pur. Putih malah semakin ke pinggir pagar, hampir keluar.
"Kok.. kok.. Aku ingin terkena sinar matahari biar semakin sehat. Kita mandi yuk di tanah berdebu di luar pagar. Asyik banget, debunya banyak, biar makin sehat."
"Hati-hati itu anak-anak lagi suka bolak-balik. Sudah mending di dalam saja. Kok.. kok.."