"Makasih, Val," ucap Acha dengan senyum lebar setelah Bu Lara meninggalkan kelas.
"Sama sama." Valeri menyahut dengan manis. Bukan hanya Acha aja yang dia bantu, tapi kedua teman yang duduk di belakangnya juga. Padahal mereka juga udah nyontek di lks. Masih aja kurang.
Dasar, maki Valeri sambil menahan senyum.
"Bu Lara pasti masih kesal abis marahin anaknya yang SMP. Jadinya kita yang kena imbasnya," omel Tita.
"Ngarang," kecam Acha.
"Sok teu, nih," tambah Wika meremehkan.
Tita mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Aku punya buktinya, kok. Nih, lihat status anaknya Bu Lara yang masih SMP. Sebel abis dimarahi mama ngga dibolehin ke pesta Yuki." Tita menunjukkan layar ponselnya pada ketiga temannya yang kini mendekat untuk melihat lebih jelas.
"Kok, tau ini sc anaknya Bu Lara?" Acha menatap ngga percaya.
"Ya taulah," jawab Tita dengan wajah songongnya.
Valeri, Acha dan Wika saling tatap. Tapi mereka tetap sulit untuk percaya.
"Kok, kamu bisa dapat sc status anaknya Bu Lara?" selidik Wika.
Iya, itu juga pertanyaan yang ada di dalam benak Valeri.
Tita menatap ketiga temannya dengan angkuh.
"Anaknya, tuh, rupanya teman adik aku di SMP. Tadi adikku kirim sc temannya itu," cerita Tita.
"Adikmu tau kalo mamanya guru kamu?" tanya Acha dengan senyum yang terbit di bibirnya. Tau seusil apa adiknya Wika.
"Tau. Makanya adikku ngirim statusnya ini sekalian ngeledekin aku. Kalo aku bilang tadi ada ulangan mendadak, pasti dia dengan senang hati mengetawa-i aku" curhat Tita dengan nada kesal. Tapi kekesalannya jadi bertambah karena sebelum adiknya mengetawakannya, Valeri, Acha dan Wika sudah lebih dulu melakukannya sekarang.
Saat sedang tertawa, sudut mata Valeri menangkap sosok Kaivan yang sedang mengobrol dengan teman remannya di pojok kelas. Cowo itu juga sedang menatapnya, seperti biasa dalam dan teduh.
DEG
Perasaan ngga nyaman itu muncul lagi. Valeri terpaksa mengalihkan tatapnya ketika mendengar suara panggilan lembut yang merdu dari Anya.
"Kai....."
Anya dan dua orang dayangnya mendekati Kaivan dan teman temannya yang merupakan tim inti basket sekolah mereka.
Sudahlah Valeri. Lupakan saja. Nanti kalo udah kuliah, pasti gampang dapat cowo, bujuk hatinya menguatkan.
"Sejak jadian, Anya sering nyamperin Kaivan," cuit Acha nyinyir.
"Kadang Kaivan juga nyari Anya," bantah Tita.