Valeri menatap ragu pada mamanya yang sedamg memetiksa pekerjaannya di laptop. Setelah mengambil nafas dalam dalam, Valeti memberanikan diri mengutarakan niatnya.
"Ma, aku boleh, ngga, ikut seleksi snbp ke Jakarta." Valeri bertanya pelan.
Amara-mamanya mengalihkan perhatiannya dari laptop. Menatap Valeri dengan memicingkan matanya.
"Ke Jakarta?"
Valeri sudah bisa menebak kalimat bernada penolakan selanjutnya.
'Kita ngga punya saudara di Jakarta."
Kan, benar. Valeri menghembuskan naafas panjang.
"Tapi, ma...."
"Di Jakarta pasti biaya hidupnya lebih beaar. Kamu tau sendirri, kan, papa baru ditipu orang."
Valeri menghembuskan nafas panjang lagi.
Ditipu, batin Valeri miris. Papanya ditipu sama saudaranya yang selama ini selalu dibantunya. Valeri sudah kesal dengan saudara saudara papanya, juga dengan orang orang yang selalu mengaku kerabat demi selalu ditolong papanya.
Sedangkan mamanya selalu lebih mendengar pendapat dari saudara saudaranya yang selalu tidak berpihak padanya.
Sekarang giliran dirinya mau kuliah aja susah, sewot Valeri dalam hati. Papanya terang terangan minta dia kuliah di kampus dan jurusan yang ngga memerlukan biaya yang mahal.
Valeri merasa tidak adil karena selama ini sudah berusaha jadi anak yang baik dan selalu masuk sekolah negeri dengan nilai nilainya sendiri. Tidak pernah pake jalur ordal. Sekarang dia ingin kuliah sesuai dengan jurusan yang dia inginkan, tapi tidak didukung.
Bukannya Valeri tidak yakin dengan snbt, tapi dia butuh jaminan kalo ngga diterima nanti dia bisa masuk swasta dengan jurusan yang dia mau. Tapi ternyata apa. Papanya menolak membiayainya di swasta.
Bahkan di eligible, dia diterima di kampus dengan jurusan yang berbeda, walaupun masih ada hubungannya. Tapi seenggaknya kalo lolos, dia bisa kuliah di kampus negeri.
Valeri meninggalkan mamanya dengan kecewa. Dia berjalan ke arah kamar tidurnya. Membaringkan dirinya di ranjangnya. Valeri menatap surat itu lagi. Surat itu butuh tanda tangan salah satu orang tuanya.
Valeri sangat bisa meniru tanda tangan orang tuanya. Tapi dia masih ragu melakukannya. Otak anak baiknya melarangnya melakukan itu.