Garis batas kuning berdebu milik kepolisian yang terpasang di gerbang utama Rumah Sakit Jiwa Medika Mandiri sudah lama meretas dan membusuk dimakan waktu. Sejak kompleks medis ini dikosongkan secara mendadak belasan tahun silam akibat kebakaran misterius di bangsal lantai atas, tak ada lagi manusia berakal sehat yang sudi menginjakkan kaki di sini.
Kecuali Arka. Atau lebih tepatnya, seseorang yang sudah terdesak oleh kebutuhan hidup.
Jemari Arka yang gemetaran menyesuaikan posisi gimbal ponselnya. Di atas kamera, sebuah ring light portabel berukuran sepuluh inci memancarkan cahaya putih kebiruan yang tajam, memotong kegelapan pekat yang menyelimuti lorong lantai tiga. Cat dinding di sekelilingnya mengelupas menyerupai kulit manusia yang membusuk, menyisakan bercak-bercak jamur hitam dan jejak jelaga yang mengering.
Di sudut kanan atas layar ponsel seluas 6,7 inci itu, angka indikator penonton berkedip malas: 42.
Empat puluh dua pasang mata. Angka yang sangat menyedihkan untuk sebuah siaran langsung yang mempertaruhkan keselamatan nyawa.
"Selamat malam, teman-teman Jejak Kelam," bisik Arka, berusaha menahan getar pada suaranya agar tidak tertangkap oleh mikrofon eksternal. "Gue saat ini sudah berada di koridor lantai tiga RSJ Medika Mandiri. Tempat yang sama di mana delapan belas tahun lalu... belasan pasien bangsal isolasi tewas terbakar tanpa pernah diketahui penyebab pastinya."
Arka menghentikan langkahnya sejenak. Bau tanah basah, semen lapuk, dan aroma bangkai samar menyeruak menghujam indra penciumannya. Tiap kali ia mengembuskan napas, uap tipis mencetus di udara. Suhu di lantai tiga ini terasa secara tidak wajar jauh lebih dingin daripada di luar gedung.
Ia menatap layar ponselnya, berharap ada sedikit dorongan antusiasme dari penonton. Namun, kolom komentar bergulir sangat lambat, didominasi oleh ejekan.
@Rizal_Gamer: Ah palingan sepi lagi. Settingan murni ini mah. Mana hantunya?
@Nayla_99: Ka, mending pulang aja deh. Mukamu pucat banget, beneran.
@Budi_Santoso: Buka pintu ujung dong bro kalau berani! Jangan cuma jalan-jalan di koridor doang. Jualan ketakutan mulu.
@Diki_Pratama: Trik lama. Paling sebentar lagi ada temennya yang lempar batu dari belakang.
Arka memejamkan mata sejenak, mengelus dadanya yang terasa sesak. Ejekan seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari selama enam bulan terakhir.
Dulu, kanal Jejak Kelam adalah salah satu pelopor konten penelusuran mistis paling naik daun di ibu kota. Puluhan ribu pasang mata selalu memadati siaran langsungnya. Sponsorship mengalir deras, dan pundi-pundi rupiah terasa tak pernah habis. Namun, dunia media sosial bergerak kejam. Saat pembuat konten lain mulai menyajikan manipulasi visual, efek suara drama, dan aktor penampakan demi sensasi instan, penonton Jejak Kelam perlahan lari karena menganggap konten Arka terlalu 'biasa' dan kurang mengerikan.
Kini, Arka berdiri di jurang kebangkrutan. Surat tagihan sewa kontrakan yang menunggak tiga bulan sudah menumpuk di meja belajarnya. Sisa saldo di rekening banknya bahkan tidak cukup untuk membeli sepiring nasi padang besok pagi. Dan yang paling menghantui pikiran Arka setiap kali ia memejamkan mata adalah bayangan wajah Dion—mantan juru kamera sekaligus sahabat karibnya yang menghilang tanpa jejak dalam penelusuran terakhir mereka tahun lalu.
"Gue nggak pernah jualan settingan," ujar Arka tegas, memotong lamunan kelamnya dan menatap lurus ke arah lensa kamera. "Gue nggak butuh rekayasa untuk membuktikan kalau tempat ini berdarah. Malam ini, di Kamar 304, gue bakal buktikan ke kalian semua kalau rumor RSJ Medika Mandiri itu bukan cuma histeria massa."
Arka melangkah maju. Sepatu ketsnya berdecit keras menghantam ubin keramik yang pecah berantakan. Di ujung koridor yang gelap gulita, berdiri sebuah pintu kayu bernomor 304.
Pintu itu tampak ganjil jika dibandingkan dengan pintu ruang perawatan lainnya. Permukaan kayunya berwarna cokelat legam kekuningan akibat terbakar, menyisakan sisa-sisa jelaga tebal yang tak pernah dibersihkan. Di bagian tengahnya, terpasang sebuah terali besi tipis berbentuk persegi panjang—celah kecil yang dulunya digunakan oleh perawat untuk mengintip ke dalam ruangan.
Menurut arsip berita tua yang sempat Arka baca, Kamar 304 adalah sel isolasi khusus bagi pasien dengan gangguan jiwa paling agresif dan cenderung membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Dan di kamar inilah, api pertama kali menyala pada malam naas tahun 2008 itu.
Arka menghentikan langkah tepat satu meter di depan pintu. Ia mengarahkan pencahayaan ring light-nya ke celah terali. Kegelapan di dalam sana seolah menolak cahaya; sinar lampu putihnya hanya mampu menembus beberapa sentimeter sebelum menabrak kepekatan hampa.