Suara decitan besi berkarat itu berdengung tajam di udara pekat Kamar 304, menyerupai kuku-kuku panjang berkarat yang diseret paksa di atas permukaan beton kasar.
Sreeek... sreeek... sreeek...
Arka menahan napas. Seluruh otot tubuhnya menegang kaku. Di tengah kegelapan pekat yang membungkus ruangan, pendar cahaya merah dari layar ponselnya menjadi satu-satunya sumber penerangan yang tersisa. Cahaya abnormal itu memancarkan rona kemerahan yang mengerikan ke telapak tangannya dan menyinari wajahnya yang bersimbah keringat dingin.
Dengan bibir gemetaran, Arka memutar badannya pelan-pelan. Ia mengarahkan layar ponselnya ke celah bagian bawah rangka tempat tidur besi yang berjarak tak sampai dua meter dari kakinya.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada lantai semen pecah-pecah yang tertutup debu tebal dan jelaga hitam. Namun, bau daging terbakar yang tadi berembus kini terasa makin pekat, seolah-olah sumber bau busuk itu berada tepat di ceruk leher Arka, membisikkan hawa panas yang membakar kulitnya.
BZZZZT!
Ponsel di genggamannya bergetar hebat secara beruntun. Puluhan notifikasi terus bermunculan di bagian atas layar, menutupi tampilan live stream yang masih berjalan.
@Kamar304_Saksi: Kamu pikir dengan berlari keluar dari gedung terbakar itu, kamu bisa membuang rasa bersalahmu, Arka?
@Kamar304_Saksi: Dion berteriak memanggil namamu dari dalam Kamar 304 ini. Pintunya terkunci dari luar. Dan kamu... kamu justru sibuk menyelamatkan tas kameramu di koridor.
Arka membelalakkan mata. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga suaranya bergema di dalam rongga dadanya sendiri.
Kejadian malam naas satu tahun lalu itu kembali berputar bagai mimpi buruk yang tak pernah usai. Malam di mana mereka melakukan penelusuran di pabrik tekstil tua yang terbakar. Saat api mendadak menyambar dari pipa gas yang bocor, Arka panik luar biasa. Ia melihat Dion terjebak di balik tumpukan kayu berapi, namun alih-alih menarik tangan sahabatnya, insting bertahannya yang pengecut membuat Arka memilih menyambar tas berisi kamera mahal milik sponsor dan berlari keluar sendirian.
Dion dinyatakan hilang malam itu. Jasadnya tak pernah ditemukan secara utuh di antara puing-puing bangunan yang hangus. Kepolisian menutup kasus tersebut sebagai kecelakaan murni, dan Arka merahasiakan dosa kelam itu dari siapa pun—bahkan dari keluarga Dion sendiri.
Lantas, bagaimana bisa akun anonim ini mengetahui detail yang begitu presisi?
"Siapa lu?!" jerit Arka, suaranya pecah terpecah di udara hampa. "Siapa yang main-main sama gue?! Keluar lu!"
Arka berbalik cepat, menghantamkan telapak tangannya ke permukaan pintu kayu Kamar 304. Ia memutar dan menekan gagang pintu besi itu dengan panik.
Klik! Klik! Klik!
Gagang pintu itu terkunci rapat. Besinya terasa amat tebal dan bergeming, seolah-olah ada beban seberat ratusan kilogram yang menahan pintu tersebut dari luar koridor.