Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #3

RITUAL SANG SAKSI

Napas Arka tersengal-sengal, terdengar seperti embusan angin kering yang tersedak di tenggorokan yang tergores. Ia tergeletak terlentang di atas ubin semen Kamar 304 yang dingin dan berdebu. Dada kemeja hitamnya naik-turun secara tidak teratur, sementara tangannya masih gemetaran memegangi leher yang menyisa jejak memar kemerahan—bekas cengkeraman halus namun mematikan dari entitas yang tak kasat mata.

Di sebelahnya, layar ponsel masih menyala terang, memancarkan pendar merah pekat yang memantulkan bayangan-bayangan memanjang dan mengerikan ke dinding ruangan yang mengelupas.

Tiiiit... BZZZZT!

Suara dengung frekuensi radio tua kembali memecah kesunyian yang mencekam. Arka memaksakan dirinya untuk duduk, menyapu keringat dingin yang mengucur deras melewati dahinya hingga menetes ke mata. Dengan jemari yang kaku, ia merangkak mendekati ponselnya yang tergeletak pasrah di atas lantai.

Angka indikator penonton di sudut kanan atas layar telah menyentuh batas yang benar-benar mustahil: 3.400.000 viewers.

Tiga juta empat ratus ribu manusia terhubung dalam satu ruang siaran langsung yang sama. Namun, itu bukan lagi sekadar angka penikmat konten hiburan. Kolom komentar bergerak begitu cepat hingga wujud tulisan berubah menjadi garis-garis putih mendatar yang melesat tanpa henti. Di antara pusaran komentar gila itu, raungan ketakutan dari jutaan penonton bergema secara bersamaan melalui pengeras suara ponsel Arka.

“Tolong! Lampu di rumah gue mati semua! Ada yang ngetok pintu kamar mandi!”

“Anak gue yang umur empat tahun mendadak berdiri di pojokan sambil nunjuk-nunjuk layar TV!”

“HP gue kaku, nggak bisa dimatiin! Baterainya panas banget kayak mau meledak!”

“Arka, keluaryn gue dari sini! Muka gue di cermin berubah jadi gosong, Arka!”

Suara-suara tangisan, jeritan histeris, dan teriakan minta tolong berbaur menjadi satu simfoni keputusasaan yang memekakkan telinga. Setiap penonton yang membuka siaran Jejak Kelam malam ini terikat dalam satu jaring gaib yang sama. Kamar 304 tidak lagi terisolasi di dalam gedung RSJ tua ini; ruangan ini telah mengekspansi terornya menembus gelombang sinyal digital, mengetuk pintu setiap rumah yang terkoneksi dengan layar siaran Arka.

"Nggak... ini nggak benar..." bisik Arka dengan mata berair. Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada cengkeraman di lehernya tadi. "Gue cuma mau cari uang... gue cuma mau bayar kontrakan... kenapa jadi kayak gini?!"

Dengan amarah dan keputusasaan yang membuncah, Arka mengangkat batu bata pecah yang tergeletak di dekat kakinya. Ia mengayunkan batu keras itu tinggi-tinggi, mengarahkannya tepat ke layar ponsel di lantai.

"MATI LU! MATI!" jerit Arka setinggi langit.

BLAK!

Batu bata itu menghantam layar kaca ponsel dengan kekuatan penuh. Namun, alih-alih hancur berkeping-keping, hantaman itu justru memunculkan letupan percikan api berwarna kebiruan. Batu bata di genggaman Arka mendadak hancur menjadi bubuk halus, sementara layar ponselnya sama sekali tidak tergores. Kaca itu tetap utuh, mulus, dan berkilat dipenuhi pendar darah.

Ponsel itu bukan lagi sekadar perangkat elektronik buatan manusia. Benda itu telah menjelma menjadi medium jangkar antara alam nyata dan rongga kegelapan tempat entitas Kamar 304 bersemayam.

Bzzzt...

Lihat selengkapnya