Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #4

BANGSAL JIWA ANAK

Sreeek!

Pipa besi tua itu dihantamkan ke lantai keramik dengan kekuatan masif, meletupkan percikan api kebiruan yang menyinari wajah hancur sang perawat secara sekilas. Sosok bermata satu itu mengayunkan pipanya tinggi-tinggi, bergerak melangkah lebar menuju ke arah Arka dengan kecepatan yang teramat tidak wajar untuk ukuran entitas tak berjiwa.

Di belakangnya, puluhan pasang mata merah membara di balik kegelapan koridor mulai merayap keluar dari pintu-pintu bangsal yang menganga. Bayangan-bayangan hitam jangkung melangkah lunglai, jemari mereka yang berujung runcing mencakar-cakar dinding kayu, meninggalkan bekas guratan dalam yang mengeluarkan bau jelaga menyengat.

"Anjing!" jerit Arka.

Refleks bertahan hidup mengalahkan rasa takut yang melumpuhkan kakinya. Tanpa berpikir panjang, Arka berbalik dan melompat menerobos kabut hitam tebal yang merayap di lorong sebelah kanan jalur pintas menuju area sayap barat gedung tempat Bangsal Jiwa Anak berada.

BRAKKK!

Pipa besi menghantam dinding tepat di tempat Arka berdiri sekejap lalu. Hantaman itu meruntuhkan batuan semen dan keramik tua, melempar puing-puing tajam yang menyayat pipi kiri Arka hingga meneteskan darah segar.

Arka terus berlari tanpa berani menengok ke belakang. Sepatu ketsnya menghantam lantai pecah-pecah dalam irama liar. Suara napasnya yang berat dan memburu bergema nyaring di dalam koridor sempit. Di genggaman tangan kanannya, pendar merah dari layar ponsel bergoyang-goyang liar, memancarkan pendar redup yang menerangi langkah-langkah nekatnya.

Tump... Tump... Tump...

Suara langkah-langkah berat dan gesekan besi berkarat masih terdengar mengejarnya dari belakang, berjarak tak sampai sepuluh meter.

"Tolong... Tuhan, tolong..." bisik Arka, tenggorokannya terasa terbakar setiap kali menghirup udara dingin berbau bangkai.

Ia membelok tajam ke sudut lorong. Di depannya, berdiri sebuah pintu ganda berbahan besi dengan kaca tebal berdebu yang pecah di beberapa bagian. Tulisan di atas pintu itu telah pudar dan menghitam oleh asap kebakaran, namun Arka masih bisa membaca huruf-huruf yang terukir samar: BANGSAL JIWA ANAK - LANTAI 3.

Tanpa menahan kecepatan, Arka menghantamkan bahu kirinya ke pintu ganda tersebut.

DUARRR!

Pintu besi itu terbuka keras, membiarkan Arka terjerembet jatuh ke lantai semen di dalam bangsal. Ponselnya terlepas dari genggaman, meluncur beberapa meter di atas ubin sebelum terhenti menabrak sebuah objek keras.

Arka dengan cepat berbalik merangkak, membanting pintu ganda itu kembali menutup dan mengunci selot besinya dari dalam.

Brak! Brak! Brak!

Dari luar pintu, hantaman keras bertubi-tubi mulai menghantam permukaan besi. Pintu ganda itu melengkung ke dalam, mengeluarkan derit nyaring yang memekakkan telinga. Namun, selot tua itu bergeming menahan gelombang kejaran entitas di luar.

Arka terduduk lemas, menyandarkan punggungnya pada pintu besi yang bergetar hebat. Ia mengusap darah di pipinya dengan gemetaran, lalu menatap objek yang menahan ponselnya di lantai.

Itu adalah sebuah kuda-kudaan kayu kecil yang terbakar separuh. Wajah ukiran kuda itu telah menghitam, dan salah satu matanya terlepas, menyisakan lubang kayu yang bolong.

Pendar merah dari ponselnya menyinari seluruh isi ruangan. Bangsal Jiwa Anak terasa jauh lebih dingin daripada koridor utama. Di sepanjang ruangan besar ini, berjejer puluhan ranjang bayi dan anak-anak berbahan besi berkarat. Kasur-kasur di atasnya telah membusuk dan koyak, menampakkan kapuk bertabur jamur dan ulat-ulat mati yang mengering.

Di dinding-dinding ruangan, terdapat gambar-gambar buatan tangan anak-anak yang menggunakan krayon warnanya telah memudar. Gambar-gambar keluarga bahagia tanpa wajah, rumah yang dilalap api, dan sosok-sosok hitam jangkung dengan jemari panjang yang digambar memegang tangan anak-anak tersebut.

Arka memungut ponselnya.

Lihat selengkapnya