Sroshhh... sroshhh...
Begitu selot besi pintu Bangsal Jiwa Anak ditarik, air berwarna hitam pekat sepekat tinta meluncur masuk melintasi ambang pintu, merendam sepatu kets Arka hingga setinggi mata kaki. Air itu tidak hanya dingin membekukan, tetapi juga membawa aroma hanyir yang menyengat campuran antara bau karat tua, lumpur busuk, dan amis darah yang mengendap lama.
Arka melangkah keluar dari bangsal dengan penuh kewaspadaan. Koridor lantai tiga yang tadinya diselimuti kabut tebal, kini telah bertransformasi menjadi sungai genangan air yang terus mengalir deras menuju ke arah tangga darurat di ujung lorong.
Tuk... tuk... tuk...
Tetesan air beracun jatuh berkala dari langit-langit beton yang retak, menciptakan riak-riak kecil yang memantulkan pendar merah pekat dari layar ponsel di genggaman Arka.
Indikator countdown timer di atas layar bergulir tanpa henti: 38:20.
Tiga puluh delapan menit tersisa. Dan dua juta empat ratus ribu jiwa penonton masih terbelenggu dalam genggaman teror Kamar 304.
Arka merapatkan jaketnya yang basah kuyup, memeluk ponselnya erat-erat sambil menyusuri anak tangga darurat menuju ke lantai dasar. Setiap kali tapak sepatunya menjejaki air di anak tangga, gema langkahnya memantul keras di dinding-dinding semen yang sempit. Suara itu terdengar ganjil, seolah-olah ada puluhan pasang kaki telanjang yang ikut mengekor di belakangnya dari jarak yang sangat dekat.
Namun, setiap kali Arka memutar badannya dan mengarahkan cahaya ponsel ke belakang, tangga di atasnya selalu tampak hampa. Hanya ada genangan air hitam yang mengalir turun perlahan-lahan.
BZZZZT!
Saat kaki Arka menapak anak tangga terakhir di lantai dasar, air yang merendam kakinya mendadak naik drastis mencapai setinggi dada.
"Ugh!" Arka menahan napas, refleks mengangkat ponsel dan kartu memori pertama tinggi-tinggi ke udara agar tidak tersiram air.
Lantai dasar RSJ Medika Mandiri telah berubah total menjadi kolam raksasa yang terisolasi. Di depan Arka, terbentang ruangan luas beratap tinggi dengan papan penunjuk arah yang terombang-ambing di atas permukaan air: AREA HYDROTHERAPY & REHABILITASI MEDIS.
Area kolam terapi ini dulunya digunakan untuk terapi fisik dan penenangan pasien dengan gangguan jiwa berat. Kolam utama berukuran sepuluh kali lima belas meter terbenam di tengah ruangan, kini menyatu dengan banjir air hitam yang menutupi seluruh ubin lantai dasar.
Cahaya merah dari layar ponsel Arka hanya mampu menjangkau beberapa meter permukaan air di depannya. Di balik kepekatan air yang tenang namun mematikan itu, tampak bayangan reka ulang perabotan medis kursi roda, ranjang pasien, dan tabung oksigen terapung-apung bagaikan bangkai kapal karam.
Kling!
Pengeras suara ponsel Arka berdering halus, memecah kesunyian yang mencekam.
@Kamar304_Saksi: Di dasar air yang dingin inilah Dion pertama kali menyadari bahwa sahabat terbaiknya tidak akan pernah kembali menolongnya.
@Kamar304_Saksi: Peninggalan kedua ada di dasar kolam utama. Menyelamlah, Arka. Rasakan bagaimana paru-parumu dipenuhi oleh rasa putus asa.
"Bangsat..." umpat Arka dengan bibir membiru akibat suhu air yang mendadak merosot mendekati titik beku.
Ia menatap layar ponselnya. Kolom komentar dari 2,4 juta penonton yang tersisa dipenuhi pesan-pesan panik yang makin tak terkendali.
@Rizal_Gamer: Ka! Tangan gue yang tadinya aman mendadak dingin banget kayak dicelupin ke es! Dada gue sesak nggak bisa napas!!
@Nayla_99: Air hitam mendadak merembes keluar dari bawah pintu kamar mandi rumah gue! Bau busuk banget Ka!! Tolong cepetan menyelam!!
@Budi_Santoso: Gue mati rasa dari pinggang ke bawah! Arka, tolongin kita semua!!
Arka menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ia tahu tidak ada pilihan lain. Setiap detik yang terbuang berarti penderitaan fisik secara nyata bagi jutaan orang yang menyaksikan siaran ini dari layar perangkat mereka.