Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #6

DINGINNYA RUANG JENAZAH

Bau formalin yang menyengat menyingkirkan aroma hanyir air kolam begitu Arka menginjakkan kaki di lantai ruang bawah tanah dua (B2). Suhu udara di sini merosot jauh lebih drastis daripada di lantai-lantai sebelumnya. Setiap kali Arka menghembuskan napas, uap putih tebal mencetus bergulung-gulung di udara hampa, langsung membeku menjadi bulir-bulir es tipis di tepian kerah jaketnya yang basah.

Di sekelilingnya, dinding-dinding beton telanjang tanpa cat dilapisi oleh embun es tebal. Lampu gantung yang mati berjejer kaku, terayun-ayun pelan diterpa angin gaib yang datang dari lorong utama.

Pendar merah dari layar ponsel di genggaman Arka kini redup berkedip-kedip.

COUNTDOWN TIMER: 18:40.

Kurang dari sembilan belas menit. Dan satu juta empat ratus ribu jiwa penonton masih terbelenggu dalam siksaan fisik yang makin parah.

Arka meraba saku dalam jaketnya. Kartu memori pertama dan Voice Recorder kedua masih tersimpan aman. Kehangatan gaib yang memancar tipis dari kedua peninggalan itu menjadi satu-satunya pelindung yang menjaga Arka dari rasa dingin ekstrem yang siap menghentikan detak jantungnya.

BZZZZT!

Layar ponselnya bergetar kuat, menampilkan barisan komentar dari sisa penonton yang kian putus asa.

@Nayla_99: Ka!! Hawa di kamar gue mendadak panas banget kayak di depan kompor nyala! Dinding kamar gue memerah kayak mau meleleh Ka!!

@Diki_Pratama: Tangan dan kaki gue udah hitam semua! Kulit gue melepuh sendiri padahal nggak ada api!! Arka, tolong!! Jangan biarkan kita mati terbakar!!

@Budi_Santoso: Gue denger suara ketawa gila dari dalam lemari es gue! Arka cepetan!! Waktunya mau habis!!

Arka mengepalkan tangannya rapat-ragat. "Tahan... tolong bertahan sedikit lagi!" bisiknya serak ke arah kamera. "Gue udah di lantai paling bawah. Gue bakal selesaikan ini semua!"

Arka melangkah maju. Langkah kakinya menyayat keheningan ruang bawah tanah, menimbulkan gema berulang yang terdengar kian menakutkan. Di ujung lorong yang gelap, berdiri sebuah pintu ganda tebal berbahan baja berlapis seng: RUANG JENAZAH & KREMATORIUM.

Permukaan pintu baja itu tampak mengerak dan membiru akibat paparan es, namun di celah bawah pintunya, terpancar pendar cahaya oranye membara—cahaya bara api yang bergejolak hebat dari dalam tungku pemakaman.

Kriiiieeet...

Arka mendorong pintu baja yang berat itu.

Pemandangan di dalam ruangan membuat langkah Arka terhenti seketika. Ruang Jenazah RSJ Medika Mandiri berukuran sangat luas. Di sepanjang dinding kiri dan kanan, berjejer ratusan laci simpanan mayat berbahan stensil stainless steel. Dan di tengah ruangan, berdiri sebuah tungku pembakaran jenazah (crematorium) raksasa berbahan batu bata merah tebal.

Pintu tungku batu bata itu menganga lebar. Di dalam rongganya, api abadi berwarna merah keemasan bergulung-gulung liar, memancarkan gelombang hawa panas raksasa yang langsung menghantam tubuh Arka.

Sensasi ekstrem yang berlawanan menghantam Arka secara serentak: punggungnya membeku oleh es lantai dasar, sementara wajah dan dadanya terbakar oleh hawa panas tungku krematorium.

PRANG! PRANG! PRANG!

Lihat selengkapnya