Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #7

PENGORBANAN DI DALAM API

"AAARRRGGGGHHH!"

Jeritan Arka merobek keheningan mendadak di Ruang Jenazah. Lidah api berwarna merah keemasan menyambar ganas, melahap kulit punggung dan telapak tangan kanannya dalam hitungan pecahan detik. Bau daging terbakar dan aroma rambut halus yang gosong membumbung menyengat hidungnya. Rasa sakitnya luar biasa mendalam—serupa ribuan jarum membara yang ditancapkan secara serentak ke dalam sistem sarafnya.

Ujung-ujung jarinya menyentuh permukaan bodi kamera mirrorless yang sudah panas membara di atas tumpukan batu bara.

Sssss...!

Suara desisan mengerikan terdengar saat kulit basah jemari Arka menempel pada besi panas bodi kamera. Otaknya menjerit menginstruksikan tangannya untuk ditarik keluar, namun ingatan akan bayangan Dion yang melambaikan tangan meminta tolong di balik kobaran api satu tahun lalu membuat Arka mengunci kepalan tangannya.

"Gue... nggak bakal... lepasin!" jerit Arka dengan gigi bertaut rapat, air matanya menetes jatuh dan menguap seketika begitu menyentuh pinggiran tungku batu bata.

Dengan satu sentakan kuat yang menguras sisa-sisa kewarasannya, Arka meremas kuat kamera yang meleleh itu lalu menarik tangannya keluar dari dalam tungku pemakaman.

BUMMM!

Arka melempar kamera panas itu ke lantai semen yang dilapisi es. Tubuhnya ambruk terlentang di atas ubin, mengerang kesakitan luar biasa sambil memegangi lengan bawahnya yang kini melepuh merah kehitaman dan mengeluarkan uap panas.

Kamera mirrorless yang tergeletak di lantai semen memancarkan bau plastik terbakar yang pekat. Lensa depannya telah retak dan menghitam, namun di dalam rongga mesinnya, sebuah Pendar Cahaya Hijau bertenaga tinggi mendadak meledak mekar ke udara.

Sosok Dion yang berdiri di samping tungku perlahan-lahan melangkah mendekati Arka.

Bara api di dalam rongga mata Dion yang gosong perlahan memudar, berganti menjadi pendar redup berwarna kebiruan yang hangat. Sosok itu berlutut di samping Arka yang terengah-engah kesakitan di lantai.

Dion menatap tangan Arka yang hancur terbakar, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah sahabatnya yang bersimbah air mata dan keringat.

"Kamu beneran melakukannya, Arka..." bisik suara Dion. Kali ini, suaranya tidak lagi bergema berat atau dipenuhi murka gaib. Suara itu adalah suara asli Dion—suara lembut penuh kejujuran seperti saat mereka pertama kali membangun kanal bersama di kamar kontrakan sempit.

"Gue... gue nggak lari lagi, Yon..." bisik Arka serak, napasnya patah-patah menahan ngilu di tangannya. "Gue janji... gue bakal bayar dosa gue..."

Dion menyunggingkan senyum tipis di balik separuh wajahnya yang melepuh. Ia mengulurkan tangannya yang tembus pandang, menyentuh kening Arka secara lembut. Rasa dingin yang menenangkan menyapu dahi Arka, menghentikan sementara rasa terbakar di tangannya.

"Terima kasih sudah tidak meninggalkanku untuk kedua kalinya, Ka..."

Tubuh Dion perlahan-lahan terurai menjadi partikel-partikel pendar hijau yang beterbangan indah di dalam udara pekat Ruang Jenazah. Ratusan mayat kaku di dalam laci-laci simpanan mayat kembali terkulai lemas, meluncur masuk ke dalam selongsong stensil mereka dengan sendirinya.

BZZZZT!

Ponsel di pergelangan tangan Arka bergetar hebat. Pendar hijau raksasa membungkus seluruh antarmuka aplikasi siaran langsung.

Lihat selengkapnya