Rasa sakit di tangan kanan Arka terus berdenyut dalam ritme yang menyiksa. Kulit telapak dan jemarinya yang melepuh hebat kehitaman tampak mengilap terkena cairan plasma yang merembes keluar. Setiap kali udara dingin menyenggol permukaan lukanya, rasa perih tajam menjalar cepat hingga ke otot bahu, memaksa Arka menggigit bibirnya erat-erat demi menahan erangan.
Namun, di tangan kirinya, Kunci Tembaga berbentuk kepala serigala itu terasa amat kokoh. Dingin besinya seolah bertindak sebagai penawar racun sementara, mencegah Arka jatuh pingsan akibat syok rasa sakit.
BZZZZT!
Ponsel di pergelangan tangannya memancarkan pendar merah redup yang kian tidak stabil. Garis-garis distorsi memotong tampilan layar, memancarkan notifikasi yang bergerak dalam kecepatan liar:
[PERETASAN GLOBAL BERHASIL]
[SINYAL DITERUSKAN KE 12 SALURAN TELEVISI NASIONAL & PLATFORM STREAMING UTAMA]
Kolom komentar di layar kini tidak lagi hanya berisi akun-akun pengguna biasa. Nama-nama portal berita ternama, stasiun televisi nasional, hingga akun-akun bercentang biru dari jurnalis dan tokoh publik mulai memenuhi layar.
@Metro_News_Update: Sinyal siaran ini meretas seluruh slot stasiun TV nasional! Siapa pemuda ini?! Apakah ini siaran penyingkapan kasus RSJ Medika Mandiri 2008?!
@Liputan_Malam: Polisi dan tim penyelamat sedang diluncurkan ke lokasi RSJ Medika Mandiri! Arka, harap bertahan di tempat!
@Rizal_Gamer: Gue nonton dari TV ruang tamu sekarang! Seluruh saluran TV mendadak nampilin Muka lu Ka!! Lu beneran ngebongkar skandal raksasa!!
@Detik_Hukum: Nama RSJ Medika Mandiri tersambung dengan deretan pengusaha papan atas tahun 2008! Jika lantai B3 itu nyata, ini adalah skandal pembunuhan massal terbesar abad ini!
Arka menatap layar ponselnya dengan napas memburu. Skala permaian ini telah meledak melampaui imajinasinya. Ini bukan lagi sekadar urusan content creator berburu sensasi mistis; siaran ini telah berubah menjadi mimbar pengadilan massa bagi kejahatan yang terimbun rapat selama belasan tahun.
KRAGGGK!
Di depan Arka, selot pintu besi tebal B3 di balik reruntuhan dinding batu bata bergetar keras. Lubang kunci berbentuk kepala serigala di bagian tengahnya memancarkan pendar keemasan redup, seolah memanggil kunci yang ada di genggaman Arka.
"Nggak ada jalan kembali..." bisik Arka pada dirinya sendiri.
Dengan langkah perlahan yang tertatih-tatih, Arka mendekati pintu baja tersebut. Ia mengangkat tangan kirinya, mengarahkan Kunci Tembaga ke dalam lubang berukir serigala.
KLIK!
Kunci itu masuk secara presisi. Begitu Arka memutar kuncinya sembilan puluh derajat ke kanan, suara deretan roda gigi besi raksasa yang haus oli berputar nyaring dari dalam dinding beton.
DUUMMM!
Selot baja ganda yang tebalnya mencapai belasan sentimeter ditarik masuk ke dalam bingkai pintu. Pintu besi B3 yang berbobot tonan itu perlahan-lahan bergeser memutar ke dalam, memperlihatkan sebuah tangga batu yang membujur curam turun ke kegelapan abadi yang jauh lebih pekat daripada area mana pun di gedung ini.