Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #9

PILIHAN DI AMBANG TIMAH PANAS

"Ibu...!" jerit Arka. Suaranya pecah, tercekat di tenggorokan yang terasa panas terbakar.

Di balik dinding kaca tebal kedap udara di ujung perpustakaan B3, tubuh wanita setengah baya itu terkulai kaku dalam rantai besi yang menggantung. Bu Maya—ibu kandung Arka—tampak tak berdaya dengan pakaian daster rumahannya yang lusuh. Di bawah pijakannya yang melayang, cairan timah panas berwarna keemasan bergulung-gulung mendidih, melepaskan gelombang uap beracun yang menggetarkan udara di dalam tabung kaca.

Sreeek... Krrrieeet...

Rantai besi pelindung yang menahan tubuh Bu Maya mendadak diturunkan sepuluh sentimeter. Ujung daster ibunya mulai menyinggung uap panas timah, memicu percikan api kecil yang membakar kain tipis tersebut.

"Penghitung waktu tiga puluh detik dimulai dari sekarang, Arka," suara Hendrawan Pratama menggema dingin dari seluruh pengeras suara perpustakaan. "Lempar Buku Log Persembahan itu ke dalam tungku api di sebelas titik meja altar, atau saksikan ibumu meleleh menjadi cairan tanpa sisa di depan seluruh rakyat Indonesia."

Layar ponsel di pergelangan tangan Arka meledak dalam rentetan komentar liar yang bergerak secepat kilat. Seluruh stasiun televisi nasional yang diretas kini menayangkan secara langsung drama penyanderaan berdarah ini di jam tayang utama (prime time).

@Metro_News_Update: TIM POLISI DAN BRIMOB SUDAH MEMASUKI KOMPLEKS RSJ MEDIKA MANDIRI! HARAP TAHAN WAKTU, ARKA!

@Liputan_Malam: Sinyal Hendrawan Pratama terdeteksi dipancarkan dari ruang kontrol gedung Pratama Tower! Aparat sedang bergerak cepat!

@Rizal_Gamer: JANGANKAN DIBAKAR BUKUNYA KA!! TAMPILIN DULU SETIAP HALAMANNYA KE KAMERA HP KITA!! BIAR SEMUA ORANG BISA SCREENSHOT NAMA-NAMA BANGSAT ITU!!

@Detik_Hukum: Jangan turuti kemauannya Arka! Sekali buku itu terbakar, bukti hukum utama untuk menjerat jaringan pesugihan ini akan musnah total!!

Arka berdiri memaku di tengah ruangan. Tangan kanannya yang melepuh hebat kehitaman terus meneteskan plasma darah ke ubin batu. Rasa sakit fisik yang menyiksa kini kalah jauh oleh himpitan dilema mengerikan di dalam dadanya.

Jika ia membakar buku log tersebut, bukti fisik kejahatan jaringan Kelompok Serigala Hitam selama belasan tahun akan musnah, memberi celah hukum bagi Hendrawan dan deretan pejabat korup untuk lolos dari jeratan hukum. Namun, jika ia menolak... ibunya akan tewas dalam cara yang paling mengerikan di depan matanya sendiri.

"Dua puluh detik..." bisik Hendrawan dari pengeras suara, menikmati keputusasaan Arka.

"Arka..."

Tiba-tiba, dari dalam tabung kaca, Bu Maya perlahan-lahan membukakan matanya. Wanita tua itu terbangun dari pingsannya akibat hawa menyengat cairan timah di bawah kakinya. Wajahnya yang keriput menatap Arka dari balik dinding kaca tebal.

Melihat Arka berdiri bersimbah darah dengan tangan kanan yang terbakar hangus, air mata Bu Maya meleleh membasahi pipinya. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara menembus kaca kedap udara:

"Jangan... Arka... jangan menyerah pada mereka..."

Dada Arka bagai dihantam palu godam raksasa. Matanya memerah, air mata bercampur darah mengalir menyusuri pipinya.

"Nggak... gue nggak bisa biarin Ibu mati!" jerit Arka hysteris.

Ia mengangkat Buku Log Persembahan bersampul kulit lembu hitam itu dengan tangan kirinya yang selamat. Langkah kakinya yang tertatih-tatih melangkah mendekati tungku api kecil di atas altar batu.

Lihat selengkapnya