Gumam gemuruh batu-batu beton raksasa yang berjatuhan di belakang mereka terdengar bagaikan guruh murka di dalam perut bumi. Debu semen tebal beracun membumbung pekat, menelan habis ruangan perpustakaan B3 yang selama belasan tahun menjadi saksi bisu ritual kelam Kelompok Serigala Hitam.
"Ibu, pegang pundak Arka yang kiri! Rapatkan badan Ibu!" teriak Arka, suaranya pecah terhalang kain jaketnya yang digunakan untuk menutupi hidung sang ibu.
Dengan sisa tenaga dari kaki yang gemetaran dan bahu kiri yang menahan bobot tubuh ibunya, Arka menerobos masuk ke dalam celah dinding rahasia di balik altar batu. Lorong evakuasi kuno itu sangat sempit, beratap rendah dengan dinding bata merah yang dipenuhi kerak air liat dan lumut basah.
BRUKKK! DUARRR!
Sebuah dentuman raksasa memecah hening di belakang mereka. Pintu besi tebal dan altar batu di perpustakaan B3 runtuh total tertimbun ratusan ton beton dan tanah. Hantaman angin kompresi akibat runtuhnya atap meluncur kencang melalui lorong sempit, mendorong Arka dan ibunya terjerembet ke depan.
Arka mengerang menahan sakit yang luar biasa saat lengan kanan bawahnya yang terbakar hebat tak sengaja menghantam dinding bata. Sensasi daging melepuh yang terkelupas paksa membuat pandangannya seketika memutih. Namun, ia menolak untuk ambruk. Di kegelapan lorong sempit itu, pendar-pendar cahaya hijau lembut beterbangan melayang di udara, menjadi penunjuk jalan yang menembus kepekatan debu.
Bayangan Dion dan puluhan roh korban tahun 2008 berjalan mengambang beberapa meter di depan mereka, membentengi Arka dan Bu Maya dari runtuhan-runtuhan batu kecil yang meluncur turun dari atap lorong.
"Sedikit lagi, Arka... terus berlari..." suara Dion menggema di dalam benak Arka, terdengar kian membias dan menjauh seiring berjalannya langkah mereka.
Arka terus memacu kakinya yang berdarah, memeluk pinggang ibunya erat-erat. Setiap kali napasnya terengah-engah, aroma busuk lumpur dan cairan pengawet perlahan berganti menjadi embusan angin malam yang terasa segar dan membawa aroma embun rumput basah.
Di ujung lorong yang melengkung ke atas, tampak pendar cahaya buatan berwarna merah dan biru yang berkedip-kedip terang secara bersahutan.
"Cahaya... ada cahaya di depan, Bu!" bisik Arka dengan bibir membiru.
Arka menggunakan bahu kirinya untuk menghantam pintu jeruji besi tua yang menutupi muara pembuangan air di pinggir kompleks RSJ.
PRANG!
Engsel jeruji besi yang sudah lapuk itu patah seketika. Arka dan ibunya terdorong keluar, tersungkur di atas gundukan rumput basah di area luar pagar belakang RSJ Medika Mandiri.
"Haf... haf... haf...!" Arka terlentang di atas rumput basah, menghirup udara malam yang murni serak-serak basah. Dada kirinya naik-turun memburu, sementara lengan kanannya yang terbakar kaku tak lagi bisa digerakkan.
Di sekeliling mereka, malam yang tadinya gelap gulita kini dipenuhi oleh raungan sirine pemadam kebakaran dan mobil kepolisian. Puluhan sorotan lampu tembak raksasa dari helikopter kepolisian membilas seluruh area kompleks RSJ dari udara.
"DI SINI! KORBAN KELUAR DI SEKTOR BARAT!" jerit seorang petugas Brimob berseragam hitam lengkap dengan senjata laras panjang yang sedang menyusuri pagar.