Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #11

LUKA YANG TAK MAU SEMBUH

Beep... beep... beep...

Ritme teratur dari mesin vital sign monitor menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan kaku di dalam Ruang Rawat Terisolasi VIP Lantai 4 Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Udara di dalam ruangan itu terasa dingin menyengat, dipenuhi aroma tajam larutan antiseptik, alkohol, dan uap obat-obatan cair yang mengendap pekat di dinding-dinding keramik putih.

Arka perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah. Pandangannya yang kabur perlahan menajam, menangkap bayangan plafon putih bersih dan pendar redup lampu neon yang ditutupi mika abu-abu.

Rasa sakit yang teramat sangat menyengat lengan kanan bawahnya seketika itu juga.

"Nngghh...!" Arka mengerang tertahan. Gigi-giginya bertaut rapat saat gelombang rasa nyeri yang dahsyat merambat tajam melalui serabut sarafnya, menjalar dari ujung jari hingga menghantam dada bagian kanan.

Ia menolehkan kepalanya pelan. Lengan kanan bawahnya hingga telapak tangan telah dibungkus oleh perban balut kasa steril tebal berlapis-lapis. Di balik lapisan kain putih itu, Arka masih bisa merasakan sensasi panas membara yang tak kunjung padam seolah daging dan kulitnya masih menempel pada tumpukan batu bara membara di dalam tungku krematorium B3. Obat bius dan analgesik dosis tinggi yang disuntikkan para dokter hanya sanggup menumpulkan rasa sakit di permukaan, namun gagal menembus penderitaan yang telah meresap hingga ke sumsum tulangnya.

Di atas dinding depan ranjangnya, sebuah televisi layar datar berukuran empat puluh inci menyala tanpa suara, menampilkan tayangan Breaking News yang disiarkan secara berulang-ulang oleh stasiun berita nasional.

Gambar di layar memperlihatkan irak-irakan kendaraan taktis kepolisian dan ambulans yang memadati pelataran RSJ Medika Mandiri yang kini telah rata dengan tanah. Garis polisi kuning membentang berisai di sekeliling kawah runtuhan. Pada bagian pojok layar, tampak cuplikan rekaman video saat sosok Hendrawan Pratama pengusaha media terkemuka yang dulunya disegani digiring keluar dari pintu jet pribadinya di Bandara Soekarno-Hatta dengan tangan terikat borgol baja dan wajah pucat pasi.

Teks berjalan (running text) berwarna merah tebal di bawah layar berita itu terus bergerak memberikan informasi terbaru:

[MABES POLRI RESMI TETAPKAN HENDRAWAN PRATAMA SEBAGAI TERSANGKA UTAMA KASUS RITUAL B3 & PEMBUNUHAN BERENCANA]

[TIM FORENSIK MULAI PROSES EKSKAVASI RERUNTUHAN RSJ MEDIKA MANDIRI]

[KONDISI ARKA 'JEJAK KELAM' DILAPORKAN STABIL DI BAWAH PENGAWASAN KETAT TIM MEDIS DAN BRIMOB]

Arka menghela napas panjang, membiarkan dadanya naik-turun dalam ritme yang tidak teratur. Ibunya, Bu Maya, kini dirawat di ruang bangsal terpisah dua lantai di bawahnya dengan pengawalan personil kepolisian berseragam lengkap. Ibunya selamat tanpa luka fisik yang serius, hanya mengalami dehidrasi ringan dan syok mental akibat insiden penyanderaan tersebut.

Semuanya tampak sudah berakhir dengan kemenangan sempurna di mata publik. Kebenaran telah dibongkar, sang pelaku utama telah mendekam di balik jeruji besi, dan nyawa jutaan penonton telah terbebas dari jerat kutukan gaib.

Namun, Arka tahu pasti bahwa kegelapan yang sesungguhnya belum benar-benar sirna.

BZZZZT...

Tiba-tiba, sebuah desisan halus terdengar dari arah lemari kayu kecil di samping ranjangnya.

Di atas lemari itu, tergantung jaket pelindung hitam milik Arka yang kotor berdebu dan penuh noda darah kering. Di balik saku dalam jaket tersebut, terpancar pendar merah keemasan yang sangat tipis menembus serat kain.

Arka menahan napas. Dengan tangan kirinya yang bebas dari selang infus, ia merayap perlahan menyamping di atas kasur, lalu mengulurkan jemarinya untuk merogoh saku dalam jaketnya.

Jemarinya menyentuh permukaan Kunci Tembaga berukir kepala serigala.

Sssss...!

Begitu kulit telapak tangan kirinya bersentuhan dengan besi tembaga itu, sebuah sensasi hangat yang aneh langsung mengalir cepat menyusuri pembuluh darah di lengannya, naik ke bahu, lalu memotong jalur rasa sakit di lengan kanannya yang terbakar. Rasa nyeri yang tadinya menyiksa bagaikan ditusuk ribuan jarum membara mendadak sirna seketika, berganti menjadi rasa dingin yang menenangkan.

Arka menarik kunci itu keluar, mengamatinya di bawah pendar redup kamar rawat.

Besi tembaga kuno itu tidak lagi berwarna hitam kelam seperti saat ia menemukannya di perpustakaan B3. Kini, di sepanjang ukiran bulu serigala dan mahkotanya, menjalar garis-garis urat merah halus yang berdenyut lambat persis seperti pembuluh darah manusia yang berdetak mengikuti irama jantung Arka.

Dua bola mata ukiran serigala pada kunci itu menyala redup, memancarkan pendar merah bergetar yang seolah menatap balik ke arah mata Arka.

"Lu... menyerap darah gue...?" bisik Arka lirih.

Seolah menjawab pertanyaan itu, rasa hangat di telapak tangannya mendadak berubah menjadi denyutan keras. Di dalam benak Arka, terngiang kembali pesan terakhir dari akun misterius @Kamar304_Saksi yang tercetak di layar ponsel matinya satu jam lalu:

Lihat selengkapnya