Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #12

PERTEMUAN DENGAN SARAH

Hujan deras membilas langit Jakarta dengan guratan-guratan air yang tak terputus. Petir menyambar-nyambar di atas awan kelam, memancarkan kilatan cahaya putih yang menerangi lorong-lorong sempit di kawasan pemukiman padat di balik kompleks rumah sakit. Air hujan yang dingin menusuk kulit Arka, membasahi jaket hitamnya yang kotor dan mengalir masuk ke dalam sela-sela perban tebal di lengan kanannya.

Setiap kali tetesan air menyenggol luka bakarnya, rasa perih yang dingin menjalar kaku hingga ke tulang bahu. Namun Arka terus memaksa kakinya melangkah tertatih-tatih, menyusuri genangan air keruh di atas ubin konblok yang licin.

Haf... haf... haf...

Napas Arka berembus berat, mencetuskan uap tipis di tengah dinginnya angin malam. Di balik saku jaketnya, Kunci Tembaga berukir kepala serigala itu terasa hangat membara, memancarkan denyutan lambat yang menjaga kesadarannya agar tidak tumbang di tengah jalan.

Arka membelokkan langkahnya ke dalam sebuah lorong belakang yang diapit oleh dinding-dinding bata sebuah bangunan toko kelontong tua yang sudah tutup. Sebuah kanopi seng yang berkarat memberikan sedikit perlindungan dari guyuran hujan deras di atas kepalanya.

Ia menyandarkan punggungnya pada dinding bata yang basah, perlahan-lahan merosot duduk di atas tumpukan peti kayu bekas. Tangan kirinya yang gemetaran mengangkat ponselnya yang retak dan mati total. Layar kaca ponsel itu menyorotkan refleksi wajahnya sendiri yang pucat pasih, bersimbah darah kering di leher dan jelaga hitam di dahi.

Sreeek...

Tiba-tiba, suara gesekan lembut sepatu bot di atas genangan air hujan terdengar dari arah mulut lorong yang gelap.

Arka seketika menegakkan kepalanya. Tangan kirinya secara refleks merogoh saku jaket, bersiap mencengkeram Kunci Tembaga untuk menghadapi serangan dari sisa pengikut Kelompok Serigala Hitam.

"Jangan bergerak satu milimeter pun, Arka," sebuah suara wanita yang tajam, dingin, dan bergetar menembus deru suara hujan dari balik kegelapan lorong.

KLIK!

Sebuah moncong pistol peredam suara berbahan baja hitam mencuat dari balik bayangan kanopi, mengarah tepat ke tengah-tengah dahi Arka.

Di belakang senjata api itu, berdiri sesosok wanita muda berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Ia mengenakan jaket hoodie berwarna hitam longgar dengan kupluk yang ditarik rendah menutupi keningnya. Rambut hitam sebahu yang basah terurai membingkai wajahnya yang tirus dan tegas. Namun, di balik mata hitamnya yang tajam bagaikan belati, terpancar penderitaan dan amarah yang luar biasa mendalam mata yang menyimpan bayangan kepedihan dari luka masa lalu yang belum tersembuhkan.

Arka menatap raut wajah wanita itu di bawah temaram pendar lampu jalan yang berkedip. Ada sesuatu pada garis rahang dan bentuk bibir wanita itu yang terasa sangat familiar di dalam ingatannya.

"Mata itu..." bisik Arka lirih, matanya membelalak perlahan. "Lu... Sarah...?"

Mendengar nama kecilnya diucapkan oleh Arka, jemari wanita itu pada pemicu pistol semakin menegang keras. Buku-buku jarinya memutih, dan napasnya memburu cepat dalam kemarahan yang tertahan.

"Jangan pernah berani menyebut namaku dengan mulut manismu itu, pembunuh!" gertak Sarah, suaranya pecah menahan tangis yang terancam meledak. "Gara-gara kanal Jejak Kelam milikmu, abangku mati terbakar di RSJ Medika Mandiri! Lu eksploitasi kematian Dion demi konten, demi ketenaran, demi uang ratusan juta yang masuk ke rekeningmu!"

Air mata meleleh membasahi pipi Sarah, bercampur dengan titik-titik air hujan yang menetes dari ujung rambutnya.

Dion sering menceritakan adik perempuan satu-satunya ini sewaktu mereka masih merintis kanal bersama di kamar kontrakan sempit. Sarah adalah seorang mahasiswa jenius di bidang Cyber Security dan peretasan sistem jaringan yang sangat disayangi Dion. Saat tragedi kebakaran satu tahun lalu terjadi, Sarah sedang berada di luar negeri untuk menyelesaikan program beasiswanya, dan ia hanya kembali untuk menemukan abangnya telah dinyatakan tewas tanpa sisa di dalam reruntuhan gedung.

"Gue cari lu selama berbulan-bulan, Arka," lanjut Sarah dengan suara bariton yang gemetaran. "Gue retas seluruh data transaksi keuangan Jejak Kelam. Gue lihat bagaimana lu menikmati uang sponsor dari Pratama Media Group saat abang gue membusuk di bawah tanah! Lu pahlawan di mata jutaan penonton malam ini... tapi bagi gue, lu nggak lebih dari bangsat pengecut yang menumbalkan temannya sendiri!"

Lihat selengkapnya