Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #13

DEKODE SEMBILAN LOKASI

Gelombang hawa dingin dari angin malam merayap menembus celah-celah kaca jendela bekas markas rahasia Sarah—sebuah bengkel mesin terbengkalai di tepi dermaga pelabuhan tua. Di luar, suara deburan ombak yang menghantam tiang-tiang pancang beton beradu dengan gemuruh gerimis yang tak kunjung reda.

Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh pendar tiga layar monitor server portabel, Arka duduk di atas kursi besi kaku. Lengan kanannya yang terbungkus kasa tebal bersandar kaku di atas meja kayu. Setiap kali jantungnya berdetak keras, denyutan nyeri di bawah lapisan kasa itu seolah berdenyut seirama dengan garis-garis merah digital yang menari di layar komputer Sarah.

Sarah menempelkan sebuah bantalan kasa steril baru berperekat ke leher Arka untuk menutup luka bekas goresan jarum suntik potasium. Jemarinya bergerak sangat cekatan, cekatan khas seorang peretas yang terbiasa bekerja di bawah tekanan tinggi.

"Tahan sedikit," gumam Sarah pelan. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah kembali ke depan konsol utamanya. "Luka di lehermu nggak dalam, tapi kalau potasium itu sempat masuk satu mililiter saja... jantungmu sudah berhenti berdetak dua jam lalu."

Arka menyapu peluh dingin di dahinya dengan tangan kiri. "Gue nggak peduli soal luka ini, Sarah. Fokus ke peta itu. Waktu kita cuma tersisa dua setengah jam."

Sarah mengangguk tegas. Tangan jemarinya kembali menari di atas papan ketik mekanis, memicu deretan baris kode enkripsi Python bertenaga tinggi untuk menembus jaringan arsip gelap (dark web) dan dokumen sipil tahun 2012.

BZZZZT... PING!

Tiga layar monitor raksasa di depan mereka mendadak berubah warna menjadi merah gelap. Peta tiga dimensi kota Jakarta yang sebelumnya hanya berupa garis-garis kasar, kini mekar memperlihatkan struktur geografis yang teramat presisi.

Sembilan titik koordinat merah itu membentuk pola lingkaran Nonagram—sebuah bintang sembilan sudut kuno yang saling mengunci satu sama lain di bawah lapisan tanah ibu kota.

"Lihat ini, Arka," ujar Sarah, suaranya berubah menjadi sangat serius saat ia memperbesar tampilan titik kedua. "Ini bukan sekadar penentuan lokasi secara acak. Sembilan titik ini dibangun tepat di atas jalur simpul energi geotermal tua yang sengaja dimanipulasi sejak zaman kolonial."

Sarah mengetuk layarnya, memunculkan berkas berita digital bertanggal 14 November 2012.

Di layar, tampak foto sebuah bangunan megah bergaya arsitektur Art Deco delapan belas lantai yang berdiri anggun di kawasan pusat bisnis. Di atas puncaknya, terpasang papan nama neon raksasa yang kini telah mati: HOTEL GRAND SENTOSA.

Di bawah foto tersebut, tertera judul berita utama yang sempat mengguncang bursa saham nasional belas tahun lalu:

[SKANDAL TRAGEDI SENTOSA: 12 ANGGOTA DEWAN DIREKSI & PEMEGANG SAHAM UTAMA TEWAS MENDADAK DALAM RITUAL BUNUH DIRI MASSAL DI KAMAR 707]

[DOKUMEN KEPOLISIAN MENYATAKAN SELURUH KORBAN MENELAN CAIRAN TIMAH PANAS SEBELUM MENGLOMPAT DARI JENDELA LANTAI TUJUH]

[HOTEL RESMI DITUTUP TOTAL & DISITA OLEH KONSORSIUM PERBANKAN MISTERIUS]

Darah Arka seketika membeku. Matanya menatap tajam ke arah kata "cairan timah panas" di dalam laporan kepolisian tersebut.

"Timah panas..." bisik Arka serak. "Pola ritualnya sama persis dengan tungku B3 di RSJ Medika Mandiri. Di B3, mereka menggunakan api dan batu bara... di Hotel Sentosa, mereka menggunakan cairan timah dan cermin!"

"Tepat," sahut Sarah cepat. Ia memutar tayangan ulang rekaman keamanan (CCTV) lalu lintas sekitar Hotel Grand Sentosa dari dua puluh menit lalu. "Konsorsium Perbankan Misterius yang membeli aset hotel itu setelah kebangkrutan 2012 adalah Sentosa Holdings—anak perusahaan cangkang yang saham utamanya dimiliki seratus persen oleh Hendrawan Pratama dan Kelompok Serigala Hitam."

Lihat selengkapnya