VROOOOOOM!
Roda-roda tebal mobil van pelacak sinyal berwarna hitam doff meraung nyaring, membelah genangan air hujan yang membendung di sepanjang Jalan Sudirman. Cipratan air keruh membumbung tinggi menghantam trotoar, memantulkan pendar merah-biru dari lampu-lampu sirine polisi yang meraung-raung di kejauhan.
Di balik kemudi mobil van yang telah dimodifikasi secara khusus itu, Sarah menginjak pedal gas dalam-dalam. Wajahnya membeku kaku dalam konsentrasi penuh. Di kepalanya terpasang headset taktis dengan mikrofon peredam bising, sementara jemari tangan kirinya sesekali bergerak cepat mengetuk panel layar sentuh di samping roda kemudi untuk memanipulasi sinyal lampu lalu lintas di depan mereka.
"Satu menit lagi kita tembus barikade Jalan Satrio!" teriak Sarah menembus deru mesin mobil. "Gue baru saja meretas radio frekuensi Kepolisian Daerah Metro Jaya! Polda baru saja menetapkan status Siaga Satu untuk seluruh area Jakarta Selatan!"
Arka duduk di kursi penumpang samping kemudi, menekan kuat perban di lengan kanannya yang terbakar. Di memangku laptop taktis milik Sarah yang terus menyiarkan tangkapan sinyal live stream dari ponsel retaknya.
Melalui peretasan audio radio kepolisian yang terhubung ke pengeras suara van, suara komando dari Kepala Kepolisian Daerah terdengar memekakkan telinga:
"SELURUH PERSONEL BRIMOB DAN DENSUS SEKTOR PUSAT! TERSANGKA ARKA 'JEJAK KELAM' DILAPORKAN MEMBAWA SENJATA TAJAM DAN PERANGKAT PERETASAN GLOBAL! TAHAN TERSANGKA DI LUAR AREAL HOTEL GRAND SENTOSA! JANGAN BIARKAN TERSANGKA MEMASUKKAN MEDIA MASSA KE DALAM AREA STERIL!"
Arka menyunggingkan senyum pahit yang dipenuhi kepedihan. "Mereka mengira gue teroris yang menyandera tiga jurnalis itu..."
"Bukan cuma polisi yang mengira begitu, Arka! Lihat siaran berita sekarang!" sahut Sarah sambil melemparkan pandangan sekilas ke arah layar monitor tengah.
Di layar monitor van, siaran berita dari seluruh stasiun televisi nasional sedang menayangkan narasi yang saling bertabrakan secara liar.
Di satu sisi, jurnalis-jurnalis TV senior berdebat sengit di dalam studio mengenai legitimasi siaran Jejak Kelam. Sebagian menyebut Arka sebagai buronan berbahaya yang mengalami gangguan jiwa pasca-trauma kebakaran RSJ 2008, sementara sebagian lainnya menuding bahwa Arka adalah korban konspirasi tingkat tinggi yang sengaja dijadikan kambing hitam oleh lingkaran kekuasaan Kelompok Serigala Hitam.
Namun, di media sosial dan platform siaran langsung, opini publik meledak dalam skala yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah digital Indonesia.
Lebih dari lima juta penonton memadati siaran langsung Jejak Kelam yang terus berputar tanpa henti. Di bawah tayangan cuplikan gambar tiga jurnalis yang tergantung di atas cairan timah panas Kamar 707, kolom komentar meluncur dalam kecepatan yang tak lagi sanggup dibaca oleh mata telanjang:
@Rizal_Gamer: POLISI JANGAN BLOKIR ARKA!! BIARIN ARKA MASUK KE HOTEL!! KALAU POLISI YANG MASUK TANPA KUNCI TEMBAGA, TIGA JURNALIS ITU BAKAL DITENGGELAMKAN SAMPAI MATI!!
@Metro_News_Update: Mabes Polri menyatakan bahwa tim penjinak bahan peledak telah dikirim ke Hotel Grand Sentosa! Namun sinyal radio di sekitar hotel terputus total oleh area distorsi gaib!
@Siska_Fitri: Lihat di luar jendela hotel!! Ribuan warga dan massa penonton Jejak Kelam udah berkumpul di luar pagar Hotel Sentosa!! Mereka memblokir jalanan biar polisi nggak bisa nangkep Arka!!
@Detik_Hukum: Ini bukan lagi sekadar kasus hukum! Ini adalah perang terbuka antara rakyat yang menuntut kebenaran melawan konspirasi pesugihan pejabat!! Arka, bertahanlah!!
Arka memandangi komentar-komentar tersebut dengan dada yang bergemuruh. Publik bukan lagi sekadar penonton pasif yang mencari sensasi horor di tengah malam; mereka telah menjadi benteng hidup yang secara spora-dis melindungi jalannya penyingkapan kejahatan ini dari pembungkaman otoritas.