Kreeeeak... BUMM!
Pintu besi melingkar berdinding karat itu terdorong terbuka dengan erangan nyaring, menyemburkan gumpalan udara dingin berbau lilin lebah, kapur barus tua, dan parfum melati busuk yang menyengat hidung.
Arka melangkah keluar dari saluran pembuangan air, menjejakkan sepatu botnya ke atas lantai marmer hitam berdebu di area basement Hotel Grand Sentosa. Sarah menyusul tepat di belakangnya, memegang pistol peredam suara di tangan kanan dan laptop taktis yang terkunci rapat di dalam tas punggungnya.
Begitu penutup besi di belakang mereka tertutup otomatis oleh kait mekanis yang aus, deru hujan deras dan raungan sirine ribuan mobil polisi di luar gedung seketika lenyap ditelan keheningan yang tak wajar. Udara di dalam bangunan ini terasa sangat padat, tebal oleh tekanan udara negatif yang membuat selaput gendang telinga Arka terus berdenyut kencang.
"Sinyal radio dan GPS kita mati total," panggil Sarah pelan, suaranya bergema cemplang di dalam ruangan basemen yang luas. Ia mengamati layar indikator peretasannya yang berkedip merah. "Instalasi beton dan cermin di hotel ini dilapisi oleh lapisan timbal tipis. Tempat ini sengaja dirancang bagaikan sangkar Faraday gaib."
Arka tidak menjawab. Tangan kirinya mencengkeram erat Kunci Tembaga di balik saku jaketnya. Besi kuno itu kini tidak hanya memancarkan rasa panas, melainkan juga denyutan getaran konstan yang mengarahkan pandangannya menuju sebuah pintu ganda berbahan kayu mahoni ukir di ujung lorong basemen.
Tuk... tuk... tuk...
Langkah kaki mereka berdua beradu kaku dengan keheningan.
Arka mendorong pintu kayu mahoni tersebut, memperlihatkan tangga melingkar berlapis karpet beludru merah kusam yang mengarah naik ke Lobi Utama hotel.
Suasana di Lobi Utama Hotel Grand Sentosa menyajikan kontras yang mengerikan dibandingkan dengan RSJ Medika Mandiri yang kumuh dan hancur. Hotel bertingkat delapan belas ini dibangun dengan kemewahan era 1930-an—pilar-pilar batu granit hitam menjulang tinggi menopang langit-langit berukir Art Deco, lampu-lampu kristal raksasa bergaya gantung melayang diliputi sarang labah-labah tebal, dan deretan sofa kulit tua yang berdebu teratur di sekitar meja kaca.
Namun, hal yang paling mencolok dan mengerikan dari Lobi Utama ini adalah dinding-dindingnya.
Hampir seluruh permukaan dinding lobi dipenuhi oleh ratusan cermin raksasa berbingkai kuningan dan ukiran emas berbentuk kepala serigala. Cermin-cermin setinggi tiga meter itu berdiri berjejer saling berhadapan, memantulkan bayangan ruangan secara berulang-ulang hingga menciptakan ilusi lorong tanpa ujung yang melengkung tak berhingga.
Zzzzz... Krrrrr...
Di sudut tengah lobi, di atas sebuah meja mahoni bulat, sebuah gramophone piringan hitam kuno bertanduk tembaga berputar sendiri tanpa dialiri listrik.
Jarum tembaganya menggores piringan hitam yang retak, memainkan alunan lagu jazz tua bernada minor yang lambat dan datar. Suara terompet dan vokal wanita dari lagu tahun 1930-an itu berputar dalam siklus Paul yang rusak, mengalun lembut namun menyimpan frekuensi yang menyiksa otak.
"Musik itu..." bisik Sarah sambil memegangi pelipisnya. "Piringan hitamnya nggak ada kabel listrik sama sekali. Dari mana instrumen itu bisa berputar?!"
"Jangan dengarkan lagunya, Sarah," potong Arka cepat, menarik kain jaketnya untuk menutupi telinganya sejenak. "Setiap artefak di tempat ini dirancang untuk merusak fokus dan kewarasan kita sebelum kita sampai di Kamar 707."
Countdown di layar ponsel retak milik Arka menunjukkan waktu yang kian mencekam:
[WAKTU TERSISA: 00:28:10]
"Lift mati total. Kita harus naik lewat tangga darurat di Sektor Timur," ujar Arka sambil mengarahkan pendar merah ponselnya ke arah plang petunjuk jalan berbahasa Belanda di dekat lift.