Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #16

TEROR KAMAR CERMIN (KAMAR 707)

KLIK... CRAGGGK!

Suara mekanis pengunci besi raksasa di balik pintu ganda kayu mahoni berputar sembilan puluh derajat secara otomatis. Engsel-engsel kuningan yang berkarat mengerang keras, lalu kedua daun pintu Kamar 707 perlahan-lahan terdorong mekar ke dalam, menyemburkan gumpalan uap panas bersuhu tinggi yang menyengat hidung.

Aroma uap kimia timah mendidih, uap minyak tanah tua, dan bau amis darah segar seketika menyapu wajah Arka dan Sarah. Udara di dalam ruangan itu terasa begitu rapat, membakar lapisan interior tenggorokan Arka setiap kali ia berusaha menarik napas.

Namun, begitu Arka dan Sarah melangkahkan kaki menembus gundukan uap panas tersebut, pemandangan di depan mereka memutus logika ruang dan waktu.

Kamar 707 sama sekali tidak menyerupai kamar suite hotel berbintang pada umumnya. Tidak ada kasur, tidak ada meja rias, dan tidak ada jendela luar.

Ruangan di balik pintu itu telah diubah menjadi sebuah labirin melingkar raksasa yang tak bertepi, dibangun dari ribuan lembar cermin kristal cembung dan cekung setinggi enam meter. Cermin-cermin raksasa berbingkai tembaga dan emas itu dipasang saling silang menyilang dalam sudut-sudut geometris yang tidak masuk akal, menciptakan Ilusi Optik Lorong Tak Berhingga (Infinite Mirror Maze).

Setiap kali Arka menggerakkan tangan kirinya, pendar merah keemasan dari Kunci Tembaga memantul membiaskan jutaan pecahan sinar di seluruh dinding kaca. Di dalam pantulan-pantulan tersebut, bayangan Arka dan Sarah terdistorsi menjadi ribuan wujud—beberapa bayangan tampak lebih tinggi, beberapa tampak terbalik gantung di langit-langit, dan sebagian lainnya bergerak melangkah dengan irama jeda setengah detik lebih lambat daripada gerakan tubuh asli mereka.

BZZZZT!

Ponsel retak di genggaman Arka mendadak memancarkan pendar merah terang yang bergetar hebat. Sinyal siaran langsung Jejak Kelam meretas transmisi visual dan menyiarkan sudut pandang kamera ponsel Arka secara langsung ke seluruh saluran siaran nasional.

Angka penonton di pojok kanan atas layar melonjak drastis dalam skala yang memecahkan rekor dunia digital:

[LIVE STREAMING: 7.800.000 JIWA PENONTON TERHUBUNG]

Di layar ribuan stasiun TV dan jutaan ponsel rakyat Indonesia, tampilan surealis labirin cermin Kamar 707 memicu gelombang kepanikan dan keheranan masif. Kolom komentar meluncur bagaikan air bah tanpa henti:

@Metro_News_Update: VISUAL KAMAR 707 TERLALU EXTREME!! Tidak ada struktur kamar hotel biasa di dalam sana! Ini adalah ruang interior buatan bergaya arsitektur gaib!!

@Rizal_Gamer: Gue pusing banget ngeliat cerminnya!! Itu bayangan Arka kok ada ribuan?! Ka, jangan sampai lu salah melangkah menabrak cermin jebakan!!

@Detik_Hukum: Timer di layarnya tinggal 00:08:12!! Delapan menit lagi sebelum tiga jurnalis itu ditenggelamkan ke cairan timah panas!!

@Siska_Fitri: Sarah pegang jaket Arka erat-erat!! Jangan sampai kalian terpisah di dalam labirin cermin itu!! Ya Allah lindungi mereka berdua!!

"Suhu udara di dalam ruangan ini mencapai empat puluh dua derajat Celsius..." ujar Sarah dengan suara bergetar, sambil mengelap peluh bening yang menetes deras dari keningnya. Tangan kirinya menggenggam ujung jaket hitam Arka begitu erat hingga kainnya teremas kaku. "Pola arsitektur cermin ini dirancang untuk memutus orientasi spasial dan merusak kompas keseimbangan otak tengah kita."

"Jangan mengandalkan mata telanjang untuk mencari jalan keluar, Sarah," sahut Arka, suaranya terdengar sangat tenang namun dipenuhi ketegangan yang pekat. "Cermin-cermin di tempat ini akan memperlihatkan pintu palsu yang membuat kita berputar-putar di tempat yang sama sampai waktu habis."

Arka mengangkat tangan kirinya yang menggenggam Kunci Tembaga berukir kepala serigala.

Besi kuno itu memancarkan daya reaksi yang unik. Setiap kali Arka menghadapkan Kunci Tembaga ke arah dinding cermin ilusi, permukaan besi kunci akan berubah menjadi sangat dingin membeku hingga mengkristal. Namun, begitu Arka mengarahkan kunci ke lorong cermin yang merupakan jalan nyata, Kunci Tembaga akan bergetar keras dan memancarkan denyut panas membara.

"Kunci ini adalah kompas kita," tegas Arka. "Kita ikuti arah denyutan panasnya."

Arka memimpin langkah, melangkah perlahan menyusuri lorong cermin melengkung di sisi kanan. Keheningan di dalam labirin itu terasa begitu menekan, hanya diiringi oleh gema gesekan sepatu bot mereka dan detak instrumen jarum jam dinding tua yang berdetak nyaring dari tempat yang tak terlihat.

Tuk... tuk... tuk...

Namun, baru sepuluh langkah mereka menerobos lorong melengkung tersebut, pencahayaan merah di dalam labirin cermin mendadak meredup drastis.

SSSSHHH...

Uap dingin berwarna abu-abu pekat merayap keluar dari celah-celah bawah lantai cermin, memenuhi pandangan mata hingga sebatas dada.

Lihat selengkapnya