Krrrrr... KRAGGGK!
Roda gigi baja di langit-langit berputar semakin kencang, melepaskan untaian rantai besi tebal yang menahan tubuh tiga jurnalis investigasi. Suara gesekan rantai beradu dengan desisan mendidih dari ratusan liter cairan timah panas di bawah kaki mereka. Udara di dalam Ruang Altar Utama Kamar 707 terasa begitu menyengat, membakar bulu hidung dan membuat permukaan kulit Arka terkelupas perih.
Ujung sepatu bot Pak Damar—jurnalis senior berkacamata retak—kini benar-benar menyentuh permukaan uap keemasan timah panas. Asam dan asap putih membumbung dari sol sepatunya yang mulai meleleh licin. Mata Pak Damar mendelik lebar di balik kacamata retaknya, memancarkan rasa teror tak terbayangkan saat bau karet terbakar memenuhi udara.
BZZZZT!
Di genggaman tangan kiri Arka, ponsel retak memancarkan pendar merah bergetar yang menyiarkan detik-detik kematian tersebut ke lebih dari delapan juta pasang mata di seluruh negeri.
[WAKTU TERSISA: 00:00:45]
Kolom komentar di siaran langsung Jejak Kelam meledak dalam histeria massal:
@Metro_News_Update: SOL SEPATU KORBAN MULAI MELELEH!! ARKA CEPAT CEGAH MESIN KEREK ITU!!
@Rizal_Gamer: YA ALLAH EMPAT PULUH DETIK LAGI!! ARKA BONGKAR TEKA-TEKI ALTARNYA KA!!
@Siska_Fitri: Gue nggak kuat ngerasa ngeri!! Jangan biarkan jurnalis itu mati tenggelam di timah panas!!
@Detik_Hukum: Perhatikan altar batu di depan Arka!! Ada tiga lembar cermin berukir simbol di atasnya!! Itu kuncinya!!
"Arka! Lihat altarnya!" teriak Sarah, jemarinya memegang pistol dengan kokoh sembari mengawasi sekeliling ruangan yang dipenuhi pantulan cermin cembung. "Ada mekanis pemantul sinar di atas meja batu!"
Arka menghambur maju, melompat melangkahi genangan minyak tua di lantai marmer, lalu menerjang tepat ke depan Altar Batu Hitam di tengah ruangan.
Di atas permukaan meja batu yang dingin itu, terpasang tiga bilah cermin kristal berbentuk segi delapan yang diletakkan di atas piringan kuningan berukir. Di tengah-tengah ketiga cermin tersebut, terdapat sebuah celah lubang berbentuk kepala serigala—presisi sama dengan bentuk Kunci Tembaga di genggaman Arka.
Di bawah ketiga bilah cermin, terukir kalimat prasasti kuno berbahasa Latin dan Melayu Tua yang dipahat menggunakan Tinta Darah Hitam:
“Dosa Efisiensi adalah Pilihan Manusia.
Demi keuntungan sepuluh persen, nyawa seratus jiwa dikorbankan.
Pilihlah cermin kebenaran: Suap Perbankan, Racun Timah, atau Pengorbanan Darah.”
"Dosa Efisiensi..." bisik Arka, suaranya serak menahan napas.
Pikirannya melayang cepat membayangkan dokumen tragedi tahun 2012 yang dibacanya di markas Sarah. Tragedi bunuh diri massal 12 anggota dewan direksi Hotel Grand Sentosa bukan terjadi akibat kebangkrutan alami, melainkan eksekusi sengaja yang dirancang oleh Kelompok Serigala Hitam! Demi menutup jejak pencucian uang bernilai triliunan rupiah dan menagih klaim asuransi jiwa senilai ratusan miliar, para direktur itu diberi pilihan "efisiensi": mati meminum cairan timah panas atau seluruh keluarga mereka dibantai.
"Mereka menyebut pembunuhan massal ini sebagai 'efisiensi'..." Arka mengepalkan tangan kirinya erat-erat, matanya berkilat murka. "Mereka menukar nyawa manusia dengan angka-angka di atas kertas!"
BZZZZT!
[WAKTU TERSISA: 00:00:22]
"Arka! Rantai Pak Damar turun lagi lima sentimeter!" jerit Sarah panik. "Sepatunya sudah masuk ke permukaan timah!"