WUUUSSSHHH!
Mata belati obsidian hitam beracun itu menebas udara, memancarkan garis pendar ungu keunguan yang memotong uap panas Kamar 707. Kecepatan serangan Rendy luar biasa presisi, mengincar celah di antara rusuk dada kiri Arka dengan dorongan tenaga membunuh yang amat dingin.
Tanpa sempat menyusun kuda-kuda sempurna, Arka mengangkat tangan kirinya ke atas, mengibaskan Kunci Tembaga sekuat tenaga untuk menangkis tebasan maut tersebut!
TRANGGGGG!
Dentangan keras dua bahan mistis beradu memekakkan telinga. Percikan bunga api keemasan dan asap keunguan meledak menembus udara, menciptakan gelombang tekanan udara kecil yang menyapu uap timah panas di sekitar mereka.
Lengan kiri Arka bergetar hebat. Dorongan tenaga fisik Rendy yang dilapisi energi gaib memaksa tubuh Arka yang belum pulih terdorong mundur dua langkah. Ubin marmer di bawah sepatu botnya retak terkikis.
"Tangan kananmu sudah hancur, Arka!" cibir Rendy dengan tatapan mata yang dipenuhi cemoohan. "Kamu bertarung menggunakan tubuh manusia yang sekarat melawan kami yang telah dibebaskan dari rasa sakit!"
SRRRT!
Rendy memutar pergelangan tangannya, mengarahkan sabetan belati obsidian kedua menuju leher Arka.
Di sisi lain platform batu, jurnalis wanita pengikut Kelompok Serigala Hitam menghambur maju untuk menerkam Pak Damar yang terkapar lemas. Jarinya yang berkuku tajam terangkat siap merobek tenggorokan saksi kunci tersebut.
"JANGAN SENTUH PAK DAMAR, BANGSAT!" teriak Sarah histeris.
Tanpa senjata api, Sarah memanfaatkan sisa keberaniannya. Ia menerjang maju dari samping, mengayunkan tas punggung berisi laptop militer dan peralatan peretasannya yang berat berlapis baja, menghantamkan sudut keras tas tersebut tepat ke wajah wanita itu!
BRUKKK!
Hantaman keras tas taktis Sarah mengenai pelipis sang assassin wanita, membuatnya terhuyung oleng ke samping. Sarah tidak memberikan ruang bernapas; ia mengunci leher wanita itu dari belakang menggunakan teknik chokehold taktis, menggulingkan tubuh mereka berdua jauh dari tepi wadah timah mendidih!
"Pak Damar! Merangkak ke pintu keluar sekarang!" jerit Sarah sambil menahan rontaan keras wanita pengikut kultus di bawahnya.
Sementara itu, pertempuran di dekat altar batu kian intensif dan berdarah.
TRANG! TRANG! PRANG!
Rendy menyerang bertubi-tubi dengan pola tebasan belati yang sangat cepat dan membabi buta. Setiap kali belati obsidiannya beradu dengan Kunci Tembaga, lapisan racun keunguan di mata pisau itu berusaha mengikis pendar merah keemasan Kunci Tembaga.
Arka terus menangkis sambil bertahan dalam posisi defensif. Keringat dingin bercampur darah kering menetes deras dari pelipisnya. Selang-selang memar di leher dan luka bakar di lengan kanannya yang terbungkus kasa melepaskan denyutan nyeri yang hampir membuat kesadarannya hilang.
BZZZZT!
Layar ponsel retak di lantai terus menyiarkan pertarungan mati-matian itu ke seluruh dunia.
[LIVE STREAMING: 8.900.000 JIWA PENONTON TERHUBUNG]