Uwiw... uwiw... uwiw...
Deru sirine belasan mobil kepolisian, ambulans, dan truk taktis Brimob meraung-raung memenuhi udara malam di sekitar kawasan Hotel Grand Sentosa. Hujan gerimis yang dingin membilas sisa-sisa asap hitam dan uap timah beracun yang membumbung keluar dari jendela-jendela pecah di lantai tujuh.
Di pelataran luar hotel yang telah dipasangi garis polisi melingkar, ratusan personil kepolisian berseragam lengkap menyisir dan mengamankan area. Namun, perhatian puluhan awak media dan ribuan warga yang memadati persimpangan jalan tidak tertuju pada runtuhan bangunan tua itu.
Perhatian mereka tertuju pada barikade samping, di mana Pak Damar jurnalis senior yang berhasil diselamatkan sedang dirawat oleh tim medis emergency di dalam ambulans. Di depan puluhan kamera TV yang menyala, Pak Damar memberikan kesaksian resminya yang mengguncang jagat politik dan hukum nasional, membeberkan nama-nama jajaran pejabat tingginya yang terlibat dalam Konsorsium Sembilan Pintu.
Sementara itu, lima ratus meter di balik kegelapan lorong gang pemukiman padat, mobil van hitam doff milik Sarah terparkir tersembunyi di dalam sebuah gudang bahan bangunan yang terkunci.
Tsssss...
Sarah menekan alkohol antiseptik menggunakan kapas steril ke luka tusuk di lengan kanan Arka.
"Tahan sebentar, Arka," gumam Sarah pelan. Wajahnya yang kelelahan tampak disinari oleh pendar biru redup dari tiga layar monitor laptop-nya yang kembali menyala di atas dasbor van.
"Nngghh..." Arka mengerang pelan, gigi-giginya bertaut rapat saat cairan antiseptik itu membersihkan sisa-sisa racun obsidian dan jaringan kulitnya yang melepuh. Namun, berkat pendar hangat dari Kunci Tembaga yang tergeletak di samping dadanya, darah di lukanya telah membeku dengan cepat, mencegah infeksi sistemik yang mematikan.
Setelah membalut lengan Arka dengan perban elastis yang baru, Sarah menyapu keringat di keningnya dan memutar posisi kursi kemudi menghadap konsol utama.
"Siaran langsungmu malam ini menembus 9,4 juta penonton bersamaan," ujar Sarah sambil menunjuk grafik statistik di layarnya yang melonjak gila-gilaan. "Pemerintah pusat baru saja mengumumkan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Khusus untuk mengusut seluruh anak perusahaan Pratama Media Group dan aset-aset Sentosa Holdings. Polisi tidak lagi mengejarmu sebagai buronan, Arka... publik dan media sekarang menganggapmu sebagai saksi kunci utama."
Arka menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi van, menatap ke langit-langit mobil yang berdebu.
"Publik cuma melihat dua titik yang sudah runtuh, Sarah," bisik Arka serak, suaranya dipenuhi rasa lelah yang amat mendalam. "Mereka enggak tahu kalau masih ada tujuh lokasi ritual lainnya yang sedang bersiap untuk membantai puluhan jiwa berikutnya."
Sarah mengangguk lambat. Jemarinya kembali menari cepat di atas papan ketik mekanis, memanggil data spasial dan peta geologi wilayah Jawa Tengah.
BZZZZT... PING!
Peta tiga dimensi pulau Jawa mekar di atas layar monitor utama. Pola bintang Nonagram yang sebelumnya hanya melingkupi wilayah Jabodetabek, kini membesar menembus lintang geografis pulau Jawa.
Dari sembilan titik koordinat merah tersebut:
· Titik 1 (RSJ Medika Mandiri Ritual B3): PADAM / NETRAL
· Titik 2 (Hotel Grand Sentosa Kamar 707): PADAM / NETRAL