VROOOOOOM!
Roda-roda tebal mobil van hitam doff meraung membelah pekatnya malam di ruas Jalan Tol Trans-Jawa KM 208. Hujan gerimis yang membilas kaca depan mobil disapu cepat oleh wiper yang bergerak tanpa henti. Di kiri dan kanan jalan, bayangan pepohonan dan tiang penerangan jalan melesat bagaikan bayangan hitam kaku di bawah kecepatan lebih dari seratus empat puluh kilometer per jam.
Di dalam kabin van, aroma minyak kayu putih, alkohol medis, dan pendar hijau-merah dari empat layar monitor laptop taktis Sarah mendominasi udara.
Arka duduk di kursi penumpang, bertelanjang dada dengan perban elastis baru yang melilit erat dada hingga lengan kanannya. Di pangkuannya, Kunci Tembaga berukir kepala serigala tergeletak membisu. Setiap kali mobil melompati sambungan jalan tol, pendar merah keemasan di dua bola mata ukiran kunci itu berdenyut lembut, seirama dengan detak jantung Arka yang kian bergemuruh.
"Sisa waktu kita tersisa empat belas jam lima puluh menit," ujar Sarah tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan tol yang lurus. Tangan kirinya sesekali menyesuaikan tombol pemicu booster mesin di konsol tengah. "Gue baru saja meretas server sistem pelacak GPS armada bus pariwisata Jawa Tengah."
Sarah mengetuk layar sentuh di samping kemudi, memunculkan lima titik sinyal berwarna biru terang yang sedang bergerak melintasi ruas tol wilayah Semarang menuju arah Selatan.
"Lima bus pariwisata yang membawa 240 siswa-siswi prestasi itu sudah berangkat dari lima kabupaten berbeda sejak jam delapan malam tadi," lanjut Sarah, suaranya diwarnai kepanikan yang tertahan. "Sesuai jadwal yang disusun oleh Yayasan Serigala Nusantara, seluruh rombongan bus akan tiba dan menginap di area perkemahan eksklusif di dalam kompleks Candi Sewu besok pagi pukul 09.00 WIB."
Arka memajukan tubuhnya, menatap lurus ke arah lima titik biru di layar monitor.
"Pengemudi bus dan para guru pendamping itu..." bisik Arka serak. "Apakah mereka sadar kalau mereka sedang membawa anak-anak itu menuju tempat pembantaian?"
"Nggak," jawab Sarah menggeleng tegas. "Berdasarkan dokumen digital yang gue peroleh dari hasil peretasan surel panitia, para guru dan pengemudi bus itu cuma tahu kalau ini adalah acara kemah kebudayaan dan penerimaan beasiswa nasional yang didanai penuh oleh konsorsium. Mereka dibuat percaya seratus persen bahwa ini adalah kesempatan emas buat anak-anak didik mereka."
Arka mengepalkan tangan kirinya sekuat tenaga hingga buku-buku jarinya memutih.
Inilah kelicikan paling mengerikan dari Kelompok Serigala Hitam: mereka tidak lagi menarik korban menggunakan paksaan atau penculikan kasar, melainkan menggunakan topeng kebaikan, Beasiswa Pendidikan, dan Pagelaran Budaya. Mereka memanfaatkan kepolosan anak-anak muda berprestasi dan harapan para orang tua untuk dijadikan komoditas tumbal di atas Altar Seribu Bayangan.
BZZZZT!