SRRRRRH...
Roda-roda van hitam milik Sarah akhirnya melambat, berhenti di balik rimbunnya pohon beringin tua yang menaungi area perkebunan tebu, tiga ratus meter di luar pagar batas luar Kompleks Candi Sewu.
Fajar menyingsing redup di balik kabut tebal lereng Gunung Merapi. Udara dingin khas pedesaan Klaten menyergap masuk saat Arka membuka sedikit kaca jendela. Namun, dinginnya pagi itu sama sekali tidak sanggup mengikis hawa anomali yang menggelayut pekat di atas candi.
Di atas langit Candi Sewu, gumpalan awan hitam memutar membentuk pusaran lambat berdiameter ratusan meter. Pendar cahaya keunguan yang tak kasatmata membiaskan kabut tipis di antara stupa-stupa batu Andesit.
Arka menyampirkan jaket hitamnya, menutupi perban yang melilit dada dan lengan kanannya. Matanya menatap lurus menembus pagar kawat batas cagar budaya.
"Gue sudah memetakan area," ujar Sarah sambil menyesuaikan lensa teropong malam di atas dasbor van. Layar monitornya memperlihatkan tangkapan kamera termal dari drone mikro yang melayang diam di udara.
Di layar, tampak lima bus pariwisata berukuran besar baru saja memasuki pelataran parkir khusus di Sektor Timur. Ratusan anak sekolah berpakaian seragam pramuka dan jaket kontingen berhamburan turun dengan wajah ceria. Mereka disambut oleh puluhan panitia berbaju batik bertulisan Yayasan Serigala Nusantara.
"Dua ratus empat puluh anak... tepat sesuai hitungan," bisik Sarah, suaranya tercekat. "Lihat para panitia itu, Arka. Di balik senyum ramah mereka, di kamera termal, suhu tubuh panitia-panitia itu jauh di bawah rata-rata manusia normal. Mereka semua adalah anggota kultus yang sudah disumpah darah."