Malam jatuh dengan cepat di atas tanah Jawa Tengah. Bulan purnama menggantung kusam di langit, tertutup oleh lapisan awan abu-abu yang pekat.
Di pelataran utama Candi Sewu, atmosfer festival tampak begitu meriah secara kasat mata. Ratusan lentera kertas berwarna merah-keemasan diterbangkan ke udara oleh 240 siswa yang berkumpul melingkar di pelataran Candi Induk. Suara gending jawa bernada lambat mengalun dari sistem pengeras suara panggung utama.
Namun, di balik keindahan lentera yang membumbung, asap tipis beraroma kemenyan hitam dan bunga kantil mulai merayap keluar dari sela-sela batu 240 Candi Perwara yang melingkari anak-anak tersebut.
Anak-anak itu mulai mengantuk, gerakan tubuh mereka kaku, mata mereka menatap kosong ke arah langit malam—terhipnotis oleh asap racun penenang yang keluar dari lentera-lentera festival.
Sementara itu, di lorong pembuangan air kuno (Jaladwara) lima meter di bawah fondasi Candi Induk, Arka merangkak menembus kegelapan batu basah.
Srrr... srrr...
Aroma tanah lembap, lumut tua, dan bau amis darah menyengat hidungnya. Kunci Tembaga di tangan kiri Arka memancarkan pendar merah keemasan yang terang, menerangi reliefs batu relief Kuno yang terukir di dinding lorong bawah tanah.
Relief itu tidak menggambarkan kisah ajaran Buddha, melainkan ukiran raksasa sosok makhluk berkepala serigala yang sedang memangku sembilan mahkota berdarah—simbol pendirian Konsorsium Sembilan Pintu ratusan tahun lalu.