Siren raung-meraung di kejauhan...
Lampu-lampu sorot dari belasan helikopter kepolisian dan armada taktis Brimob membilas permukaan batu Andesit Candi Sewu. Penangkapan Dharma Pratama tokoh media dan mantan pejabat publik paling berpengaruh di Indonesia menjadi ledakan berita terbesar dalam dekade ini.
Di seluruh layar televisi nasional, tagar #JejakKelam, #BongkarKonsorsium, dan #ArkaPahlawan mendominasi tren jagat digital tanpa tanding.
Namun, sebelum barikade wartawan dan tim negosiasi kepolisian sempat mengisolasi Arka untuk dimintai keterangan resmi di lokasi kejadian, Arka telah lebih dulu menyusup keluar menembus kegelapan perkebunan tebu.
CRASH... VROOOOM!
Pintu geser mobil van hitam doff milik Sarah tertutup rapat. Sarah langsung menginjak pedal gas, meluncurkan kendaraan mereka meninggalkan kawasan Candi Sewu sebelum kepungan jaringan intelijen menutupi seluruh akses jalan keluar Klaten.
Di dalam kabin van, bau asap kemenyan dari bawah tanah Candi Sewu masih melekat tipis di baju Arka. Ia duduk tersandar di kursi penumpang, membiarkan Sarah membersihkan luka-luka baru di dada dan bahu kirinya.
"Polda Jawa Tengah dan Mabes Polri baru saja menerbitkan surat perintah penyitaan seluruh aset Pratama Media Group dan Yayasan Serigala Nusantara," kata Sarah, matanya menatap pantulan tiga monitor yang berkedip cepat. "Dua ratus empat puluh siswa sudah dipastikan aman dan dipulangkan bersama orang tua mereka di bawah pengawalan ketat."
Arka memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. "Publik makin percaya... tapi musuh kita makin terdesak. Dan musuh yang terdesak adalah musuh yang paling berbahaya, Sarah."
BZZZZT!
Kunci Tembaga yang tergeletak di atas konsol tengah mendadak bergetar hebat. Pendar merah keemasan yang sebelumnya tenang kini berubah menjadi pancaran sinar biru kehitaman yang membeku dingin!