VROOOOOOM!
Roda-roda mobil van hitam doff milik Sarah meraung nyaring, menyusuri jalur lingkar luar Kudus-Semarang yang basah tersiram sisa hujan subuh. Uap dingin membubung tinggi dari permukaan aspal Tol Semarang-Solo, memantulkan pendar jingga dari lampu-lampu penerangan jalan yang melesat bagaikan garis-garis cahaya tak terputus.
Di dalam kabin mobil yang remang-remang, aroma antiseptik medis, salep luka bakar, dan uap es yang menguap dari Kunci Tembaga berbaur menjadi satu.
Arka duduk tegak di kursi penumpang. Lengan kanannya kini terbebas dari kasa tebal yang terbakar, digantikan oleh balutan perban taktis bertekanan tinggi yang dipasang oleh tim medis Polairud sebelum mereka meloloskan diri dari Jatiluhur. Di pangkuannya, Kunci Tembaga berukir kepala serigala tergeletak membisu.
Urat-urat tembaga pada permukaan kunci itu tidak lagi memancarkan warna biru es dingin Jatiluhur, melainkan mulai membiaskan pendar hijau zaitun bercampur merah marun sebuah reaksi anomali yang menandakan bahwa batas wilayah geologi lokasi kelima telah tercapai.
"Sisa waktu kita menuju penentuan Sektor Semarang tersisa tujuh jam empat puluh menit," panggil Sarah tanpa mengalihkan pandangannya dari roda kemudi. Wajahnya yang pucat karena kurang tidur ditegakkan oleh konsentrasi penuh. "Gue baru saja menembus jaringan kamera pengawas (CCTV) milik Dinas Perhubungan Kota Semarang dan Kepolisian Daerah Jawa Tengah."
Sarah mengetuk konsol layar sentuh di samping kemudi, memunculkan proyeksi peta digital Kota Semarang dalam bentuk model tiga dimensi (3D Mesh).
"Sektor kelima tidak berada di pinggiran kota atau waduk terisolasi," ujar Sarah, suaranya diwarnai ketegangan yang amat pekat. "Sektor kelima terletak tepat di pusat jantung kota: Bangunan Gedung Lawang Sewu."
Arka memajukan tubuhnya, menatap lurus ke arah bangunan kolonial bergaya Indische Het Nieuwe Bouwen yang terproyeksi di layar.
Gedung bersejarah peninggalan perusahaan kereta api Hindia Belanda (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) yang dibangun pada awal abad ke-20 itu berdiri megah dengan deretan pintu dan jendela lengkung raksasa yang tak terhitung jumlahnya.
"Lawang Sewu..." bisik Arka serak, mengetuk-ngetuk jarinya di atas permukaan Kunci Tembaga. "Bangunan dengan seribu pintu... tempat yang sempurna untuk menancapkan Pintu Kelima dari pola bintang Nonagram."
"Bukan cuma itu, Arka," potong Sarah cepat. Jemarinya menari di atas papan ketik mekanis, membuka dokumen rahasia berkode warna merah (Top Secret) yang berhasil diekstrak dari server pribadi milik Vera Adhitya sebelum wanita itu ditangkap.