Tuk... tuk... tuk...
Langkah kaki Arka menapak kaku di atas ubin semen basah yang terhampar di sepanjang lorong bawah tanah Gedung B Lawang Sewu.
Pukul 14.15 WIB. Hawa dingin yang lembap dan berbau karat besi, air limbah tua, serta uap minyak tanah menyeruak memenuhi udara. Di kiri dan kanan lorong sempit setinggi dua meter itu, berjejer jeruji-jeruji besi karatan yang mengurung sel-sel air peninggalan era pendudukan Jepang—tempat ratusan tahanan masa lalu direndam setengah badan hingga tewas secara perlahan.
Sarah melangkah tepat di belakang Arka, menggenggam pistol peredam suara di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang tablet kontrol peneretas sinyal.
"Sinyal seluler dan radio di lorong bawah tanah ini diputus total oleh lima pemancar jammer bermutu militer," panggil Sarah pelan, suaranya bergaung cemplang di antara dinding-dinding bata merah yang berlumut tebal. "Tapi antena satelit terenkripsi di mobil van kita di luar masih sanggup menembus transmisi siaran langsung Jejak Kelam."
Arka mengangkat tangan kirinya yang menggenggam Kunci Tembaga.
Pendar hijau marun dari kunci tersebut membiaskan pendar redup di atas permukaan air keruh yang menggenangi lantai sel hingga sebatas mata kaki mereka. Di dalam air keruh tersebut, bayangan ratusan pintu lengkung Lawang Sewu terpantul secara terbalik, menciptakan ilusi visual seolah-olah mereka sedang berjalan di atas permukaan kaca raksasa yang menembus dimensi bawah air.
BZZZZT!
[WAKTU TERSISA: 00:42:10]
[PROSES SINKRONISASI SERVER BANK NASIONAL: 72%]
"Taufan Soebroto berada di Ruang Utama Penjara Jongkok di ujung lorong Selatan," kata Sarah sambil menunjukkan pemetaan gelombang elektromagnetik di layarnya. "Dia menggunakan tiga unit server superkomputer portabel bernilai puluhan miliar yang terhubung langsung ke serat optik bawah tanah milik Bank Sentral."