Di dalam ruang kubah batu berukuran lima puluh meter persegi yang dipenuhi genangan air keruh setinggi lutut itu, pemandangan kontras antara teknologi canggih dan ritual kuno membentang di depan mata Arka dan Sarah.
Tiga rak server superkomputer berwarna hitam berkedip-kedip liar dalam pendar lampu biru, terhubung oleh ratusan kabel serat optik tebal yang menyusup ke dalam dinding semen bawah tanah. Di tengah ruangan, sebuah meja altar batu peninggalan kolonial berdiri megah, dikelilingi oleh belasan cetak biru obligasi keuangan kuno yang dilumuri darah hitam.
Di balik konsol superkomputer tersebut, berdiri Taufan Soebroto.
Pria berusia enam puluh tahunan itu tampil sangat elegan dalam balutan setelan jas kustom berwarna abu-abu mahal. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah token enkripsi keuangan berpendar merah yang terhubung ke port utama server.
Di sekeliling Taufan, enam orang penjaga berseragam taktis elit dengan senapan submesin (SMG) bersiap mengunci posisi Arka dan Sarah!
"Arka 'Jejak Kelam'..." kata Taufan Soebroto, suaranya sangat tenang, berwibawa, dan dipenuhi kesombongan khas penguasa finansial senior. "Kalian terlambat lima menit."
Taufan menunjuk ke arah layar monitor raksasa di atas server yang menampilkan bilah kemajuan (progress bar) transfer data keuangan nasional:
[PROSES EKSTRAKSI DANA REKENING INDUK BANK NASIONAL]
[NILAI DANA TERPROSES: Rp 185.000.000.000.000,-]
[KEMAJUAN ENKRIPSI: 92%]
"Dua ratus triliun rupiah ini..." kata Taufan dengan senyuman tipis yang sangat dingin, "...bukan sekadar uang. Ini adalah darah dan keringat seluruh rakyat Indonesia yang telah terkumpul selama puluhan tahun. Dan sore ini, seluruh dana ini akan berpindah secara permanen ke akun-akun suaka pajak milik Konsorsium Sembilan Pintu di Swiss dan Cayman Islands."
"Uang itu milik rakyat, bangsat!" gertak Arka, maju satu langkah di dalam air keruh dengan Kunci Tembaga terangkat tinggi. "Kamu memicu krisis ekonomi nasional cuma demi melanggengkan takhta iblis kalian!"
Taufan tertawa terkekeh pelan. "Rakyat tidak pernah tahu bagaimana cara mengelola uang mereka sendiri, Arka. Kami yang menciptakan sistem ini, dan kami yang berhak mengambilnya kembali kapan saja kami mau."
Taufan menekan tombol token enkripsi di tangannya.
BZZZZT!
[WAKTU TERSISA: 00:03:15]
[KEMAJUAN ENKRIPSI: 96%]
"BUNUH MEREKA!" perintah Taufan dingin kepada enam pengawalnya.
DOR! DOR! DOR! DOR!
Dua pengawal melepas tembakan senapan submesin secara membabi buta!