VROOOOOOM!
Roda-roda van hitam doff milik Sarah kembali meluncur menerjang derasnya hujan malam di ruas Tol Pejagan-Pemalang. Cipratan air keruh membumbung tinggi dihantam bodi baja kendaraan taktis tersebut, memantulkan pendar merah dari lampu belakang yang menyala kaku di tengah pekatnya kegelapan Jalur Pantura.
Di dalam kabin belakang, bau hangus komponen elektronik dari superkomputer Taufan Soebroto di Lawang Sewu masih menyengat lembut, beradu kaku dengan uap antiseptik medis. Arka duduk tersandar di bangku lipat baja, membiarkan Sarah membalutkan perban elastis baru di sekeliling pinggang dan bahu kirinya yang memar kebiruan.
Di paha Arka, Kunci Tembaga berukir kepala serigala bergetar perlahan. Urat-urat tembaga kuno itu tidak lagi memancarkan warna hijau marun Lawang Sewu, melainkan mulai membiaskan pendar keunguan yang pekat bercampur warna abu-abu obsidian—sebuah tanda bahwa frekuensi magnetik dari situs bersejarah purba telah mulai meretas aura Kunci Tembaga.
"Sisa waktu kita menuju penentuan Sektor Keenam tersisa enam jam lima belas menit," panggil Sarah tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan tol yang licin dan bergelombang. Jemarinya di atas roda kemudi menggenggam erat, menahan rasa lelah masif yang kian menumpuk di balik kelopak matanya. "Gue baru saja selesai mengekstrak dokumen terenkripsi dari harddisk pribadi Taufan Soebroto yang berhasil kita selamatkan sebelum servernya terbakar."
Sarah menyentuh tombol di konsol tengah, memunculkan peta topografi tiga dimensi kawasan Jawa Barat di layar monitor utama.
Di tengah pegunungan rumpun Cianjur Selatan—berdiri di ketinggian 885 meter di atas permukaan laut—situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara, Situs Gunung Padang, berkedip-kedip liar dalam pendar warna ungu kehitaman bertuliskan indikator ancaman katastrofe geologi tingkat tertinggi.
"Titik keenam..." bisik Arka, matanya menatap tajam ke arah teras-teras batu Andesit basaltik yang tersusun melingkar di puncak bukit tersebut. "Situs Megalitikum Gunung Padang."
"Situs purba yang diperkirakan berusia lebih dari sepuluh ribu tahun sebelum Masehi," panggil Sarah dengan suara yang diwarnai kecemasan mendalam. "Secara arkeologi umum, tempat ini dianggap sebagai punden berundak peninggalan kebudayaan megalitikum. Tapi dokumen rahasia Konsorsium menunjukkan kenyataan yang jauh lebih mengerikan, Arka."
Sarah memperbesar tampilan pemindaian radar menembus tanah (Ground Penetrating Radar / GPR) lima puluh meter di bawah lima tingkatan teras batu Gunung Padang.
Di layar, terlihat struktur rongga udara raksasa berbentuk punden berundak terbalik yang dipenuhi oleh ribuan pilar batu columnar jointing. Di pusat struktur bawah tanah tersebut, terdapat sebuah Kamar Magma Dormant yang terhubung langsung dengan jaringan sesar tektonik aktif paling berbahaya di Jawa Barat: Sesar Cimandiri!
"Dosa Katastrofe Geofisika..." Arka mengepalkan tangan kirinya, merasakan hawa dingin yang menjalar di punggungnya. "Apa yang sedang disiapkan oleh Konsorsium di dalam struktur purba itu, Sarah?"
"Di tahun 1914, saat peneliti Belanda pertama kali mencatat keberadaan situs ini, Konsorsium sudah menemukan fakta bahwa pilar-pilar batu columnar jointing di Gunung Padang memiliki sifat piezoelektrik alami yang sangat tinggi," terang Sarah dengan raut wajah tegang. "Batu-batu itu sanggup memancarkan dan memperkuat gelombang frekuensi audio-magnetik hingga ribuan kali lipat."