Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #32

BENTENG BARA GUNUNG PADANG

DUUUMMM! DUUUMMM! DUUUMMM!

Dentuman getaran frekuensi rendah merambat dari perut bumi, mengguncang pijakan lereng Bukit Gunung Padang dalam interval yang semakin rapat. Ujung-ujung pilar batu columnar jointing di sepanjang situs purba itu mulai berderit, memancarkan gelombang mikro-seismik yang membuat genangan air hujan di permukaan tanah meloncat-loncat liar.

VROOOOM!

Mobil van hitam taktis milik Sarah menerobos barikade hutan pinus di kaki bukit, berhenti mendadak lima ratus meter di luar perimeter terluar kawasan Situs Gunung Padang. Lampu sorot kargo kendaraan itu dimatikan seketika, menyelimuti mereka dalam kegelapan pekat lereng Cianjur Selatan yang disiram hujan angin.

"Kita sampai di zona karantina," bisik Sarah sembari mencabut senapan pemancar gelombang elektromagnetik (EM-Pulse Rifle) buatan sendiri dari kompartemen bawah dasbor. "Sinyal GPS-ku terhalang total oleh kubah jammer militer tingkat tinggi. Hendra Wijaya benar-benar menutup akses Bukit Gunung Padang dari dunia luar."

Arka melangkah keluar dari kabin van. Hawa dingin menembus jaket kulitnya yang terkoyak, namun tubuhnya memancarkan hangat luar biasa. Kunci Tembaga di genggaman tangan kirinya tidak lagi sekadar bergetar—urat-urat tembaga kuno itu kini menyala keunguan terang, bersinkronisasi sempurna dengan getaran gelombang piezoelektrik yang memancar dari ribuan batu basaltik di puncak bukit.

KANG! KANG! KANG!

Suara tembakan senapan serbu berperedam meletus dari balik pepohonan! Peluru-peluru berkaliber 5,56 mm menancap di bodi baja van, memercikkan bunga api di tengah kegelapan malam.

"Penyusup di perimeter Selatan! Habisi mereka!" raung sebuah suara berat melalui pengeras suara helm taktis.

Delapan prajurit tentara bayaran Eksoset Keamanan berbaju zirah serba hitam dan dilengkapi kacamata night-vision keluar dari balik barikade kawat duri. Senapan serbu otomatis mereka terarah kaku ke posisi Arka dan Sarah.

"Biar gue yang urus pelumpuhan peralatan sinyal mereka!" jerit Sarah. Dia menembakkan EM-Pulse Rifle ke arah menara pemancar jammer sementara di pinggir jalan.

BZZZZZZT! BRRAAAAK!

Ledakan gelombang elektromagnetik biru menghantam menara tersebut. Seketika itu juga, kubah pemblokir sinyal runtuh, membuka kembali jalur transmisi satelit kanal Jejak Kelam ke seluruh pelosok negeri!

[SIARAN LANGSUNG KANAL 'JEJAK KELAM' BERLANJUT]

[PERTEMPURAN KAKI BUKIT: PERIMETER GUNUNG PADANG DIBOBOL]

Lihat selengkapnya