Siaran Khusus Kamar 304

kholid alamsyah
Chapter #33

DENTUMAN LINGKARAN PURBA

BZZZZZ-THOOM!

Roda-roda gigi mekanis enam Generator Frekuensi Seismik raksasa meraung kian tinggi, memuntahkan dentuman audio-ultra bernada miring yang menyayat generator dan menyiksa gendang telinga. Permukaan tanah batu di Teras Kelima Situs Gunung Padang bergetar hebat. Retakan-retakan tajam mulai menjalar di sepanjang ikatan pilar basaltik, sementara debu purba dan embun hujan beterbangan secara vertikal akibat guncangan gelombang mikro-seismik yang teramat dahsyat.

"Tinggal lima menit menuju resonansi penuh Kamar Magma!" jerit Sarah dari balik pilar batu, jarinya menari liar di atas keyboard komputer portabel sembari mengarahkan pemancar EM-Pulse ke kabel daya generator terdekat. "Arka! Kabel daya utama generator dilindungi perisai medan magnetik piezoelektrik buatan! Tembakan gelombang elektromagnetik biasa tidak bisa menembus perisainya!"

Hendra Wijaya berdiri tegak di tengah altar utama, terkekeh kejam sembari menggenggam erat gagang kontrol manual di tangannya. Replika Kunci Tembaga palsu di depannya menyala keperakan liar, bertindak bagai pemantik api yang terus menyedot energi magnetik bukit megalitik tersebut dan menyalurkannya langsung ke perut Sesar Cimandiri.

"Situs ini adalah penguat frekuensi alami ciptaan leluhur yang tak tertandingi!" panggil Hendra Wijaya dengan suara berwibawa namun penuh keangkuhan abadi. "Teknologi manusia modern yang kau banggakan tak akan pernah bisa menghentikan arus resonansi ini, Sarah! Dan kau, Arka... Kunci Tembaga milikmu hanya akan menjadi saksi bisu kehancuran kawasan ini!"

RATATATATAT!

Sisa empat prajurit elit tentara bayaran Eksoset Keamanan membuka tembakan membabi buta ke arah Arka dari dua sisi flanking. Peluru-peluru panas membelah hujan malam, menghancurkan tepian batu Andesit kuno di sekeliling punden berundak.

Arka tidak tinggal diam. Dengan refleks bagai kilat, dia berguling di atas lantai batu yang basah, memanfaatkan pilar-pilar columnar jointing sebagai perlindungan alami. Kunci Tembaga asli di tangan kirinya kini membakar kulit telapak tangannya sendiri—pendar keunguan pekat itu telah berubah menjadi pijar emas obsidian yang memancar terang menembus kegelapan malam.

VRRRRR-THOOM!

Arka menghentakkan kaki kirinya ke fondasi batu Teras Kelima, mengangkat Kunci Tembaga lurus ke udara. Energi spiritual dari puluhan juta rakyat Indonesia yang menyatu dalam siaran langsung kanal Jejak Kelam seakan tersedot dan memusat ke puncak ukiran kepala serigala.

[SIARAN LANGSUNG KANAL 'JEJAK KELAM' BERLANJUT]

[PERTEMPURAN PUNCAK: CRITICAL COUNTDOWN GUNUNG PADANG]

[JUMLAH PENONTON TERHUBUNG: 46.500.000 JIWA]

Angka penonton siaran langsung melesat menembus rekor mutlak empat puluh enam juta lima ratus ribu jiwa terhubung. Seluruh penjuru nusantara menahan napas dalam kecemasan massal yang membakar, menyatukan tekad dan doa melalui ribuan pesan yang bergerak bagai kilat:

Lihat selengkapnya