KLAK-KLAK-THUUM!
Roda-roda pemicu mekanis berbentuk lingkaran kepala serigala di Pintu Gerbang Bunker Tabut Hitam berputar hebat secara berantai. Pendar Emas Purba dari Kunci Tembaga menembus tiap celah baja raksasa setebal dua meter tersebut, melelehkan kunci solenoid elektromagnetik dan membuka gerbang utama dengan benturan hembusan uap es nitrogen yang menderu keras.
SZZZZZ-BRAK!
Dua bilah gerbang baja obsidian cair itu terbuka lebar-lebar, memperlihatkan benteng tersembunyi Konsorsium.
Di balik gerbang, terbentang sebuah ruangan bundar raksasa seluas lapangan sepak bola yang menyerupai katedral futuristik bawah tanah. Dinding-dindingnya dilapisi ribuan rak server raksasa berpendar biru neon yang mendingin di bawah siraman uap nitrogen cair secara konstan.
Di dinding utama ruangan, puluhan layar monitor raksasa menampilkan Master Ledger—buku besar rahasia yang mencatat setiap alur dana haram, pencucian uang internasional, suap politik, hingga daftar puluhan pejabat tinggi yang berada di bawah ketiak Konsorsium selama empat dekade terakhir.
Di pusat ruangan, berdiri sebuah panggung kaca mengambang yang dilindungi medan barikade transparan. Dharmawan Soerjo berdiri di sana dengan setelan jas hitam buatan penjahit kelas dunia. Di tangan kanannya, sebuah remot kontrol berlayar OLED merah menampilkan hitungan mundur peledak thermite: delapan belas menit tersisa.
"Kau berhasil menembus gerbang utamaku, Arka..." panggil Dharmawan Soerjo, suaranya terdengar jernih dan tenang tanpa sedikit pun nada panik, memantul menggelegar di dinding katedral baja. "Tapi kau hanya melangkah menuju garis takdir yang sudah kuprediksi sejak awal."
Arka melangkah maju menembus hamparan kabut nitrogen dingin, Kunci Tembaga di tangan kirinya membakar kegelapan dengan pijar emas murni yang kian membara. Sarah berjalan sigap di sampingnya, mengarahkan pemindai frekuensi gelombang untuk mengunci posisi server induk Tabut Hitam.
"Empat dekade kau mengendalikan negeri ini dari bawah tanah, Dharmawan," ucap Arka, suaranya bergetar menahan gejolak amarah yang mendalam. "Kau memeras darah rakyat, mengadu domba anak bangsa, dan mengorbankan ribuan nyawa demi membangun imperium harammu!"
Dharmawan terkekeh pelan, melangkah perlahan di tepi panggung kaca sembari menatap Arka dengan tatapan mata yang teramat dingin.